10 Karakter Penting Pengusaha

I-Dream RadioWisdom — Dalam hampir setiap success story sebuah bisnis—jika kita cermat menyimaknya—terselip fakta mengenai karakter baik sang pengusaha yang berkontribusi besar bagi kesuksesan bisnisnya. Tentu pula kompetensi sang pengusaha dan orang-orang yang membantunya—namun karakter-lah yang signifikan.

Karakter baik tidak terbentuk semalam, sebagaimana pepatah lama mengatakan: “Taburlah pemikiran, maka kamu akan menuai tindakan; taburlah tindakan, maka kamu akan menuai kebiasaan; taburkanlah kebiasaan, maka kamu akan menuai karakter.”

Manusia yang bersungguh-sungguh berusaha memiliki sifat yang baik, insyaAllah akan dimudahkan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berusaha melatih dirinya melakukan kebaikan, maka dia akan dapatkan, dan barangsiapa berusaha menghindari keburukan, maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut.”—HR Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah No. 342

Ada minimal 10 karakter baik yang melekat pada pengusaha sukses. Yakni, (1) Memiliki intuisi bisnis; (2) Memiliki visi yang jelas; (3) Inovator; (4) Tidak cepat puas; (5) Risk taker (berani mengambil risiko); (6) Determined (mantap, bulat tekad); (7) Persistant (gigih, pantang menyerah, tidak lemah); (8) Problem solver (penyelesai masalah); dan (10) Pembelajar.

Berikut saya uraikan satu per satu.

Motivasi tinggi

Motivasi adalah dorongan sangat kuat yang menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu. Tantangan seorang pengusaha lebih besar ketimbang seorang karyawan. Ada banyak hambatan dan kesulitan di jalan menuju sukses. Perlu motivasi tinggi untuk melewatinya.

Seringnya, seseorang ingin menjadi pengusaha hanya termotivasi ingin menafkahi keluarga, memiliki rumah, kendaraan, dan seterusnya. Hanya sampai di situ. Saat semua itu ada, motivasi malah melembek. Saya menyarankan, bangunlah motivasi lebih dari sekadar untuk meraih tujuan-tujuan keduniaan. Tingkatkan motivasi sampai ke tujuan akhirat—misal ingin masuk surga dengan jalan lebih banyak bersedekah, menafkahi keluarga tidak mampu, membangun pesantren, masjid, dll. Meraih tujuan akhirat akan menuntun langkah kita untuk selalu berada di koridor syariah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah  kan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, Allah akan mencerai–beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”—HR Tirmidzi No. 2465 dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah No. 404

Motivasi, cita-cita, sebaiknya ditulis dengan jelas menjadi visi dan misi bisnis Anda, kemudian dirinci jadi sasaran berjangka yang jelas pula dan terencana, agar mengarah tujuan yang jelas. Bukankah hidup akan lebih bergairah jika kita memiliki tujuan yang jelas?

Intuisi Bisnis

Intuisi para pengusaha sering dimaknai sebagai keajaiban. Padahal kepekaan bisnis terasah oleh “jam terbang” atau pengalaman, dan proses belajar sang pengusaha. Bagi orang beriman, bersyukurlah, sebab intuisi dapat kita peroleh dengan pertolongan Allah Ta’ala berupa kemantapan hati atau ide cemerlang. Islam memberi tools jitu berupa doa dan sholat istikharah ketika kita bimbang menentukan pilihan dan langkah.

Bertakwalah, sebab petunjuk dari Allah Ta’ala akan datang pada hambaNya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.”—QS At Thalaq : 2-3

Ibnu Syuja’ Al-Kirmani berkata, “Siapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, memakmurkan batiniahnya  dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menahan nafsunya dari syahwat dan menahan pandangannya dari apa yang diharamkan serta ia membiasakan diri makan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan salah.”

Visi yang Jelas

Visi adalah gambaran masa depan yang ingin diraih. Gambarkan dengan sangat masa depa seperti apa bisnis yang hendak Anda bangun. Contoh visi Bill Gates, pendiri Microsoft: “Di semua meja yang ada komputernya, Windows adalah sistem operasinya”.Visi yang jelas dapat menuntun langkah. Seorang pengusaha hendaknya mampu menggambarkan dengan jernih visinya kepada para karyawan agar mereka dapat ikut serta mewujudkannya.

Inovator

Kita bisa memulai bisnis dengan meniru, ide atau cara pengusaha lain. Namun dewasa ini tidak cukup lagi. Kita harus kreatif menemukan hal-hal baru—produk, kemasan, pelayanan dan pemasaran, dll. Ya, benar-benar baru dan unik, sehingga membedakan bisnis kita dengan pesaing.

Kalau pun meniru, janganlah tanpa nilai tambah. Harus ada inovasi. Syukur-syukur baru. Inovasi harus tiada henti—karena pilihannya: inovatif atau mati. Konsumen tak akan berpaling kepada produk kita karena mereka tidak mempunyai alasan cukup untuk membeli produk kita jika produk kita biasa-biasa saja.

Tidak Cepat Puas

Sony, produsen produk elektronik terkemuka, dikenal unggul, salah satunya, karena inovatif. Sony punya cara unik untuk memenangkan persaingan. Sementara di lantai bawah sedang diadakan peluncuran produk baru, di lantai atas, dalam waktu yang sama berlangsung pencarian untuk menemukan produk yang lebih hebat daripada produk baru yang sedang diperkenalkan di lantai bawah. Tujuannya jelas, agar selalu terdepan dalam inovasi produk.

Cepat puas dalam berkarya hanya akan membuat bisnis jalan di tempat, dan tinggal menunggu masa kadaluarsa. Mereka yang sukses tidak cepat puas hanya dengan karya yang sudah ada, baik dari sisi produk, pelayanan maupun pemasaran. Kualitas produk dan pelayanan harus terus ditingkatkan untuk selalu lebih unggul daripada yang lain.

