Technology from tomorrow

Outstanding Services ServicesServices

Lorem Ipsum is simply dummy of printing and typesetting and industry. Lorem Ipsum been.

Well Documented

Lorem Ipsum is simply dummy of printing and typesetting and industry. Lorem Ipsum been.

Simple To Use

Lorem Ipsum is simply dummy of printing and typesetting and industry. Lorem Ipsum been.

High Performance

Lorem Ipsum is simply dummy of printing and typesetting and industry. Lorem Ipsum been.

Technology from tomorrow

Outstanding Features FeaturesFeatures

Lorem Ipsum is simply dummy of printing and typesetting and industry. Lorem Ipsum been.

Business Growth

Many variations of at Lorem Ipsum but the majority have suffered. Lorem Ipsum the majority suffered.

Business Sustainability

Many variations of at Lorem Ipsum but the majority have suffered. Lorem Ipsum the majority suffered.

Business Performance

Many variations of at Lorem Ipsum but the majority have suffered. Lorem Ipsum the majority suffered.

Business Organization

Many variations of at Lorem Ipsum but the majority have suffered. Lorem Ipsum the majority suffered.

Dedicated Teams

Many variations of at Lorem Ipsum but the majority have suffered. Lorem Ipsum the majority suffered.

24X7 support

Many variations of at Lorem Ipsum but the majority have suffered. Lorem Ipsum the majority suffered.

Islam dan Demokrasi: Landasan Al Quran dalam Moderasi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Indonesia

Oleh: Fahrudin Alwi1

Islam dan demokrasi masih menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat Indonesia, khususnya Muslim. Diskusi mengenai demokrasi semakin hangat ketika mendekati momentum pemilihan umum, baik di pusat maupun daerah, baik legislatif maupun eksekutif. Demokrasi masih dipertanyakan “kehalalannya” oleh sebagian kelompok, sehingga menimbulkan gelombang “golput” yang cukup tinggi dalam kalangan Islam. Alasan utama yang disampaikan kelompok tersebut dalam pelarangan masuknya Islam dalam dunia politik adalah berkaitan dengan penafsiran akan teologis: bahwa Islam lahir dengan konsep pemerintahan Islam sebagaimana Nabi, para Sahabat, dan Kekhalifahan dalam Islam. Tidak ada nash dan dalil yang menjelaskan bahwa demokrasi adalah ajaran Islam. Ia adalah produk barat yang bisa sangat merusak ketika digunakan oleh Muslim. Demokrasi diciptakan barat untuk menjadikan negeri Muslim terpecah belah dalam faksi-faksi dan partai dengan menjadikan voting sebagai sebuah esensi dari demokrasi itu sendiri. Alasan pendukung dari kelompok yang melarang masuknya Islam dalam dunia demokrasi adalah tidak adanya kesejahteraan yang merata dalam demokrasi. Kekayaan akan mengalir dan berputar pada kalangan elit politik partai dan faksi. Sementara orang lemah akan tetap menjadi mustad’afin (red-orang lemah) karena praktik politik uang dan kronisme yang tetap mengalir deras dalam demokrasi.

Sikap pandangan pertama ini tentu tidak memberi kemaslahatan yang banyak karena pemimpin akan tetap terpilih meski sebagian umat Islam mengambil sikap untuk “golput”. Artinya, dalam konteks ini, justru umat Islam yang nantinya dirugikan karena mereka yang berpartisipasi dalam demokrasi adalah orang-orang yang tidak memiliki keberpihakan pada Islam. Dalam pandangan lain yang lebih luas, Islam adalah sebuah pandangan hidup, way of life, yang di dalamnya mencakup seluruh kehidupan manusia, mulai ekonomi, sosial, dan dalam konteks ini termasuk kehidupan politik. Maka memisahkan Islam dari kehidupan politik adalah bentuk sekularisasi sebagaimana barat memisahkan agama dari kehidupan bernegara. Pandangan kedua ini ditambahkan bahwa kerangka politik harus dilingkupi oleh semangat dan kerangka sistem nilai dan akhlak Islami. Islam tidak mewariskan dan mewajibkan penerusnya untuk menggunakan “konsep Khilafah” sebagaimana tidak adanya dalil dan nash khusus berupa hadits dan sumber lainnya akan kewajiban ini. Artinya, Islam bisa menyesuaikan kondisi zaman dengan tetap memegang akhlak, nilai-nilai, moral, dan etis Islam dalam kehidupan berbangsa.

