Awali Dakwah dengan Kasih Sayang

I-Dream RadioOase — Terhadap semuanya itu kita harus tetap tenang. Berbaik sangka kepada Allah, bahwa apa pun takdir dari-Nya pasti baik. Karena kalau tauhid kita kokoh, maka sebetulnya tidak akan merasa terhina atas hinaan siapa pun.

Ini hanya sebuah ilustrasi. Umpamakan saudara memegang barang yang sangat berharga, seperti intan. Intan yang asli, bukan imitasi maupun nama orang. Saudara yakin intan itu benar-benar bagus dan berharga. Lalu, ada orang yang menghina, “Eh, itu terasi!”

Kalau sudah mengetahui dan yakin yang dipegang adalah intan, maka perlukah kita tersinggung dan marah atas hinaannya? Tidak! Karena yang dia ketahui baru terasi. Apalagi malah menyulut petasan di mulutnya. Kapan dia bisa mengetahui intan, jika dia sudah meledak? Bagusnya kita dekati dia dengan baik, dan tunjukkan betapa sangat berharganya intan.

Hal serupa, kita mengetahui adanya fenomena islamofobia di sebagian masyarakat yang belum memahami Islam. Di beberapa negara, Islam dianggap agama yang mengerikan dan penuh kekerasan. Kata “teroris” ditujukan kepada Islam. Saat ada bom di gereja, Islam pun langsung menjadi alamat.

Terhadap semuanya itu kita harus tetap tenang. Berbaik sangka kepada Allah, bahwa apa pun takdir dari-Nya pasti baik. Karena kalau tauhid kita kokoh, maka sebetulnya tidak akan merasa terhina atas hinaan siapa pun. Tidak merasa terpojok disudutkan siapa pun dan tidak merasa rendah diremehkan siapa pun.

Dakwah harus benar-benar diawali dengan kasih sayang. Kita ingat bagaimana kisah seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan. Ketika memberi minum anjing, tidak seorang pun melihatnya, dan pelacur itu juga tidak meminta imbalan dari anjing. Mungkin tetangganya masih menganggap dia pelacur yang terkutuk. Tapi Allah Mahamelihat dan Allah mengampuni dosa-dosanya.

Juga kisah seorang yang telah membunuh 99 orang dan mau belajar bertobat. Lalu, ada seseorang yang bukannya mengajari, tapi malah mengutuknya dengan mengatakan Allah tidak akan menerima tobatnya. Maka jadilah pengutuknya itu menjadi korban yang ke 100. Akhirnya si pembunuh bertemu seorang alim yang bersedia mengajarinya bertobat. Tidak lama kemudian ajal si pembunuh datang. Ternyata Allah menghapus dosanya, karena Allah Mahatahu segalanya. Allah Mahapengampun.

Kalau begitu, bagaimana mungkin kita mau memvonis setiap orang, sedangkan Allah lebih sayang kepada makhluk-Nya? Saya berharap kalau kita mau terjun berdakwah, awalilah dengan kasih sayang. Kita berupaya agar orang lain selamat dan bahagia, bukan sebaliknya. Betapa pun seseorang menyakiti, tetaplah jauhi hidup yang penuh kebencian. Kita hanya membenci apa yang dibenci oleh Allah.

Ketika melihat seseorang berlumur dosa, maka kita berdoa dan harapkan dia bisa tobat. Seperti jangan mencaci orang yang tubuhnya penuh tato. Nanti kita bisa dipukuli, dan malah jadi ikut memiliki tato lebam-lebam. Lebih baik kita doakan. Juga terhadap orang yang tidak atau belum beragama Islam. Coba bayangkan kalau kita lahir di keluarganya, kemungkinannya kita juga tidak atau belum Islam. Doakanlah dia supaya mendapat hidayah. Kita berlomba-lomba dengan akhlak yang baik.

Saudaraku. Jadikanlah dakwah sebagai sesuatu yang membahagiakan. Yakni mengawalinya dengan kerinduan terhadap keselamatan dan kebahagiaan orang lain. Perumpamaannya, dakwah itu seperti upaya membebaskan anak yang diculik. Kita berusaha membebaskan, bukan memusuhinya. Karena “Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. al-Isra’ [17]: 53)

KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

 

Berbaik Sangka kepada Allah

I-Dream RadioOase — Ujian yang Allah berikan tidak lain hanyalah untuk kebaikan hamba-Nya. Jangan resah dengan ujian yang menimpa, dan jangan mengeluh dengan kegetiran yang bertubi-tubi.