Salah satu hikmah nyata dapat Anda petik dari firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” –QS Al Insyirah: 7

Demikianlah, seyogyanya pola kerja setiap orang Muslim tidak pernah berhenti. Setiap selesai sebuah pekerjaan, segeralah melakukan pekerjaan baru lainnya. Namun jangan salah, rasa tidak cepat puas bukanlah untuk rezeki. Seberapa pun rezeki yang kita terima, kita harus merasa puas dan penuh rasa terima kasih. Sebagai orang beriman, kita harus selalu bersyukur atas rezeki yang kita terima dari Allah. Dengan selalu bersyukur, Allah Ta’ala akan menambah nikmatNya. Allah Ta’ala berfirman,

yang artinya, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, Kami pasti menambah (nikmat) kepada kalian.” –QS Ibrahim: 8

Berani Ambil Risiko (Risk Taker)

Berani mengambil risiko bukan berarti nekat, tanpa pertimbangan. Mereka yang sukses berani memilih langkah yang menurut kebanyakan orang sangat berisiko. Manusia adalah makhluk yang lemah. Tidak ada yang terbebas dari kesalahan. Sebagai orang yang beriman dan bertakwa, kita memiliki “senjata ampuh”, yaitu doa dan sholat istikharah. Gunakan senjata ini untuk meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui untuk memilihkan mana yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita.

Determined (Mantap dan Bulat Tekad)

Pengusaha sukses memiliki karakter, yang menurut sebagian orang, diaggap kurang akomodatif, adaftif atau kaku. Jika telah meyakini sesuatu hal, pendapat atau keputusannya tidak mudah berubah. Dia mantap dan yakin akan pilihan dan keputusannya. Karakter ini tampaknya buruk. Apalagi jika kemudian pilihan atau keputusan meleset atau keliru. Tapi ini sebenarnya kelebihan seorang pengusaha. Keyakinan dan tekadnya yang bulat menjadi energi untuk membakar semangatnya.

Sebagai Mukmin yang baik, tekad bulat saja belumlah cukup. Kita hamba yang lemah, karena itu mohonlah pertolongan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal–lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” –QS Ali ‘Imran: 159

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)–nya.” –QS Ath Thalaaq: 3

Kita tidak boleh menggantungkan harapan kesuksesan kepada diri kita sendiri. Kepada perusahaan atau kepada makhluk lain. Gantungkan harapan hanya kepada Allah Ta’ala, karena Dia-lah tempat kita meminta pertolongan dan menggantungkan harapan.

Janganlah rasa percaya diri menjadikan kita lupa berharap pertolongan Allah Ta’ala. “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” –QS Al-Inshirah: 8

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang Rasul selalu berdoa agar tiap langkahnya selalu dalam bimbingan Allah Ta’ala: “…(Ya Allah,) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan aku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.”—HR An-Nasa`i dan Al-Hakim; dihasankan oleh Syekh Al-Albani

Persistant

Disebut gagal jika kita berhenti berusaha, lemah dan menyerah. Pengusaha sejati tidak mudah menyerah. Ia gigih merajut cita-citanya. Kalah dalam suatu pertarungan bukan berarti kalah perang. Masih banyak arena pertarungan lain yang akan bisa mengantarkannya pada kemenangan sejati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah atas hal-hal yg bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.“ –HR Muslim

Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar diberi kekuatan menghadapi kesulitan. Bertakwalah agar diberikan jalan keluar. Jadikan kegagalan sarana introspeksi diri. Boleh jadi, kita gagal karena belum siap sukses. Kesuksesan dan kekayaan adalah ujian, dan bisa jadi kita belum mampu melaluinya.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” –QS Asy Syuraa: 27

Problem Solver

Mencari kambing hitam biasa dilakukan orang-orang gagal, para pecundang untuk membenarkan alasan atas kegagalannya. Orang- orang sukses selalu mencari solusi. Mereka dalah orang-orang yang menyelesaikan masalah. Pengusaha sukses adalah orang yang bertanggung jawab dan lebih memilih mencari solusi ketimbang mencari kambing hitam.

Bertakwalah, sebab jalan keluar terbaik dari Allah Ta’ala akan diberikan kepada hambaNya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” –QS At Thalaq: 2

Siapakah problem solver terbaik selain Allah Ta’ala?

Pembelajar

Kita tidak dilahirkan langsung pintar. Karena itu, banyaklah belajar. Dari buku dan dari mereka yang lebih dulu sukses. Rasanya tidak ada pengusaha sukses yang tidak hobi membaca. Pengusaha sukses adalah seorang pembelajar yang tekun. Selain ilmu-ilmu dunia, selayaknya sebagai seorang Muslim kita juga mendalami ilmu agama. Sebab kunci-kunci kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh seberapa baik agama kita.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”—QS An-Nahl: 97

Para ulama salaf menafsirkan makna “kehidupan yang baik (di dunia)” dalam ayat di atas sebagai “kebahagiaan (hidup)” atau “rezeki yang halal dan baik” dan kebaikan-kebaikan lainnya yang mencakup semua kesenangan hidup hakiki—lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/772)

Bagaimana kita bisa beriman dengan benar dan beramal dengan benar tanpa belajar ilmu agama secara benar? Bagaimana pulakita sebagai pengusaha Muslim bisa berjual-beli dengan halal jika tidak mempelajari fikih jual-beli? Salah-salah terjebak riba, yang akhirnya menghilangkan keberkahan usaha kita.

Sebagai orang beriman, kita memiliki kelebihan dibanding mereka yang tidak beriman, dan berpeluang menjadi pengusaha sukses jauh lebih besar, sebab Allah Ta’ala adalah penolong orang-orang yang beriman selama kita selalu bertakwa.