Islam memang tidak memiliki preferensi politik tertentu, namun Islam memiliki pedoman kehidupan bernegara dengan adanya musyawarah –syuro-, konsep amanah, keadilan, dan seterusnya. Sehingga dengan mencoba mengimplementasikan pedoman tersebut, umat Islam akan meminimalisasi mudharat yang mungkin muncul dari demokrasi. Islam sendiri lahir dengan tanpa ada sekularisasi dan pemisahan antara kehidupan beragama dengan kehidupan

sehari-hari termasuk berpolitik sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun1 tentang pentingnya kehidupan yang komprehensif dan menyeluruh. Ibnu Khaldun menyampaikan bahwa Islam adalah sebuah agama yang menjadi landasan yang sangat kuat dan penting dalam kehidupan politik, terutama sebagai dasar yang mampu memperkokoh interpretasi ashabiyah atau solidaritas kelompok yang lebih luas.2

Pendapat akan maslahat mudharat menjadi pertimbangan para ulama kontemporer seperti Yusuf Al-Qardhawi3 dalam memaknai demokrasi. Apabila umat Islam tidak berkontribusi dalam demokrasi, maka negara akan diisi oleh pemimpin yang tidak diketahui keberpihakannya.4 Di dalam Al Quran sendiri terdapat banyak ayat yang terkait dengan pedoman dan prinsip utama demokrasi, di antaranya adalah ayat yang berkaitan dengan musyawarah: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159). Ayat lain yang berkaitan dengan demokrasi terutama keadilan yakni surat Al Maidah ayat 8, Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Selain dua ayat di atas, ada juga penjelasan tentang kebebasan berpendapat dengan lingkup ketaatan sebagaimana terdapat pada surat An Nisa’ ayat 59, Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Jika dilihat basis empiriknya, menurut Aswab Mahasin5, agama dan demokrasi adalah suatu hal yang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari pergumulan pemikiran manusia. Dengan demikian agama memiliki dialeketikanya sendiri. Namun begitu menurut Mahasin, tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi sebagaimana dijelaskan di depan, bahwa elemen-elemen pokok demokrasi dalam perspektif

Islam meliputi musyawarat, keadilan, kebebasan berpendapat, dan lain sebagainya.

Dalam ruang lingkup berbangsa dan bernegara, moderasi menjadi sebuah titik tengah antara kedua pendapat tersebut. Juga titik tengah antara pemeluk Islam dengan keyakinan lain dalam berdemokrasi. Hal ini selaras dengan sebuah pemaknaan bahwa moderasi adalah upaya intermediasi antar kelompok yang berbeda agar terjadi saling memahami dan dapat membangun kepercayaan satu sama lain. Intermediasi ini dilakukan dengan membuka dialog dan bersikap terbuka dengan tetap memiliki prinsip pada kebenaran yang hakiki.1 Bagaimana kita memegang teguh sebuah prinsip haruslah ditunjukkan dengan sebuah sikap yang bersahabat dan kemauan untk berdialog sehingga tidak menimbulkan friksi dan kekakuan dengan pihak lain. Maka dengan demikian, moderasi kita artikan sebagai suatu sikap yang dapat selalu kita jadikan acuan dasar untuk menyikapi dan memaknai berbagai situasi yang terjadi.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah ayat akan moderasi dan toleransi dalam berdemokrasi: Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al Baqarah: 256). Islam mengabarkan bahwa telah benderanglah kebenaran dan kesalahan, dan tidak ada paksaan atas sebuah pilihan termasuk dalam konteks ini adalah pilihan dalam demokrasi. Sungguh ketika ayat ini dimaknai lebih dalam, niscaya masing-masing umat Islam akan menghormati dan bertolerani akan pilihan orang lain dengan tetap mengedepankan ukhuwah, persatuan Indonesia, serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