Saudaraku, dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang terbebas dari ujian. Baik itu yang kaya maupun miskin, semuanya pasti  pernah merasakan. Seperti ujian bencana alam yang dialami saudara-saudara kita di beberapa daerah di Indonesia. Semua terjadi di luar kemampuan manusia.

Sikap berbaik sangka atas qadha dan qadar Allah adalah sikap yang harus dimiliki oleh orang beriman.

Pertama, yakin ujian yang terjadi semua atas kehendak Allah. Itu suatu tanda Allah yang berhak untuk membangun, meluluhlantakan semua ciptaan-Nya.

Kedua, yakin Allah Mahasuci dari perbuatan zalim kepada hamba-Nya. Dengan kasihnya, dibalik kepahitan terhimpun kasih sayang yang senantiasa memancar.

Ketiga, yakin setiap keputusan, ketetapan sudah diukur. Dia Mahatahu kemampuan, kekuatan setiap hamba-Nya, sehingga Dia tidak mencelakakannya. Keempat, yakin setiap ujian ada akhirnya. Dunia ini fana. Setiap ujian menjadi sinyal, apa yang kita miliki di dunia tidak abadi. Semua akan sirna. Kelima, yakin ujian yang melimpah akan mendatangkan hikmah teramat dalam.

Allah memberikan ujian, maka sudah mempersiapkan juga keberuntungan yang sangat besar.

Ujian yang Allah berikan tidak lain hanyalah untuk kebaikan hamba-Nya. Jangan resah dengan ujian yang menimpa, dan jangan mengeluh dengan kegetiran yang bertubi-tubi. Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mendatangkan ujian kepada mereka. Barang siapa rela dengan ujian itu, maka dia memperoleh kerelaan-Nya, dan barang siapa membenci-Nya, maka dia memperoleh kebencian-Nya”.

Saudaraku, pupuklah sikap berbaik sangka kepada Allah Yakinlah dibalik ujian ada sebongkah kebaikan yang sudah Allah persiapkan. Wallahu a’lam bishshawwab. KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

 

 

Tahapan Tawakal

I-Dream RadioOase — Jangan bergantung kepada atasan, orangtua, guru, gelar, pangkat, pengalaman, dan segala sesuatu selain Allah. Ikhtiar adalah kewajiban lahir dan akal, sedangkan kewajiban hati adalah tauhid.

Saudaraku, Allah yang menciptakan kita. Dia pula yang menciptakan keperluan dan memiliki apa yang kita perlukan. Hanya Allah yang bisa mengizinkan kita bertemu dengan apa yang diperlukan dalam hidup ini. Oleh sebab itu, mulai sekarang kita harus belajar tahapan bertawakal kepada-Nya.

Tahapan pertama adalah belajar tentang asma Allah. Yaitu harus mengenal terlebih dulu siapa Pencipta, Pemilik, dan Pemberi segala sesuatu. Kita harus tahu saja dulu, walau belum sampai ke tingkat yaqin.

Tahapan kedua adalah belajar menyempurnakan ikhtiar. Ini penting. Jangan sampai merasa mengenal Allah, tapi tidak  menyempurnakan ikhtiar. Seperti yang mau ujian di sekolah, tapi tidak mau belajar. “Saya yakin Allah Mahatahu semua soal dan jawaban ujian besok, dan Allah Maha Penolong.” Yang begini perkataannya benar, tapi dia belum mengenal Allah. Dia baru mengetahui asma Allah. Kalau mengenal Allah pasti tahu siapa yang akan ditolong-Nya.

“Maka sembahlah Dia dan bertawakalah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hûd [11]: 123)

Jadi, ada pergerakan. Dari awal kita sudah tahu tentang Allah dengan ilmu makrifat. Namun kita harus tetap maksimal,misalnya belajar, bekerja, dan berobat. Karena ikhtiar adalah ibadah. Kita harus menyempurnakan ikhtiar.

Tahapan ketiga adalah mulai memantapkan di hati untuk bertauhid. Artinya, tidak ada yang menolong saya selain Allah. Jadi, setelah sempurna berikhtiar, lalu copotlah ia dari hati. Bahwa yang menentukan hasilnya bukanlah ikhtiar kita, tapi hanya Allah. Jangan bergantung kepada atasan, orangtua, guru, gelar, pangkat, pengalaman, dan segala sesuatu selain Allah.