Janganlah pula pernah merasa bahwa kesuksesan Anda raih hanya karena kepandaian dan kerja keras Anda, dan melupakan Allah Ta’ala yang telah memberi karuniaNya berupa akal, kesehatan dan pertolongan kepada Anda. Kekaguman terhadap diri sendiri akan mengantarkan kita kepada ujub, sombong, dan akhirnya seperti Karun yang diadzab Allah Ta’ala.***

Barangsiapa berusaha melatih dirinya melakukan kebaikan, maka dia akan dapatkan, dan barangsiapa berusaha menghindari keburukan, maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut.”

Resume:

Ada minimal 10 karakter baik yang melekat pada pengusaha sukses. Yakni:

Memiliki motivasi tinggi
Memiliki intuisi bisnis
Memiliki visi yang jelas
Inovator
Tidak cepat puas
Risk taker (berani mengambil risiko)
Determined (mantap, bulat tekad)
Persistant (gigih, pantang menyerah, tidak lemah)
Problem solver (penyelesai masalah)
Pembelajar

Fadil Basymeleh (pengusahamuslim/baiti/i-dream)

 

Perlukah Business Owner Selalu Berada Di Kantor?

I-Dream RadioWisdom — Merintis sebuah usaha membutuhkan kerja keras, keuletan, serta disiplin yang tinggi. Di awal  merintis usaha, seseorang dituntut untuk bisa mengerjakan banyak hal, seperti mencari supplier, mengelola order, mengirim
barang, menangani keluhan, menjadi marketing, hingga mengurusi masalah administrasi keuangan.

Berbagai tugas yang dilakukan inilah yang menjadikan owner semakin kaya akan pengalaman dan wawasan baru. Dia akan belajar dari berbagai kesalahannya dan pada akhirnya menemukan formula yang tepat untuk kelangsungan usahanya. Menangani seluruh aktivitas usaha seorang diri atau menjadi single fighter bisa saja dilakukan saat bisnis baru berjalan.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan usaha Anda semakin berkembang, maka Anda akan semakin kesulitan jika harus  menanganinya sendiri. Anda mulai membutuhkan karyawan yang dapat menjalankan berbagai tugas yang selama ini Anda kerjakan
sendiri.

Posisi Anda sebagai business owner memberikan Anda keleluasaan dalam mengelola waktu. Tapi bukan berarti Anda berleha-leha. Andalah yang bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan usaha. Sebagai business owner Anda memiliki tugas untuk mengembangkan usaha dan menemukan peluang atau terobosan baru. Tidak menutup kemungkinan untuk hal tersebut Anda harus
sering mobile dan meninggalkan kantor Anda. Namun demikian jamak ditemui owner yang enggan meninggalkan kantornya, alasan
yang sering diberikan adalah tidak ada orang yang mengawasi kinerja karyawannya, khawatir jika ditinggal pergi karyawan
akan bekerja seenaknya, atau tidak ada yang dapat mengambil keputusan jika bos tidak ada. Alasan tersebut wajar, meskipun
tidak sepenuhnya tepat. Hal yang lumrah jika business owner memiliki kecemasan tersebut, karena untuk merintisnya dia harus
bekerja keras, dan tidak ingin usahanya terlepas dari pengawasannya. Jangan hanya karena Anda sebagai pemilik, bukan berarti semua pekerjaan Anda kerjakan sendiri. Anda harus mendelegasikan tugas-tugas Anda sebelumnya kepada karyawan.

Dengan mendelegasikan tugas kepada karyawan, maka Anda dapat fokus pada pengembangan usaha, seperti melakukan terobosan
baru atau memperluas area pemasaran.

Berikut ini ada beberapa trik yang dapat Anda lakukan untuk memantau kinerja karyawan Anda pada saat Anda tidak ada di
tempat :

  • Membuat sistem pelaporan yang rutin, seperti membuat laporan harian, mingguan, atau bulanan sehingga Anda dapat
  • memantau kinerja karyawan. Akan lebih baik jika menerapkan sistem online sehingga Anda dapat memantaunya tanpa hambatan ruang dan waktu.
  • Menentukan jadwal pertemuan rutin untuk berinteraksi, brainstorming, atau membahas masalah yang dihadapi karyawan di
    setiap divisi.
  • Melakukan inspeksi mendadak untuk melihat secara langsung performa karyawan.
  • Membangun sikap percaya kepada karyawan Anda dan menerima ide atau masukan yang disampaikan untuk kemajuan usaha.
  • Memberikan reward kepada karyawan yang berprestasi akan menunjukkan bahwa Anda benar-benar menghargai kerja kerasnya

Sehingga dapat memotivasi karyawan lain untuk melakukan hal serupa. karyawan memiliki kontribusi yang besar dalam mengembangkan bisnis yang Anda kerjakan. Tanpa bantuan mereka bisnis Anda akan berjalan stagnan. Melakukan koordinasi dan komunikasi dua arah antara owner dan karyawan sangat vital untuk dapat mencapai goal yang ditetapkan.

[Zahir/PM] (pengusahamuslim/baiti/i-dream)

Berkembang Tanpa Iklan ala Google

I-Dream RadioWisdom — Jika bisnis Anda ingin berkembang tanpa iklan seperti Google, menyebarlah ke seluruh dunia laiknya virus tanpa biaya dan bertahan dalam jangka waktu yang belum terpikirkan! Caranya, (1) fokuslah ke pengembangan dan perbaikan produk bisnis Anda; dan (2) jadikan produk bisnis Anda sebagai leader di kelasnya. Kalau sukses dengan poin (2), mulailah melebarkan sayap bisnis Anda ke bidang atau produk yang lain. Terakhir, jangan lupakan poin (1) dan (2).

Waktu saya SMA dan mulai mengenal Internet (tahun 2000), hanya beberapa situs yang selalu saya buka ketika berselancar di Internet. Yakni Google, Yahoo! dan detik.com. Meski akrab dengan ketiga situs itu, tapi waktu itu saya tidak pernah sekejap pun melihat iklan mengenai ketiga situs itu. Termasuk di RCTI, SCTV, atau Indosiar. Rasanya saya tidak pernah satu kali pun mendeteksi adanya iklan Yahoo Mail atau detik sport di Kompas, Republika atau Koran Tempo.