  1. Fahrudin Alwi, mahasiswa pascasarjana di Sekolah Kajian Stratejik Global (SKSG) Universitas Indonesia dengan konsentrasi Islamic Studies. Saat ini aktif sebagai peneliti di InMind Institute (Inisiatif Moderasi Indonesia)
  2. Abu Zayd ‘Abd ar-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami, lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H/27 Mei 1332 M. Dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini, ahli politik Islam, dan bapak Ekonomi Islam (karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya). Salah satu karya fenomenal yang terkenal adalah kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pendahuluan dari kitab Al-‘Ibar.

  3. Abdul Muta’ali, Membangun Negara Kuat: Kontribusi Islam terhadap Pemikiran Politik Barat, (Depok: UI Press, 2013), hlm. 6

  4. Dr. Yusuf al-Qaradawi (lahir di Shafth Turaab, Kairo, Mesir, 9 September 1926). Dikenal sebagai cendekiawan Muslim dengan berbagai karya kontemporer.

  5. Sigit Ridwan Abdullah, Tujuan Negara dalam Islam Menurut Yusuf Al Qaradhawi. IKPM Gontor, 2017.

  6. Aswab Mahasin dalam Imam Aziz, et.al., (ed). Agama, Demokrasi dan Keadilan, Jakarta, Gramedia. 1999, hal. 30.

  7. Hardiyanto Widyo, Inisiatif Moderasi Indonesia, Jakarta 28 September 2020. InMind.id

Milad ke Dua Puluh Salimah Gelar Konser Lagu Anak

Idreamradio.id – Jakarta – Di akhir rangkaian acara Muktamar V Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah), yang juga syukuran Milad ke dua puluh, Salimah menggelar konser kemanusiaan dengan tema ‘berjuta nada anak Indonesia’, Ahad 8/4/2020 di hotel Millennium Jakarta.
Etty Praktiknyowati yang baru ditetapkan sebagai ketua umum Salimah menjelaskan, “Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan Salimah atas minimnya lagu yang sesuai dengan usia dan karakter anak. Dimulai dengan Salimah membuat lomba lagu anak pada acara Silaturahmi Koperasi Salimah tahun 2017 lalu dan terpilihlah 7 lagu sebagai pemenangnya.”
Lagu perdana yang diluncurkan dari lagu anak ini adalah lagu ‘Ayo Bermain’ yang dinyanyikan oleh Salimah Kids Voice. Lagu ini merupakan lagu gubahan dari ibu Kamelia mewakili PD Samarinda Kalimantan Timur. Video klip lagu ini sudah ditayangkan di youtube Persaudaraan Muslimah. Dan sudah mendapat Haki melalui Kementerian Koperasi.
“Dalam video klip ini, Salimah melibatkan anak-anak pengurus dan anggota dalam mensukseskan Konser Lagu Anak. Berharap bisa menumbuhkan rasa memiliki pada anak-anak kepada lagu-lagu yg dipersembahkan buat mereka, sesuai kebutuhan masa perkembangan usia anak. Anak-anak bisa menjadi pihak yg turut mensosialisasikan kepada teman-teman sendiri,” ujar bu Faizah ketua Umum Salimah periode 2015 – 2020.

Fatih, salah satu anak yang turut menyanyikan lagu ayo bermain mengungkapkan perasaannya, “senang dan bangga ada di youtube, bisa tampil di Konser Lagu Anak. Jadi lebih percaya diri dan lebih berani tampil,” katanya.