Ikhtiar adalah kewajiban lahir dan akal, sedangkan kewajiban hati adalah tauhid.

Seperti berdagang, setelah selesai menyiapkan segala sesuatunya dengan bagus, ikhtiar sudah sempurna, maka yakin bahwa yang menggerakkan orang belanja adalah Allah. Atau ketika ingin melamar, sesudah siap semuanya, maka harus mantap kalau yang menentukan jodoh bukan calon mertua, tetapi Allah.

Tahapan keempat adalah mulai menyandarkan sepenuhnya kepada Allah. Setelah yakin Allah yang menentukan, sekarang harus bersandar kepada-Nya. Ibarat seorang anak yang terus mendekap ke pangkuan ibunya. Jadi, kita sudah tahu dan yakin Allah satu-satunya pemberi rezeki, maka mulai menyandarkan diri kepada-Nya. Hanya Dia yang berkuasa menolong kita.

Dan, tahapan kelima adalah berbaik sangka kepada Allah. Bahwa apa pun yang diberikan Allah untuk kita, pasti baik. Kalau sudah sampai pada derajat atau tahapan ini, kita bakal rida terhadap takdir. Logikanya, mungkinkah Allah berbuat zalim kepada hamba-Nya? Tidak mungkin!

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 216).

Kalau kita sudah berbaik sangka kepada Allah, maka tidak ada kecewa. Apa yang buruk dari Allah bagi kita? Tidak ada! Kalau sudah bisa sampai pada tahapan terakhir ini, maka hidup pun pasti enak. Tidak ada galau, risau, sedih apalagi putus asa terhadap apa yang dijalani karena Allah Mahabaik. Begitulah seharusnya kita bertawakal.

KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

Sukses Itu Sederhana

I-Dream RadioOase — Kalau kita simak hadis-hadis tentang akhlakul kharimah, timbangan terberat di akhirat nanti adalah timbangan akhlak. Saat kita dibangkitkan nanti di Yaumul Akhir, Orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan Rasulullah adalah orang yang

Ibarat membuat baju, bila sudah ada pola atau modelnya, maka lebih mudah digandakan. Yang sulit adalah mengarang polanya. Kurang lebih demikian dengan kita. Bahwa hidup itu sebetulnya lebih sederhana dan jauh lebih mudah. Karena umat Islam sudah punya figur, yang bila diteladani akan menguntungkan kita secara lahir, batin, akal, dunia dan akhirat, yaitu Rasulullah Muhammad saw.

Jadi, kalau ingin sukses, kita tidak perlu rumit dan pusing. Tidak perlu mengadakan penelitian yang berbelit, mencari dan mengarang idola lagi, atau misalnya membeli buku teknik sukses menjadi presiden Amerika. Tetapi bagi kita cukup dengan mengetahui kunci sukses Rasulullah saw. Beliau adalah contoh nyata kesuksesan yang paling sukses. Untuk tahu kunci sukses Rasul, tentu kita harus mempelajari beliau.

Sebagaimana dalam riwayat Imam al-Hakim dan Imam Baihaqi disebutkan, ketika ada yang bertanya, “Ya Rasul, mengapa engkau diutus ke bumi?” Jawaban Rasulullah yang mulia amat ringkas, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Kalau kita simak hadis-hadis tentang akhlakul kharimah, timbangan terberat di akhirat nanti adalah timbangan akhlak. Saat kita dibangkitkan nanti di Yaumul Akhir, Orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan Rasulullah adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Yang paling tinggi imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Jadi, kunci sukses kita sederhana saja, yaitu akhlakul kharimah.

Lalu, bagaimana agar bisa berakhlak baik? Jawabannya ikuti saja Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” Akhlak yang baik itu bersumber dari hati yang baik. sehingga kita pun harus giat mempelajari ilmu tentang hati (qalbu).

Seperti, hati itu terbagi menjadi tiga jenis. Satu, hati yang mati (qalbun mayyit), yaitu yang sudah tidak bisa ditanya lagi tentang baik dan buruk layaknya orang mati. Dua, hati yang berpenyakit (qalbun maridh), atau hati yang tidak bisa mengambil keputusan yang baik. Hati yang tidak sehat ini bisa ditanya tentang baik dan buruk, tapi jawabannya belum tentu benar. Tiga, yang paling top adalah hati yang bersih dan selamat (qalbun salim).