Ya, karena ketiga situs itu diiklankan dengan cara klasik: dari mulut ke mulut, getok tular alias word-of-mouth marketing. Dari tiga situs itu, kalau dipaksa memilih satu yang paling lengket dengan kehidupan maya saya, saya memilih Google. Sampai hari ini, 11 tahun kemudian.

Saya tahu Google dari teman saya yang lebih dulu mengenal Internet. Informasi tentang Google pun, sadar atau tidak, menyebar juga ke teman saya yang ingin belajar menggunakan Internet dari saya. Jadi, info tentang Google menyebar dari satu pengguna ke pengguna lain; dari Amerika Serikat ke seluruh dunia, tanpa bantuan iklan sedikit pun. Dengan kata lain, Larry Page dan Sergey Brin mungkin hanya menghabiskan Rp 0 untuk belanja iklan mesin pencari yang lahir dari kampus Stanford University di tahun-tahun awal Google berdiri.

Hei, ini sungguh menarik. Kenapa?

Karena bagi beberapa perusahaan, belanja iklan sangat penting demi eksistensi dan nama baik brand atau merk produk-produk mereka. Unilever, Nike, Microsoft, Adidas, Nestle, Toyota dan Honda adalah contoh korporasi besar yang menganggarkan ratusan juta dolar AS per tahun untuk mengenalkan atau mempertahankan citra produk mereka di hati dan kepala konsumen.

Perusahaan-perusahaan besar mencoba mencuri perhatian konsumen melalui media beragam. Iklan-iklan mereka ditayangkan di TV nasional dan TV berbayar. Diperdengarkan via radio. Ditampilkan di surat kabar dan majalah—baik konvensional maupun digital. Hingga disebar ke berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook, YouTube, dan Twitter. Dengan bantuan konsultan pemasaran yang upahnya tidak murah.

Tapi Google tidak melakukan apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar tadi. Dengan cek US$ 100 ribu dari Andy Bechtolsheim—salah satu pendiri Sun Microsystem—pada Agustus 1998, tampaknya agak mustahil bagi The Google Guy—julukan duo founder Google—untuk membeli space dan slot iklan di media-media besar AS seperti New York Times, Wall Street Journal, Time, CNN, HBO, atau sejenisnya. Alih-alih menghamburkan uang untuk iklan, kedua pria yang saat itu mahasiswa S-3 itu justru memfokuskan diri ke yang lebih penting dan tidak langsung membantu terciptanya proses marketing gratis berskala global. Apa itu?

Garasi Google dengan Biaya Sewa US$ 1.700/Bulan

Untuk membangun dan mengembangkan perusahaan yang sangat tergantung pada kualitas dan keandalan perangkat keras serta jaringan seperti Google, Anda harus punya kantor sendiri. Meminjam ruangan di kampus elite seperti Stanford memang ide bagus. Tapi tampaknya itu tidak bisa Anda lakukan terus-menerus. Apalagi jika pihak univesitas menjuluki Anda si pemakan bandwith.

Solusinya, pada September 1998 Larry dan Sergey menyewa kantor, tepatnya garasi, yang mereka paksa menjadi kantor milik seorang teman bernama Susan Wojcicki di Menlo Park, California. Selain garasi, layanan pencarian yang dulunya sempat dinamai BackRub itu juga mulai melakukan perekrutan. Tapi mereka tidak merekrut seseorang yang berlatar belakang manajemen, akuntansi, bisnis, komunikasi atau periklanan, Noupe. Alih-alih merekrut orang non-teknis, duo pendiri Google justru merekrut Craig Silverstein yang statusnya sama seperti mereka: mahasiswa program S3 jurusan ilmu komputer di kampus yang sama, Stanford University.

Kenapa harus Craig? Karena teman mereka ini ternyata doyan data mining dan teknik pengambilan data dari sumber berskala besar seperti AltaVista, mesin pencari yang sering disebut-sebut terbaik ketika itu. Di garasi kecil dan melalui perekrutan itu, keinginan Sergey dan Larry semakin jelas: menyempurnakan Google secara teknis.

Dengan kata lain, keduanya ingin mengindeks halaman web lebih banyak lagi. Juga ingin mampu menyajikan hasil pencarian untuk para pengguna Google dengan lebih baik dan lebih baik lagi. Well …

Iklan Gratis dari PC Magazine

….. and they made it right. Dengan jutaan halaman terindeks plus desain halaman awal yang sangat revolusioner kala itu, Google secara tidak langsung “sudah mulai berani berbicara”. Pada Desember 1998, majalah yang menjadi salah satu barometer berita dunia teknologi informasi di AS—yakni PC Magazine—memasukkan Google ke dalam “Top 100 Websites in 2008”. Sungguh, ini sangat fenomenal bagi duo Google pada masa itu. Sampai-sampai keduanya hanya mencantumkan peristiwa tersebut dalam daftar kejadian bersejarah Google pada Desember 1998. Hanya tentang itu. Tidak ada lagi yang lain.

Dan yang dilakukan dua pendiri Google itu pun masuk akal. Bagi beberapa pengusaha di industri teknologi informasi, dimasukkan ke dalam katalog situs-situs bermutu oleh media ternama seperti PC Magazine “—yang kebetulan” memiliki edisi internasional—laksana iklan gratis, yang kalau harus dibayar, mungkin jumlahnya mencapai ribuan dolar AS.

Ketika Google Jadi Virus

Sejak PC Magazine memuat Google, mesin pencari hasil kreasi mahasiswa doktoral ilmu komputer Stanford itu mulai mendapatkan perhatian khalayak ramai. Tapi tentu saja itu tidak terjadi begitu saja. Proses terkenalnya Google layaknya tersebarnya virus. Yup, sesuatu yang menular. Cepat!