Dalam rangka launching lagu ini, Salimah mengadakan konser yang berbentuk drama musikal. “Tujuannya menggugah masyarakat untuk semakin peduli akan kebutuhan anak, karena anak belajar salah satunya dari bermain dan bernyanyi,” ujar Fidi salah satu penanggung jawab acara konser ini. Acara ini dihadiri ratusan praktisi pendidikan, orang tua dan anak-anak.
Acara drama musikal ini akan mengajak orangtua memahami isi hati anak sekaligus mengajarkan anak untuk berempati dengan sesama. Turut memeriahkan acara ini, artis muda Alifa dan Denias KDI serta Green Voices.
Penyelenggaraan konser lagu anak yang bermisi kemanusiaan ini, Salimah bekerja sama dengan ACT dan MRI. Selain peduli pada perkembangan anak, acara ini juga ingin mengajak masyarakat ikut peduli pada bencana yang terjadi disekitar kita. Diharapkan, masyarakat sebagai mitra pemerintah dapat bahu membahu menolong sesama yg membutuhkan bantuan.

Muktamar V Salimah Tetapkan Etty Praktiknyowati sebagai Pemimpin Baru

idreamradio.id, Jakarta – Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah) merupakan ormas perempuan, bulan Maret ini mencapai usia 20 tahun, menyelenggarakan Muktamar ke lima. Sejak Jumat hingga Ahad 6 – 8 Maret 2020 di Hotel Millennium Jakarta.
Acara tertinggi ormas yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Dalam momen ini, membahas AD/ART, GBHO dan memilih ketua untuk lima tahun mendatang.

Pemilihan yang dilaksanakan Sabtu, 7/3/2020 telah metetapkan Ir. Etty Praktiknyowati sebagai Ketua Umum, Sinta Santi Usmandin, Lc sebagai Ketua satu dan Reny Anggrayni S.T sebagai Ketua dua. Dengan visi organisasi ‘Menjadi Ormas Pelopor dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan, Anak dan Keluarga Indonesia’.

Dalam pidato perdananya, Etty yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Departemen Ekonomi dan Dirut PT Salimah Prakarsa Cemerlang menyampaikan, “ini ada amanah. Sebagaimana dalam Qur’an Surat Ibrahim 24 hingga 25,
أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,

تُؤۡتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ

(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.

Ini adalah sebuah proses, kami dipilih dan akan berusaha juga berharap ini adalah fase buah-buah yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini juga merupakan bentuk rasa syukur, Allah mengabulkan hajat saya untuk selalu dikumpulkan bersama orang-orang shalih,” tuturnya.

Nurul Hidayati, sebagai Sekretaris Dewan Pertimbangan Salimah Pusat (DPSP) berpesan, “jangan sia-siakan apa yang ada di hadapan kita, sebagaimana yang digambarkan dalam Hadits Rasulullah SAW, ‘ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang (HR Bukhari Muslim).” Nurul juga menjelaskan mengenai lima tingkat kepemimpinan. Digambarkan bagaimana pemimpin harus bisa berkembang. Dari yang awalnya karena posisi di mana orang mengikutinya karena harus, menjadi orang mengikuti karena mereka mau, hingga akhirnya muncul pemimpin yg mendapatkan penghargaan karena memang dia pantas mendapatkannya. Pemimpin yang menginspirasi.

Dalam serah terima kepemimpinan, Siti Faizah berpesan, “selamat kepada pemimpin baru yang mendapat amanah dalam muktamar ini. Lanjutkan estafeta dakwah Salimah dengan pengurus yang solid untuk mewujudkan Salimah menjadi pelopor kebaikan,” ujarnya.

Semoga periode ke lima dengan pemimpin baru dan tim yang solid, Salimah bisa menjadi organisasi yang dapat memberi contoh, dengan program yang kreatif dan inovatif sehingga bisa menjadi pelopor dan semakin memberi manfaat untuk perempuan, anak dan keluarga Indonesia.

We work in partnership with all the major technology solutions

There are many variations of passages of lorem Ipsum available, but the majority