Jika ciri hati berpenyakit adalah tidak mau mengaku atau tidak jujur bila hatinya masih berpenyakit, maka bagaimana ciri dari qalbun salim? Qalbun salim itu tergantung pada zikrullahi ta’ala. Bila semakin jarang berzikir kepada Allah, semakin tidak sehat hati kita. Tapi bila semakin rapat zikir kita kepada Allah, hati pun semakin bersih. Sebagaimana Rasulullah yang setiap saat beliau berzikir kepada Allah SWT. Kebeningan hati sebanding dengan tingkat ingat kepada-Nya.

Dalam hadis sahih Imam at-Tirmidzi dan Imam Abu Daud disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sebaik-baik amal untuk kalian dan yang paling mengangkat di sisi Rabb kalian, dan lebih baik dari menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik daripada kalian bertemu dengan musuh kalian, kalian memenggal kepala mereka atau mereka memenggal kepala kalian, dan syahid fi sabilillah?”

Maka para sahabat menjawab, “Benar, wahai Rasulullah, kami ingin tahu amal apa itu?”

Nabi yang mulia menjawab, “Zikrullahi ta’ala (Itulah zikir kepada Allah SWT).”

Zikrullahi ta’ala adalah amalan paling suci dalam pandangan Allah dan meninggikan derajat. Amalan yang lebih baik daripada berinfak harta, emas dan perak, dan lebih baik dari ditebas atau menebas saat bertemu dengan musuh. Zikrullahi ta’ala adalah amalan yang paling baik.

Saudaraku. Jadi, kunci sukses Rasulullah adalah akhlakul kharimah. Akhlak yang baik bersumber dari hati yang bersih. Hati yang bersih tergantung pada zikir kepada Allah SWT. Demikianlah Rasulullah yang mulia. Kesuksesan harus kita bangun dengan memperkuat zikir kepada Allah. Tidak ada ceritanya akhlakul kharimah bagi orang yang kurang zikir.

Sebuah contoh, bangsa kita ini bukanlah bangsa yang kurang cerdas. Setiap tahun berbagai kampus menghasilkan ratusan ribu sarjana. Tetapi mengapa bangsa kita keadaannya terus begini, bahkan cenderung semakin memburuk? Persoalannya adalah akhlak. Misalnya kita lihat para koruptor. Mereka itu pendidikannya tidak ada yang kurang, dan gelarnya juga bermacam-macam dari S1 sampai profesor. Tapi semua itu tidak membawa kebaikan karena akhlak yang buruk.

Apalagi di akhirat, orang berakhlak baik yang paling berat timbangan amalnya. Orang yang ilmu dan ibadahnya standar tapi akhlaknya baik, menurut baginda Rasul, memiliki derajat ahli saum, qiyam dan tilawah. Sedang orang yang akhlaknya buruk, seperti seorang perempuan yang ahli ibadah tapi mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan, bakal mendapat neraka.

Sekali lagi, sukses itu akhlakul kharimah. Sederhana, tapi makin banyak yang kurang mau serius mengupayakannya. Sebagian malah sibuk memusingkan diri siang dan malam dengan berbagai tips dan teknik yang tidak jelas. Oleh sebab itu, mari masing-masing kita bertafakur. Benarkah kita menginginkan sukses yang benar-benar sukses? Yaitu kesuksesan yang telah diteladankan oleh Rasulullah saw.

KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

 

Memaknai Hidup

I-Dream RadioOase — Malu menjaga kita dari perbuatan yang dilarang Allah. Hendaknya kita malu untuk bermaksiat kepada Allah, sementara kita tinggal di bumi-Nya. Memakan rezeki-Nya dan Allah Mahamelihat.

Saudaraku, pernahkah terpikirkan untuk apa sebenarnya kehidupan kita ini? Sudah puaskah kita dengan kualitas hidup yang sekarang dijalani? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang seringkali tidak terpikirkan tentang hidup ini. Idealnya, dalam hidup ini kita dapat mengisinya dengan berbagai hal bermanfaat, yang dapat meningkatkan kualitasnya. Banyak sekali hal yang dapat kita lakukan untuk mengisi kehidupan kita agar lebih berarti.