Sama seperti virus yang perlu inang pemicu, Google pun demikian. Tapi dalam kasus terkenalnya Google, inang pemicunya kemungkinan besar adalah rekan-rekan Larry Page dan Sergey Brin di Kampus Stanford yang sudah akrab dengan Google bahkan sejak mesin pencari ini masih bernama Backrub.

Review positif oleh PC Magazine pada Desember 1998 tampaknya menjadi keniscayaan yang wajar dan natural. Anda tahu sendiri bukan? Para pengguna awal Backrub/Google adalah para mahasiswa Stanford, sebuah kelompok khusus yang memiliki citra “cerdas” di mata orang AS. Lalu apa alasan majalah cerdas seperti PC Magazine tidak memasukkan mesin pencari baru yang digandrungi anak-anak Stanford?

All Virus are not Created Equal

Untuk menjadi wabah, virus harus benar-benar kuat. Bila tidak, ada banyak faktor yang bisa menghancurkannya. Entah datang dari proses internal di tubuh inangnya. Atau dari kondisi eksternal seperti cuaca, bakteri atau virus lain, dan sejenisnya.

Sebagai virus, Google termasuk virus powerful, bila tidak boleh dikatakan super.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kinerja Google sebagai mesin pencari bukan malah menurun seperti kebanyakan situs sejenis. Tetapi justru terus meningkat. Setiap hari, jumlah halaman web yang terindeks terus bertambah. Jumlah server dan pegawainya semakin banyak. Dan Google pun leluasa menambah sumberdayanya karena suntikan dana dari dua investor ternama di lembah Silikon: Sequoia Capital dan Kleiner Perkins—US$ 25 juta.

Suntikan dana yang hanya berjarak enam bulan dari investasi US$ 100 ribu pertama ini membuat Google semakin perkasa. Hasil pencarian yang diberikan Google tidak hanya bertambah baik. Tapi juga bertambah cepat. Pada Juni 2000, Google menjadi mesin pencari terbesar di dunia. Koleksinya 1 miliar halaman web terindeks. Tidak hanya itu. Algoritma Google juga dipakai oleh Yahoo!, sang primadona Internet di seluruh dunia pada era 1990-an. Pencapaian-pencapaian itu termasuk faktor yang membuat virus Google menyebar sangat cepat.

Google Menyediakan yang Dibutuhkan

Saat ini, 13 tahun setelah Google lahir, perusahaan yang namanya resmi menjadi kata kerja atau verb di kamus-kamus terkenal ini sudah tidak lagi berurusan dengan persoalan pencarian. Untuk mereka yang butuh e-mail, Google menyediakan GMail. Untuk yang doyan berbagi foto, ada Picasa. Bagi yang senang nonton video, ada YouTube. Yang hobi melacak berita, disediakan Google News. Yang memerlukan cek statistik situs, ada Analytics. Yang membutuhkan jejaring sosial bernuansa berbeda dengan Facebook dan Twitter, ada Google+. Butuh peta, disediakan Google Maps. Oh ya, jangan lupa yang satu ini: kalau Anda ingin selalu membawa Google kemana pun pergi, sudah disediakan Android.

Duhai, kalau sudah begini, untuk apa beriklan? Untuk apa mengiklankan produk yang sudah menjadi kebutuhan primer banyak orang di seluruh dunia?

Ingin seperti Google? Menyebarlah ke seluruh dunia laiknya virus tanpa biaya dan bertahan dalam jangka waktu yang belum terpikirkan! Begini caranya:

Fokuslah ke pengembangan dan perbaikan produk bisnis Anda.
Jadikanlah produk bisnis Anda sebagai leader di kelasnya.
Kalau sudah sukses dengan poin (2), mulailah melebarkan sayap bisnis Anda ke bidang atau produk yang lain.
Jangan lupakan poin (1) dan (2).

Selamat mencoba. Semoga sukses. Insya Allah. Amiin.***

Wim Permana, S. Kom (pengusahamuslim/baiti/i-dream)

 

Strategi dan Taktik Online Marketing

I-Dream RadioWisdom — Ketidakmampuan membedakan antara strategi dan taktik dalam online marketing dapat berakibat pada kesulitan mengkolaborasikan pemasaran online dengan offline. Penyebabnya, kebiasanaan over learning di Internet—terlalu banyak belajar, ngenet tiada henti tapi bingung harus memulai dari mana.

Wajar, karena di ranah media online, semua dapat dan berhak menulis menurut kemampuan masing-masing. Contoh kasus, pernah seorang dosen justru belajar dan meng-copy tulisan di blog seorang mahasiswanya untuk bahan kuliah. Sang dosen tak menyadari yang di-copy itu pemikiran mahasiswanya, yang kebetulan menyimak kuliahnya.

Dari sisi lain, untuk mengembangkan diri guna meningkatkan daya saing, seorang pengusaha sering berburu informasi di media online. Ratusan media dan file .pdf didownload. Namun setelah dibaca, ia gamang—hendak mulai dari mana dan dengan bentuk apa, karena kualitas tulisan blog memang sangat beragam.

Untuk itu, sebagai pengusaha dan calon pengusaha, harus memahami bahwa ketika berburu informasi di Internet seputar marketing, harus memahami mana yang masuk kategori taktik dan mana yang strategi. Sehingga jangan sampai ketika ditanya bagaimana strategi marketing yang ia terapkan, dijawab dengan mantap: dengan membagikan ribuan brosur atau memposting ke Facebook setiap hari.

Memang masyarakat masih latah jika ditanya strategi marketing secara offline. Dijawabnya dengan membuat brosur dan membagikan di perempatan jalan. Strategi marketing begitu luas, sehingga upaya membagi brosur di perempatan setiap pagi termasuk taktik, bukan strategi—masih butuh upaya lain untuk mencapai kategori strategi.

