Ramadhan Bahagia Jufi Salurkan 125 Paket Pangan Lebaran dan 200 Paket Takjil

BEKASI–Kegembiraan terpancar di wajah Nurdiansyah (39), ayah dari lima anak ketika terima bantuan paket pangan Lebaran dari Jurnalis Filantropi Indonesia (Jufi). Laki-laki berstatus guru ngaji di Sukatenang, Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ini tidak cukup sekali mengucapkan rasa syukur dan terima kasih.

“Alhamdulillah, saya berterima kasih telah diberi bantuan. Saya agak kaget ketika tiba-tiba didatangi teman-teman jurnalis filantropi dan diberi bantuan,” kata Nurdiansyah, Sabtu (1/5/2021).

Menurut Nurdiansyah, paket pangan Lebaran ini sangat membantu di tengah masa pandemi yang belum juga mereda. Selama ini, Nurdiansyah tinggal di sebuah bangunan mangkrak. Di bangunan itulah ia beserta sang istri mengajarkan Quran kepada anak-anak kampung.

Namun, lebih dari setahun belakangan ini pengajian dihentikan sementara akibat pandemi. Saat ini Nurdiansyah tak memiliki mata pencaharian tetap.

“Untuk sehari-hari kami makan dari hasil menanam di lahan nganggur,” jelas Nurdiansyah.

Paket pangan Lebaran juga diberikan kepada Gibral Hakim (30), berprofesi ojek daring. Ia mengaku senang menerima bantuan dari Jufi. “Terima kasih bantuannya. Ngojek lagi sepi gini, Alhamdulillah dapat bantuan,” kata Gibral yang biasa menarik penumpang di wilayah Bekasi.

Program bantuan paket pangan Lebaran merupakan rangkaian kegiatan Ramdhan Bahagia 2021 yang diselenggarakan Jufi. Sebanyak 125 paket pangan Lebaran senilai Rp200.000 per paket disebar di Bekasi, Depok, Jakarta, dan Tangerang.

Adapun isi paket: beras, minyak, gula, kopi, teh celup, kurma, sirup, sarden, sari kelapa, dan susu. Paket disalurkan kepada marbot, guru ngaji, yatim, dhuafa dan pekerja informal.

Selain itu, Jufi juga menyebar bantuan takjil sebanyak 200 paket senilai Rp20.000 per paket. Adapun isi paket: nasi, ayam goreng tepung, minuman teh dalam kemasan kotak dan vitamin C. Paket takjil diberikan kepada pengguna jalan di sejumlah titik Bekasi, Jakarta, dan Depok.

Program Ramadhan Bahagia terlaksana atas kerjasama Jurnalis Filantropi Indonesia (Jufi) dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), YBM PLN, Amanah Astra, Bank Muamalat, BCA Syariah, Yayasan Hasanah Titik dan SMP Pesantren Cendekia Amanah.

“Program Ramadhan Bahagia merupakan komitmen kami membantu sesama wabil khusus di bulan puasa,” kata Wiyanto, Ketua Panitia Ramadhan Bahagia, saat diwawancara, Ahad (2/5/2021).

Jurnalis media daring Industry.co.id ini mengatakan, membantu kalangan mustadh’afin merupakan kebahagian tersendiri. Tak lupa ia menyampaikan terima kasiih kepada para sponsor dan donatur.

“Kami ucapkan terimakasih sehingga program Ramadhan Bahagia dapat berjalan dengan baik,” ujar dia.**

Fikih Pakaian dan Perhiasan

📚 Tema: “Fikih Pakaian dan Perhiasan”

🎤 Narasumber : Ustadzah Herlini Amran, M.A
============================

 

Link Streaming Radio
Official Website Radio Garden Online Radiobox

Yuk ikutan menjadi sahabat radio I-Dream
Isi Formnya disini: http://bit.ly/SurveyIdream

============================
*::Follow Sosial media kami::*
✅ FB : fb.me/idreamradio1044
✅ IG : instagram.com/idreamradio
✅ Web: idreamradio.id
✅ Telegram : s.id/zMNhX
✅ WA Group : s.id/zMMUO

 

Halal, Haram dan Syubhat dalam Islam

Sebagai Muslim, kita perlu mengetahui halal dan haram menurut Islam. Dalam tulisan berikut akan kami bahas pengertian, contoh, dan mengapa Islam sangat mementingkan kehalalan apa yang kita gunakan.