Pertama, isilah dengan kreativitas. Belajarlah membangun kreativitas yang dimiliki dengan baik, karena kreativitas itu dapat membawa kita menjadi lebih baik. Tetaplah waspada jika kreatifitas itu telah membawa kita ke kehidupan yang lebih baik, karena kita dapat jatuh apabila kesombongan datang setelah kreativitas tersebut diakui keunggulannya.

Kedua, belajarlah bermimpi. Tidak ada larangan dalam bermimpi, karena itulah hendaknya kita mempunyai impian besar yang ingin diraih. Setiap orang pasti memiliki impian dan impian itu akan mempengaruhi perilaku kita. Kita senantiasa berusaha mewujudkan impian tersebut. Karenanya, milikilah mimpi yang besar dan teruslah berusaha mewujudkannya. Mimpi yang besar tidak berarti apa-apa, jika kita tidak pernah berusaha meraihnya.

Ketiga, kekuatan mental. Selain kreativitas, mental kita pun harus terus dilatih agar kuat dan siap menghadapi kerasnya kehidupan ini. Mental yang harus kita kembangkan adalah mental bangga memiliki sesuatu yang bermanfaat untuk dikembangkan, sehingga berguna bagi orang lain.

Keempat, bersahabat dengan malu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, ”Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesuka hatimu.” Sebagai orang beriman, hendaklah kita memiliki rasa malu. Ini karena malu adalah sebagian dari iman. Malu menjaga kita dari perbuatan yang dilarang Allah. Hendaknya kita malu untuk bermaksiat kepada Allah, sementara kita tinggal di bumi-Nya. Memakan rezeki-Nya dan Allah Mahamelihat.

Kelima, bersahabat dengan marah. Kendalikanlah kemarahan kita, karena kemarahan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan hal buruk. Carilah berbagai cara agar dapat bersahabat dengan amarah, untuk kemudian mengendalikan dan mengaturnya. Rasulullah saw bersabda, “Apabila di antara kamu sedang marah dan pada posisi berdiri maka duduklah, jika duduk juga masih marah, maka berbaringlah.”

Keenam, belajarlah menjadi lebih baik. Manfaatkanlah umur dan waktu yang kita miliki. Jika kita dapat hidup lebih baik, mengapa harus hidup dengan kondisi biasa-biasa saja? Kalau kita bisa bangkit dari keterpurukan, mengapa harus berdiam diri? Berusaha maksimal menjadikan setiap bagian dari hidup kita, selalu lebih baik dari sebelumnya. Maka, teruslah perbaiki diri kita dengan senantiasa meningkatkan potensi dan amal dalam setiap kesempatan. Wallahu ‘alam bishshawwab. KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

 

Tanpa Ponsel, Dunia Baik-baik Saja

I-Dream RadioOase — Berapa banyak waktu kita habis akibat terus-terusan memegang ponsel? Seperti suatu waktu, Aa pernah mengecek para santri karya (karyawan) di Daarut Tauhiid. Aa lihat ada santri yang selalu online (aktif). Saat ada yang komentar sedikit,

Aa ingat zaman SMA dan kuliah dulu tidak ada ponsel, dan hidup dirasakan normal-normal saja. Berbeda jauh dengan sekarang. Banyak orang tidak bisa lepas dari ponsel. Seperti ada yang suka gelisah kalau baterai ponselnya sudah mulai habis. Di mana-mana sibuk mencari colokan listrik, atau panik dan sedih di perjalanan karena lupa membawa casan ponsel.

Ponsel benar-benar membuat hidup kita tidak normal. Pertama, bisa mencuri banyak sekali waktu kita. Ketika bangun tidur yang dicari adalah ponsel. Sambil makan yang dipegang ponsel. Saat belajar atau pun mengobrol, sebentar saja sudah melihat ponsel lagi. Di jalan raya saat berkendara, makin lama lampu merah semakin gembira sebab bisa menulis status. Hingga doa sebelum tidur, “Sampai ketemu twitter, FB, BBM, WA, instagram, games,” dan dini hari kembali bangun untuk munajat menghadap ponsel.

Berapa banyak waktu kita habis akibat terus-terusan memegang ponsel? Seperti suatu waktu, Aa pernah mengecek para santri karya (karyawan) di Daarut Tauhiid. Aa lihat ada santri yang selalu online (aktif). Saat ada yang komentar sedikit, langsung dibalasnya dengan sempurna. Mungkin kalau Aa ikut komentar baru tidak dibalas, karena takut ketahuan kalau dia tidak jelas kapan bekerjanya.