Strategi Online Marketing

Untuk meningkatkan penjualan melalui media online, kita perlu maenyusun strategi marketing. Dimulai dari kumpulan ide, lalu  perencanaan, eksekusi dan kemudian evaluasi. Orientasinya jangka panjang. Ide dan rencana bisa terinpirasi oleh faktor internal atau dari ekternal, misal pesaing atau rekan. Dalam perencanaan strategi yang sederhana, bisa tergambarkan segmen yang akan dituju, target dan positioningnya. Misal produk herbal berencana mengambil segmen pensiunan, maka positioningnya “Dengan herbal Visimaster usia boleh tua namun semangat tetap muda”.

Perlu diingat, positioning bukanlah strategi produk. Tetapi lebih condong pada strategi komunikasi, agar benak pelanggan terisi persepsi seperti yang diinginkan perusahaan. Sebagai pengusaha, Anda tidak perlu memahami konsep marketing demikian detil seperti dalam kuliah. Cukuplah memahami bahwa marketing ada sebaga ikhtiar agar hubungan antar-manusia—dalam hal ini antara penjual dan pembeli –tetap terjalin saling menguntungkan.

Lalu bagaimana mengimplementasikan perencanaan sederhana tadi di lapangan—misal melalui media, gaya bahasa dan cara distribusi informasinya? Ini masuk lingkup taktik. Misal, taktiknya membuat domain www.usiatuaceria.com yang berisi panduan menjaga kesehatan masa tua agar tetap sehat dan semangat beraktivitas, dan di setiap akhir tulisan ditawarkan produk solusinya dengan produk kita.

Taktik Online Marketing

Perbedaan nyata antara taktik dan strategi mungkin dalam buku-buku marketing uraiannya detil dan panjang. Namun karena ini dalam format pengusaha yang praktis, abaikan dahulu yang detil. Meminjam logika Karl Van Clausewits, strategi merupakan suatu seni menggunakan pertempuran untuk memenangkan suatu perang, sedangkan taktik adalah seni menggunakan tentara dalam sebuah pertempuran. Cukup jelas perbedaanya. Atau mungkin masih kurang dalam? Bisa mengunakan logika penulis: strategi itu soal “apa” yang dilakukan, sedangkan taktik itu soal “bagaimana” melakukannya.

Taktik adalah penerapan agar strategi online marketing dengan baik. Jadi, strategi itu untuk jangka panjang, sedang taktik untuk jangka pendek. Taktik menyentuh bagaimana penerapannya dan bagaimana mendekati target. Termasuk penggunaan Facebook atau social media lain, kita dapat mengamati apa yang dilakukan oleh pesaing atau rekan. Kenapa? Karena ini sudah masuk soal “bagaimana”, sehingga sebaiknya adalah yang terbaik dan ada unsur unik dibandingkan produk merk lain.

Aplikasi dalam Online Marketing

Konsep online marketing memang masih mengacu pada konsep marketing umumnya. Namun dari sisi aplikasi, perlu taktik yang berlapis-lapis. Tujuannya agar produk lebih dekat dengan pasar. Hal ini tergambarkan dalam contoh bahwa taktik yang diterapkan untuk menjangkau pasar di Facebook dapat dilakukan dengan menjaring prospek yang sebesar-besarnya di Facabook.

Rata-rata perusahaan melakukan ini, karena ini mungkin menjadi bagian strategi marketing. Namun bagaimana penerapannya? Nah, ini taktik yang bicara. Misal, untuk produk obat herbal, dengan menyusun blog-blog tentang artikel yang membahas beberapa penyakit. Misal, blog kesehatan jantung, blog kesehatan ginjal. Kemudian dalam blog diberikan badges dari Facebook agar pembaca blog dapat menjalin pertemanan di Facebook perusahaan herbal tersebut dengan mengklik, termasuk diskon khusus bagi member di Facebook.

Ini bisa menjali lapis pertama. Kemudian jika tiba-tiba pesaing meniru, kita ubah taktiknya tanpa harus mengubah strateginya. Taktik menggunakan lapis kedua. Misal, menggunakan e-book yang bisa di-download dengan header dan footer media. pdf-nya sudah ada logo perusahaan. Dalam rentang waktu tertentu, pesaing juga mengikuti. Maka kita gunakan taktik lapis tiga. Misal, dengan mengembangkan questioner dan lomba logo melalui Facebook, agar terjadi booming di beberapa komunitas online—setidaknya untuk membantu sosialisasi mereka.

Inilah gambaran perbedaan antara strategi dan taktik dalam online marketing. Seperti dicontohkan, pemanfaatan social media masuk lingkup perencanaan strategi. Sedangkan menggunakan Facebook, blog dan file download merupakan taktik. Sehingga jika suatu saat merasa penggunaan social media tidak berpengaruh pada peningkatan penjualan. Jangan menyalahkan strateginya.

Karena bisa saja taktik yang digunakan kurang pas dan tidak sehebat yang dipakai pesaing. Karena itu, upaya menggunakan social media tetap dipertahankan, karena dari sisi strategi, tujuannya agar pengusaha bisa berkomunikasi langsung dengan pelanggan, tanpa harus tergantung pada agen dan reseller.

Gunakan taktik yang kreatif, dan tetap jaga strategi jangka panjangnya.

Ipan Pranashakti (pengusahamuslim/baiti/i-dream)

 

Mengenal Iqalah – Belajar Fikih Muamalah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

I-Dream RadioWisdom— Arman membeli hp di toko A, setelah membayar, dibawa pulang. Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada orang yang

menghadiahkan HP serupa ke Arman. Diapun mengembalikan HP yang dia beli ke toko A.

Upaya yang diakukan Arman disebut Iqalah. Dia mengembalikan barang yang telah dia beli, tanpa ada hak khiyar sama sekali.

Bukan karena cacat, bukan karena perjanjian, juga bukan karena pembodohan. Tidak ada alasan apapun bagi Arman untuk

membatalkan akad jual beli HP, selain karena alasan yang sifatnya pribadi.