Dalam hidup, ada hal yang bermanfaat dan ada yang mengandung mudharat (bahaya), ada positif dan ada negatif. Maka juga ada yang halal dan ada yang haram.

Yang bermanfaat dihalalkan oleh Allah SWT. Sedangkan yang mengandung mudharat dan berbahaya diharamkan Allah SWT. Perbedaan antara yang halal dan haram itu sangat jelas.

Namun di samping itu, terdapat juga hal-hal lain yang halal dan haramnya tidak jelas. Hal-hal itu disebut syubhat. Berada pada posisi abu-abu. Dibiarkan Allah SWT, untuk menguji keimanan manusia dalam hidupnya. Kehati-hatian di sini indikasi ketakwaan.

Aturan Syariat Islam

Islam adalah agama yang tegas memilah antara yang baik dan yang buruk. Pemilahan itu terangkai dan terangkum dalam aturan bernama syariat. Syariat ini menjelaskan antara yang baik dan tidak baik, antara yang halal dan haram.

Tujuan adanya syariat adalah untuk menjaga “kepentingan” manusia, agar istikomah pada yang baik dan benar, sehingga derajatnya mulia, di dunia dan akhirat.

arena mulia hati seseorang terletak dari takwanya kepada Allah SWT. Di antara barometer takwa adalah kedisiplinannya terhadap masalah halal-haram, dan hati-hatinya terhadap yang syubhat.

Jika ingin mulia di Sisi Allah SWT, hendaknya tunduk kepada syariat. Dengan penuh keyakinan bahwa haram pasti mudharat, halal pasti baik.

Hati mulia tak mungkin kita raih tanpa komitmen ini. Satu-satunya jalan adalah syariat. Salah jika ingin mulia tanpa melalui syariat.

Apa Itu Halal?

Pengertian halal dalam Islam adalah segala hal yang boleh dalam syariat dalam segala bentuknya. Contohnya makanan dan minuman yang kita konsumsi seperti nasi, roti, madu, daging sapi, susu, dan sebagainya. Atau pekerjaan dan cara mencari rezeki, contohnya bekerja, jual beli, sewa menyewa, dan sebagainya.

Yang halal dalam Islam sangatlah banyak. Kaidah halal adalah “Hukum asal dari muamalah adalah halal, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.”

Cara sederhana untuk mengetahui sesuatu itu halal dalam Islam adalah dengan melihat apakah mengandung madharat (bahaya) atau tidak. Lalu apakah ada hal yang mengandung larangan dalam masalah tersebut atau tidak. Jika tidak mengandung bahaya dan tidak ada larangan, serta membawa maslahat, berarti hal tersebut halal.

Apa Itu Haram?

Definisi haram dalam Islam adalah segala sesuatu yang ada larangannya dalam syariat, memiliki dampak mudharat (bahaya). Baik dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi, contohnya babi, khamar, dan sesuatu yang menjijikkan. Atau dalam pekerjaan dan mencari rizki, contohnya mencuri, korupsi, memakan riba, memakan harta orang dengan cara yang tidak benar, dan sebagainya.

Yang haram dalam Islam jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan yang halal. Hal-hal haram dalam Islam pada umumnya termaktub secara jelas dan tegas dalam syariat, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Sunnah.

Cara untuk mengetahui yang haram dalam Islam adalah dengan melihat larangan-larangan dalam syariat. Segala yang ada larangannya, atau memiliki dampak negatif (berbahaya) adalah haram hukumnya dalam Islam.

Apa Itu Syubhat?

Sedangkan pengertian syubhat dalam Islam adalah segala hal yang syariat tidak menjelaskan secara jelas; apakah hal tersebut boleh atau tidak? Wilayah syubhat ini merupakan wilayah yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya, sehingga banyak yang jatuh di dalamnya.

Pada hakekatnya syubhat dalam Islam adalah bagian dari yang terlarang. Karena dalam hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa “Barang siapa yang terjerumus pada sesuatu yang syubhat, sesungguhnya ia terjerumus pada sesuatu yang haram.”

Sebaliknya ciri orang yang bertakwa adalah orang yang selalu menjauhkan diri dari syubhat. Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang hamba tidak akan mencapa derajat muttaqin, hingga ia mampu untuk meninggalkan sesuatu yang (seolah) tidak ada apa-apanya, karena khawatir ada apa-apanya.” [HR. Tirmizi].