Kedua, ponsel memang bisa mendekatkan yang jauh, tapi lebih sering justru menjauhkan yang dekat. Mencuri kebersamaan kita dengan orangtua, anak, keluarga, dan teman. Seperti saat kumpul keluarga, kata bapaknya, “Bagaimana kabarnya anak-anak?” “Baik, pak.” “Bu, masakannya bagaimana?” “Iya, pak, sudah matang.”Memang duduknya di satu meja, tapi masing-masingnya bicara sambil melihat ponsel. Saat bertemu tetap saling menyapa dan berbicara, tapi cenderungnya tanpa saling menatap atau menoleh.

Ketiga, bisa membuat kita cenderung narsis dan riya’. Contohnya, mulai dari yang suka pamer ponsel bagus hingga ada yang sebelum makan memajang potret selfie bersama makanannya dulu. Atau, saat bertemu artis, hadir di acara yang ramai, jalan-jalan di tempat yang megah, melihat mobil mewah, sampai setiap membeli apa pun, itu dipotret juga direkam dan dipajang di media sosial (medsos) maupun Youtube.

Bahkan, potret-potret yang dipajang sering kali tidak cocok dengan kenyataan. Bukan hanya penampilan, seperti potretnya banyak yang dipoles pakai komputer, tetapi juga akhlak kita sehari-hari. Misalnya, ada yang yang sebenarnya tidak akrab, tapi karena mau selfie dibikin berdekatan, lalu sesudah itu bermusuhan lagi. Sambil melihat pajangan potretnya, dia mengghibah kenalannya yang berdiri di sebelahnya dalam potret tersebut.

Kalau sudah sibuk ingin mencari pengakuan makhluk, maka ketika ada waktunya belum punya sesuatu untuk dipajang, ia akan mulai pula berbohong. Misalnya, meminjam barang-barang bagus milik teman yang berpunya untuk dipakai selfie kemudian dipajang. Jika terus-menerus begitu, akhirnya bisa terkena penyakit jiwa bagi orang yang suka berbohong, yaitu mitomania.

Keempat, bisa membikin tidak sadar bahwa kita sebetulnya semakin nelangsa.Contoh sederhana bagi yang sudah menikah, kalau suka melihat potret orang-orang yang cantik atau pun ganteng, suami bisa merasa khilaf sudah menikahi istrinya, sama halnya istri juga merasa suaminya sebagai beban. Ada pun bagi yang belum menikah bisa berangan-angan panjang, padahal jodoh yang nanti diberikan Allah kemungkinannya tidak mirip dengan yang diangankan.

Kalau sudah sibuk terus dengan ponsel sebetulnya kita makin tersiksa.Seperti tiap hari mencek pertambahan jumlah like dan follower. Lalu juga sibuk memeriksa kehidupan orang satu per satu, melihat kerjanya di mana, tinggal di mana, sudah menikah atau sudah cerai, apa sudah punya anak atau cucu, anaknya sekolah di mana, pakaiannya bagaimana, kendaraannya apa, kontrakan atau rumahnya warna apa, dan seterusnya.

Sampai suatu waktu menemukan salah seorang yang diperiksa sedang mendapat musibah, “Ya.. ya, dia sekarang sakit berat ternyata,” sambil dalam hati gembira. Padahal kita sendirilah yang jelas-jelas sedang menderita.Termasuk yang tertib nge-games siang dan malam. Karena tanpa disadari sudah kehilangan karunia untuk gemar membaca al-Quran.

Apalagi kalau ponsel itu dipakai untuk mencela dan menghina orang di medsos, melihat pornografi, mengobrol maksiat, janjian berzina, merencanakan kezaliman, menawar dan membagi jatah korupsi, hingga yang membuat kesepakatan menghancurkan bangsa ini. Maka hidup pun makin terpuruk, dan terpuruk tidak bahagia dalam gelimang dosa. Na’udzubillah.

Kelima, ponsel bisa membuat kita ujub dan sombong. Baik itu dengan merek, seri atau harga ponselnya, maupun dengan banyaknya follower yang dimiliki. Misalkan saat melihat teman yang ponselnya sederhana, dalam hati ia berkata, “Menyedihkan sekali dia.” Lalu menepuk-nepuk pundaknya, “Kamu harus sabar, terus saja kerja yang rajin nanti juga bisa beli ponsel sebagus punya saya.” Padahal boleh jadi ponsel yang sederhana itu lebih sering dipakainya untuk mengobrol hangat dengan orangtua dan keluarganya di kampung, sehingga dia yang lebih bahagia.