Iqalah secara bahasa diartikan menghilangkan (Misbah al-Munir, al-Faiyumi, 2/521). Sementara pengertian Iqalah secara

istilah didefinisikan dengan,

رفع العقد، وإلغاء حكمه وآثاره برضا طرفيه

Membatalkan akad, dengan tidak memberlakukan hukum dan konsekuensinya dengan kerelaan kedua belah pihak. (al-Mughni, 6/201,

Bada’I as-Shana’I 5/308)

Iqalah di luar hak khiyar, karena itu, penjual tidak berkewajiban untuk menerimanya. Hanya saja, dianjurkan untuk

menerimanya, sebagai bentuk berbuat baik kepada sesama.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang menerima pengembalian barang dari seorang muslim, maka Allah akan mengampuni kesalahannnya di hari kiamat. (HR.

Ahmad 7431, Ibnu Hibban 5030 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Takyif Fiqh Iqalah

Ulama berbeda pendapat dalam memahami iqalah (Ensiklopedi Fiqh, 5/326).

Pertama, iqalah adalah pembatalan akad dan bukan akad yang baru

Ini merupakan pendapat Syafiiyah, Hambali, dan Muhammad bin Hasan.

Mereka beralasan bahwa iqalah secara makna bahasa artinya menghilangkan. Dan makna istilah tidak jauh beda dengan makna

bahasa. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya iqalah, bukan ba’i (jual beli).

Diantara alasan lainnya, ulama sepakat bolehnya melakukan iqalah untuk akad salam. Sementara terdapat larangan menjual

barang sebelum diterima. Jika Iqalah dipahami sebagai jual beli, berarti iqalah dalam akad salam adalah menjual barang

sebelum diterima. (al-Muhalla, 4/9)

Kedua, iqalah adalah transaksi jual beli baru

Ini merupakan pendapat Abu Yusuf, Imam Malik, dan Dzahiriyah.

Mereka beralasan, bahwa hakekat jual beli adalah tukar menukar. Ada yang kita serahkan dan ada yang kita terima (at-

Tabadul). Dan ini ada pada iqalah. Karena transaksi itu dikembalikan kepada hakekatnya dan bukan ucapannya, sehingga iqalah

bisa disebut jual beli.

Sanggahan yang disampaikan jumhur bahwa iqalah bukan at-Tabadul, tapi Ruju’ ‘an al-Mubadalah (membatalkan serah-terima).

Sehingga tidak bisa dipahami jual beli.

Kesimpulannya, pendapat yang lebih mendekati adalah pendapat pertama, bahwa iqalah adalah fasakh akad dan bukan akad yang

baru.

Kosekuensi dari perbedaan ini adalah masalah cara penentuan nilai harga yang harus dikembalikan ke pembeli, ketika pembeli

mengembalikan barang.

Jika iqalah dipahami sebagai faskh (pembatalasan akad) dan bukan jual beli, maka ketika konsumen mengembalikan barang, maka

penjual mengembalikan uang senilai yang pernah dibayarkan. Sebagaimana sebelum terjadi jual beli.

Sementara jika iqalah dipahami sebagai akad yang baru, maka harus ada kesepakatan yang baru mengenai harga atau lainnya.

Allahu a’lam. Ustadz Ammi Nur Baits, ST, BA (pengusahamuslim/baiti/i-dream)

 

7 Peluang Bisnis yang Menguntungkan di Bulan Ramadhan yang Harus Dicoba

I-Dream RadioKeluarga — Peluang bisnis di bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi sahabat semua yang ingin  mendapatkan keuntungan yang besar. Namun jelas kita harus memahami bisnis apa saja yang memang sangat berpeluang baik dan menguntungkan. Membuka bisnis dalam bulan Ramadhan harus diniatkan dengan niat yang baik, misalnya hasil dari keuntungan yang didapat sebagian akan disalurkan untuk anak yatim dan dhuafa, lalu untuk menabung dan digunakan untuk bersilaturahim bersama handai taulan di hari raya idul fitri.

Inilah mengapa bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu tunggu oleh banyak pedagang, karena dengan keberkahan yang Allah turunkan, biasanya para pedagang akan mendapatkan keuntungan berkali kali lipat dari bulan biasanya, dan berikut ini adalah bisnis yang wajib sahabat coba dalam bulan yang penuh dengan kemuliaan.

Berjualan busana muslim.

Bisnis yang memang sangat menjamur di bulan Ramadhan ini wajib sahabat coba. Walaupun memang dalam kenyataannya banyak sekali saingan dan competitor dalam bisnis ini, namun peminat dan calon pembelinya pun sangat banyak. Ada beberapa tips yang bisa sahabat pakai dalam berbisnis busana muslim di bulan Ramadhan. Pilih model dan tipe busana muslim seperti baju koko atau gamis yang unik dan jarang ada di pasaran. Hal ini dikarenakan busana muslim akan digunakan pada saat hari raya, dan tidak jarang yang ingin tampil beda dan modis di hari raya.

Berjualan minuman dingin atau es.

Suasana Ramadhan memang sangat cocok untuk selalu menikmati minuman yang segar dan dingin. Inilah mengapa berjualan es buah, sirup dan minuman lainnya menjadi peluang bisnis yang amat menguntungkan. Tips bagi sahabat sekalian dalam berjualan es atau minuman segar di bulan Ramadhan adalah, jangan pelit akan bahan baku. Lebih baik menaikkan harga sedikit lebih mahal, namun kaya akan rasa da nisi, daripada kita berkutat menekan harga modal untuk mendapatkan keuntungan yang banyak. Kuncinya lebih kepada banyaknya penjualan dengan mengambil margin keuntungan yang tidak terlalu besar.

Jual kue kering untuk hari raya idul fitri.

Hampir sama dengan berjualan es, perkaya kue dengan resep dan bumbu yang ciamik, sehingga unggul dalam rasa. Selain itu  persiapkan tester yang memang kita harus mempersiapkan modal diawal. Dari segi packaging atau kemasan juga baiknya kita rancang dengan sebaik mungkin, dan jika sahabat serius persiapkan brand yang mudah diingat oleh pembeli.

