Hal-Hal Penting yang Diajarkan pada Muallaf

Allah berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Sudah menjadi fitrah manusia untuk mencari kebenaran tentang siapa sesungguhnya sang Pencipta alam semesta ini. Hal itulah yang kerap menjadi alasan dan motivasi kaum muslimin yang pernah menyandang gelar muallaf meninggalkan keyakinan lama mereka dan menuju kepada kebenaran Islam.

Dakwah kepada nonmuslim bukanlah seuatu yang mudah, realita di lapangan menyuguhkan kepada kita tentang rentetan pertanyaan kritis tentang kebenaran Islam yang seringkali bagi sebagian muslim pun tidak mudah untuk dijawab. Diperlukan keluasan ilmu dan wawasan untuk membimbing seorang muallaf agar semakin kuat keimanan dan keislamannya, sebagimana firman Allah di atas.

Terkait hal tersebut, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir, KH. Agus Setiawan, Lc. MA menceritakan pengalamannya selama berdakwah di 5 benua. Salah satunya adalah pengalaman yang bagus di sebuah masjid di Korea Selatan. Masjid tersebut berlantai dua, dimana lantai dasarnya dijadikan kelas-kelas bimbingan Islam, dan secara jujur beliau sendiri mengatakan “tidak berani” untuk mengajar di kelas-kelas itu.

Menurut beliau, kelas bimbingan di masjid itu sangat “menantang”, mulai dari kelas yang sangat awam misalnya, dimana bahasannya yang bagi kita muslim sudah tidak pernah ditanyakan lagi. Seperti pertanyaan “Kenapa kita harus beriman dengan adanya Tuhan?” lalu dari sekian Tuhan yang ditawarkan Kristen, Hindu, Budha, mengapa harus memilih Allah?”

Lebih menarik lagi di kelas lanjutannya yang membahas “Kenapa perlu adanya Rasul?” Nah kalau kita katakan Rasul itu akan mengeluarkan kita dari kegelapan/jahiliah kepada terangnya Islam, maka muncul pertanyaan berikutnya dari mereka, “Bukankah kita sekarang juga perlu Rasul untuk tujuan itu, lalu mengapa sekarang tidak ada Rasul lagi?

Oleh karena itu memang diperlukan ilmu dan juga pengalaman yang baik untuk menghadapi situasi dan pertanyaan tersebut. KH. Agus Setiawan, Lc. MA juga mengatakan beliau pernah tertarik dengan pertanyaan seorang ulama di Mesir yang bernama Syekh Hani At Tantawi, “Kalau ada orang nonmuslim ataupun dia muallaf kemudian bertanya tentang Islam dan dia cuma ada waktu 30 menit. Bagaimana anda menjelaskan Islam? Pertanyaan ini lahir dalam benak beliau karena memang dalam sejarah Mesir pernah dijajah oleh negara-negara barat seperti Portuigis, Prancis dan Inggris yang nota bene adalah nonmuslim.

Lazimnya kita berpikir, berbicara Islam jika dirunutkan tentu ada banyak yang harus dijelaskan mulai Quran, kemudian ada hadis, lalu Quran ini ada sekian ribu ayat, hadits ada yang shahih, dhaif, dan maudhu, belum lagi ada yang namanya Ijma’. Kalau itu yang dihadapkan kepada muallaf, yang ada belum apa-apa mereka sudah pening duluan sebelum belajar Islam.

Atas keadaan itu, maka Kemudian beliau mengarang sebuah buku yang berjudul “Ta’rif ‘Aam Bi Din Al-Islam” atau “Definisi Global tentang Islam”.

Dalam buku itu beliau mengibaratkan Islam itu bagaikan sebuah pertandingan yang ada rule/peraturannya dan lain sebagainya.  Jadi pada intinya kita semua seharusnya memiliki kemampuan untuk mendefinisikan Islam secara utuh kepada nonmuslim atau pun muallaf.

Lalu dari mana memulainya, atau apa yang penting untuk didahulukan?

Pertama, mulailah dari hati, dimana kita menunjukkan Islam melalui kemuliaan dan keagungan akhlak yang ada dalam ajaran Islama.

Kedua, kemudian setelah itu masuk bab keimanan. Ajarkan kepercayaan dengan adanya Allah, terangkanlah sifat-sifat Allah.

Ketiga, setelah paham tentang iman kepada Allah, ajarkanlah kemudian tentang salat. Mulailah dari menghafal bacaan surah Al Fatihah, karena ini adalah bacaan yang rukun.  

Wallahu’alam

Abi Kenji

The post Hal-Hal Penting yang Diajarkan pada Muallaf appeared first on bersholawat.id.