Begitu dengan yang sibuk menambah jumlah follower. Banyak follower itu tidak penting, yang penting adalah rida Allah. Banyak follower juga belum tentu membuka keridaan Allah. Jangan suka mengaku-aku, karena follower kita juga nge-follow orang lain. Misalkan follower kita sejuta, yang sejuta ini kepada yang lain juga nge-follow. Kita merasa bangga, padahal yang punya kita jarang dibaca. Apalagi bagi yang followernya dibeli, lebih aneh lagi karena dia jadi ujub dalam karangan.

Nah, saudaraku. Demikian sejumlah hal yang bisa diakibatkan oleh ponsel, dan mungkin masih banyak yang lain. Tetapi semuanya itu karena ponsel sudah menjadi Tuhan di hati kita. Hal ini benar-benar penting untuk ditafakuri. Karena dulu tidak ada ponsel, dunia juga baik-baik saja. Rasulullah saw pun tidak pakai ponsel maupun medsos, tapi beliau tetap ada di hati umat.

Mungkin ada yang berkata, “Aa’, kita kan bukan Rasul!” Benar, dan memang setelah beliau sudah tidak ada lagi Rasul. Maksudnya, mari tanyakan hati terdalam, mengapa kita sampai diperbudak oleh ponsel? Bahkan saat mau salat balapan dengan ponsel, “Tunggu ya sudah qomat.” Selesai salat mengucap “Assalamu’alaikum” ke kanan, lalu ke kiri “Wa ‘alaikum salam” sambil menempelkan ponsel ke telinga, dilanjutkan lagi dengan wirid jempol.

Tentunya, ini bukan berarti larangan memakai ponsel. Karena ponsel hakikatnya Allah juga yang menciptakan. Berbagai macam ponsel yang makin canggih itu, Allah yang mengilhamkan pembuatannya. Melihat setiap ciptaan Allah, semestinya kita kagum dan langsung ingat kepada-Nya. Dengan takjub pada kecanggihan ponsel sekarang ini, misalnya kita bisa makin mengerti bahwa mukjizat para nabi itu bukanlah karangan.

Ponsel maupun medsos yang diciptakan Allah harus kita sikapi dengan baik dan benar, supaya hidup kita diridai-Nya. Bukan malah menjadi illah di hati kita. Ponsel jangan dijadikan sebagai sarana bermaksiat, tempat menambah dosa, alat untuk menghapus hangatnya kebersamaan, media untuk pamer dan narsis, belahan jiwa untuk membikin diri sendiri makin nelangsa, sehingga merasa tanpa ponsel seakan-akan hidup pun berakhir.

Saudaraku. Sekarang ini Aa juga sedang berusaha tidak seserius dulu terhadap ponsel atau pun medsos. Memang ada kalanya ponsel itu penting, tetapi setiap kali kita bisa bertanya ke dalam hati, apakah memang sangat penting atau tidak? Apa menggunakan ponsel untuk hal ini Allah akan rida? Apa membeli ponsel sebagus ini bisa semakin dekat kepada Allah, atau justru dengan punya ponsel membuat kian jauh dari-Nya? Kalau mau jujur kepada hati, maka kita tidak selalu memegang ponsel. Tidak akan keseringan membuka medsos maupun terus-menerus miscall orang yang tidak dikenal.

Kita juga bukan siapa-siapa. Bukan pengambil keputusan di kala genting. Bukan pemegang kunci nuklir, Panglima TNI, Menko, maupun dokter ahli jantung yang harus ditelepon tiap saat. Status kita tidak jelas, dan jika kita mati rasanya juga tidak menimbulkan perang saudara. Buktinya, saat ponsel kita rusak, hilang, atau waktu pulsanya belum bisa dibayar, dunia juga tetap baik-baik saja. Mengapa kita merasa ponsel begitu penting?

Sudahlah. Tidak ada yang gawat, dan tidak semuanya genting harus segera dijawab. Seperti santri-santri yang masuk Program Daurah Qalbiyah, tanpa ponsel juga tidak ada di antara mereka yang hilang ingatan. Jadi, tidaklah mengapa sewaktu-waktu ponsel kita matikan, misalnya 10 menit sebelum salat. Khusyuklah menghadap Allah, dunia baik-baik saja. Ponsel bukan segalanya, yang segala-galanya bagi kita adalah Allah SWT.