Jualan sarung dan mukena.

Ramadhan adalah bulan ibadah, sehingga banyak orang menginginkan peralatan ibadah juga fresh dan baru. Sarung dan mukena adalah hal yang paling lazim digunakan untuk beribadah, oleh karenanya langkah awal, sahabat baiknya mencari supplier atau produsen dari produk ini yang berkualitas dan bersaing masalah harga. Siapkan juga untuk anak anak, karena modelnya pasti lebih fun dan lebih banyak ragamnya. Jika dirasa modal masih sedikit, jadilah dropshipper asal kualitasnya sudah diketahui baik. Namun jika memiliki modal, jangan ragu untuk melakukan stok.

Berjualan makanan ifthor.

Makan untuk hidangan berbuka merupakan peluang bisnis yang sangat menggiurkan. Mulai dari gorengan, roti, hingga beragam makanan yang unik dan menggugah selera sangat memungkinkan dagangan kita akan laris manis. Lagi lagi kunci dalam menjual makanan adalah tidak pelit dengan bumbu, sehingga rasa yang kita jual akan terus teringat oleh pelanggan yang membeli makanan kita.

Rental Kendaraan (Mobil atau Motor)

Bagi sahabat yang memiliki kenalan teman atau rekanan yang memiliki kendaraan namun jarang dipakai. Hal tersebut bisa menjadi peluang bisnis di bulan Ramadhan. Khususnya sahabat yang berada di daerah (Bukan Jabodetabek) hal ini pastinya akan menjadi alternatif peluang usaha yang sangat menggiurkan. Menjelang hari raya idul fitri pasti banyak orang orang kota yang mudik ke daerah asal, dan yang tidak menggunakan kendaraan dari asal Jabodetabek pasti membutuhkan kendaraan dan ini menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan.

Berbisnis parsel lebaran.

Parsel lebaran adalah usaha musiman yang hadir menjelang hari raya idul fitri, oleh karena itu bisnis ini pasti akan melimpah ruah di bulan Ramadhan. Kami menyarankan bagi sahabat yang ingin berusaha parsel lebaran sudah memiliki rekanan atau kenalan di berbagai perusahaan, karena parsel lebaran biasanya pelanggannya adalah kantoran yang akan memberikanhadiah berupa parsel untuk rekanan bisnisnya.

Semoga artikel singkat tentang 7 peluang bisnis yang menguntungkan di bulan ramadhan bisa menjadi ide yang bisa dijalankan oleh sahabat semua. Namun yang terpenting bisnis yang kita lakukan di bulan Ramadhan jangan sampai melalaikan kita dari beribadah kepada Allah, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan limpahan pahala dari Allah. (ummi/baiti/i-dream)

Kisah Ny. Tukimin Pensiunan Produktif: Berkarya dari Rumah dengan Salon Muslimah

I-Dream RadioKeluarga — “Jangan sebut aku wanita sejati jika hidup hanya bisa berkalang laki-laki. Namun, bukan berarti aku tidak butuh laki-laki di dunia ini untuk aku cintai.” (Nyai Ontosoroh dalam Novel Bumi Manusia)

Sebagai wanita yang bijak, sudah seharusnya kita tidak terlena dengan fasilitas/kemudahan yang ada. Semua bisa berubah  sewaktu-waktu. Seperti apapun kondisi kita saat ini, penting bagi seorang wanita untuk bisa mandiri.

Menjadi mandiri tidak berarti tidak butuh siapa-siapa. Menjadi mandiri bisa diartikan juga sebagai sikap bisa menempatkan diri dan mampu berkreativitas di mana pun ia berada. Mandiri juga berarti mampu mengubah kesulitan menjadi peluang, tidak mudah mengeluh, dan selalu bisa menemukan celah untuk bisa berkarya di mana pun bumi dipijak. Begitu menurut Ny. Tukimin,

Ibu paruh baya yang saya kenal baik di salah satu organisasi kewanitaan di Balikpapan yang sehari-hari bergelut dengan usaha salon muslimahnya. Menurut beliau yang sudah menggeluti usaha salon sejak 2012 ini, seharusnya tidak ada istilah menganggur selama nyawa masih melekat. Beliau yakin bahwa setiap orang memiliki hobi yang unik yang jika ditekuni akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Beliau sendiri memilih usaha salon muslimah karena hobi. Pengetahuan terkait perawatan wajah dan tubuh dengan benar beliau dapatkan dari kursus yang sekarang menjamur.

Tidak perlu pusing dengan modal yang besar untuk memulai usaha. Rumah pun bisa disulap menjadi tempat kerja produktif seperti halnya yang dilakukan oleh Ny. Tukimin. Konsumen pun merasa lebih nyaman karena tempatnya homy. Dengan dibantu oleh beberapa asisten, Ny. Tukimin membantu para wanita (muslimah) yang tampil cantik tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Di akhir, beliau menambahkan bahwa menjadi wanita kreatif itu wajib hukumnya. Kreativitas membuat kita sibuk. Dan, kesibukan membuat kita terhindar untuk memikirkan hal-hal negatif yang tidak bermanfaat. Galilah potensi diri, jangan pernah diendapkan. Sekecil apapun itu, dengan dipoles oleh kreativitas, maka akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, seperti halnya Ny. Tukimin yang menyulap rumahnya menjadi (kantor) salon muslimah yang menjangkau hampir seluruh masyarakat Balikpapan. []

(Wawancara atau lebih tepatnya ngobrol santai dengan beliau ini saya lakukan tahun 2016 ketika masih aktif sebulan sekali menyambangi salon muslimah beliau sebagai customer. Iseng-iseng inspiratif ceritanya. Saya paling suka dengerin cerita-cerita dari orangtua/orang sepuh jadi bisa belajar gituu. Yang udah pensiun aja semangat, yang masih seger waras ndak boleh kalahh. Huehehe)

Miyosi Ariefiansyah (ummi/baiti/i-dream)