Mari kita sibuk mencari keridaan Allah. Jangan sibuk memandangi ponsel terus. Karena kita benar-benar tidak tahu kapan malaikat maut tiba-tiba menjemput. Sedangkan, “Barang siapa yang meninggal dan dia mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada illah selain Allah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Imam Muslim). Jadi, bukan mengillahkan ponsel, medsos, games, internet, dan sebagainya. Semoga sepanjang waktu syahadat kita selalu bagus, dan pada waktunya pulang bisa khusnul khatimah. Amiin.

KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

 

Dua Ciri Khas Pecinta Dunia

I-Dream Radio — Oase — Pujian orang tidak ada artinya sama sekali. Yang berarti hanyalah pujian penguasa alam semesta. Allah semata.

Ciri khas pecinta dunia yang paling sederhana ada dua. Satu, senang dipuji. Dua, takut dicaci. Apa pun yang kita lakukan,

tanya pada hati kita. Apakah yang dilakukan karena hanya ingin dipuji orang dan takut dicaci, atau benar-benar lillahi

taala?

Semakin kita bebas berkeinginan untuk dipuji orang, semakin lepas cinta dunia, akan semakin nyaman hidup ini. Kita akan

terpuji, karena yang membuat rontoknya akhlak seseorang adalah mempunyai keinginan dipuji orang. Membuat kita jadi munafik.

Segala dibeda-bedakan. Semata-mata karena ingin dilihat orang. Tidak ada gunanya.

Pujian orang tidak ada artinya sama sekali. Yang berarti hanyalah pujian penguasa alam semesta. Allah semata. Tidak usah

takut dihina orang kalau kita melakukan hal yang benar. Tidak apa-apa orang menghina, mencaci, atau pun memaki. Tidak ada

apa-apanya sama sekali. Hanya getaran udara saja yang terjadi.

Kita sakit hati bukan karena dihina atau dicaci orang. Tapi kita sakit hati karena ingin dihargai orang. Barang siapa yang

lepas hatinya dari rasa takut terhadap manusia, dan dia berbuat benar di jalan Allah, lurus dan bersih, insya Allah akan

sampai ke Allah. Tapi sepanjang masih berkutat dengan pujian dan cacian manusia, cenderung akan munafik. Bicaranya akan

dibagus-baguskan hanya karena ingin dipuji manusia. Nada bicara sengaja dibeda-bedakan. Kata-katanya pun sengaja dipilih

hanya untuk mendapatkan pujian manusia.

Buat apa semua itu? Allah tidak akan menerima sesuatu yang dipersekutukan dengan-Nya. Periksa terus hati kita. Tanyakan

pada hati, buat apa melakukan ini? Buat apa membeli ini? Buat apa mengatakan ini? Tanya hati nurani. Hati nurani tak pernah

bohong. Nanti hati yang akan menjawab kalau kita sedang ria, pamer, dan hanya mengharap pujian orang.

Memang ada ria mubah, yaitu hal-hal yang mubah diriakan. Ada yang sunnah diriakan, jika dilakukan akan hilang pahalanya.

Ada yang wajib diriakan, dan itu dosa. Berpakaian itu mubah. Salat sunnah menjadi sunnah. Saum sunnah menjadi sunnah. Kalau

ria, maka tidak akan ada pahalanya. Tapi salat fardu yang wajib kemudian ria, maka itu menjadi dosa karena itu adalah hak

Allah.

Selalulah bertanya dan jujur ke hati sendiri. Hati nurani tidak pernah berbohong. Semakin sering kita bertanya ke lubuk

hati, semakin nyaring suaranya. Dan semakin berpengaruh pada sikap kita.

Percayalah, orang ikhlaslah yang tidak akan mempan digoda setan. Orang ikhlaslah yang istiqamah dalam amalnya. Orang yang

ikhlaslah yang akan merasakan kenikmatan berbuat amal. Dan hanya orang ikhlaslah yang amalnya diterima Allah. Pilihan kita

hanya satu. Harus menjadi orang ikhlas. Bukti iman adalah ikhlas. Semoga kita menjadi orang ikhlas. Wallahu ‘alam bishawab.

KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhid/baiti/i-dream)