Maksud, pengertian, dan pembatasan halal haram dalam Islam ternyata sangat jelas. Syariat Islam bertujuan mempermudah dan tidak menyulitkan kehidupan manusia. Oleh karena itu semua makanan misalnya, adalah halal kecuali yang ada larangan mengkonsumsinya. Halal luas, haram sempit. (sof1/mukjizat.co)

 

Sumber: https://mukjizat.co/index.php/2021/03/08/halal-haram-dan-syubhat-dalam-islam/

25 Persiapan Meraih Lailatul Qadar

Persiapan meraih Lailatul Qadar harus kita lakukan untuk bisa meraih dan mendapatkan keutamaannya. Seperti kita ketahui, malam mulia ini lebih baik daripada seribu bulan. Ibadah pada malam Al-Qadar akan sangat bernilai.

Ketika hampir barakhir, hari-hari bulan Ramadan semakin bernilai. Di saat orang-orang sibuk menyiapkan perayaan lebaran, alangkah baiknya kita tetap fokus beribadah di 10 hari terakhir di bulan Ramadan, terutama malam-malam ganjilnya. Itu adalah nasihat dan tuntunan Rasulullah SAW di bulan Ramadan ini.

Apa Persiapan Kita Untuk Meraih Lailatul Qadar?

  1. Beristirahatlah secukupnya di siang hari untuk bisa lebih lama terjaga di malam harinya.
  2. Jangan makan berlebihan agar ringan dalam melaksanakan ibadah.
  3. Harus memasang tekad kuat untuk bertaubat di malam penuh berkah ini.
  4. Perbanyak doa dan istighfar untuk sesama umat Islam.
  5. Fokus dan mengerahkan seluruh jiwa raga kepada Allah SWT, sehingga dalam hati dan pikiran hanya ada Allah SWT.
  6. Hindari perdebatan dengan sesama, dan lebih baik memaklumi dan memaafkan kesalahan orang lain.
  7. Fokus pada kualitas ibadah kita, jangan hanya memikirkan banyaknya ibadah kita. Usahakan ada kehadiran hati dalam setiap ibadah kita.
  8. Keikhlasan dalam berdoa dan beribadah jauh lebih baik daripada banyaknya rakaat shalat kita tapi tanpa mengingat Allah SWT.
  9. Berusahalah untuk selalu dalam kondisi suci pada malam ini.
  10. Yakinlah bahwa Allah SWT mengabulkan doa kita, karena tidak yakin bisa menjadi penghalang pengabulan doa.
  11. Berdoa dengan penuh pengharapan dan memelas, karena hal itu sangat Allah SWT cintai.
  12. Banyaklah beristghfar untuk semua perbuatan dosa yang pernah kita lakukan, dan memohonlah kepada Allah SWT semoga menghapus dosa-dosa tersebut.
  13. Perbanyak zikir istighfar dalam bershalawat kepada Rasulullah SAW., dan memohon keridhaan untuk para sahabat beliau.
  14. Ulangi terus doa yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita (اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا).
  15. Sering-seringlah berdoa agar kita termasuk orang-orang yang Allah SWT bebaskan dari api neraka.
  16. Mohonlah kepada Allah SWT untuk mempermudah rezeki yang halal dan memperbaiki kondisi hidup kita, baik sisi dunia maupun sisi agama.
  17. Banyak berdoa (ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين).
  18. Berdoa dengan penuh keikhlasan untuk kebaikan pasangan hidup kita, baik suami maupun istri, semoga dia mendapatkan kondisi hidup yang lebih baik dan hati yang lebih tenang.
  19. Perbanyak memanjatkan doa saat dalam kondisi bersujud. Karena saat itu kita sedang sangat dekat dengan Allah SWT.
  20. Perpanjang waktu sujud kita, karena Rasulullah SAW bersabda, “Punggung kalian keberatan dengan banyaknya dosa, maka ringankanlah dengan sujud yang panjang.”
  21. Jangan sia-siakan waktu barang sedikit pun, karena hembusan rahmat Allah SWT pada malam ini sungguh sangat kuat dan banyak.
  22. Bacalah Al-Qur’an sebanyak kita mampu.
  23. Peristiwa Lailatul Qadri terus berlangsung hingga fajar menjelang, jangan terlalu cepat dan mudah beristirahat dari ibadah.
  24. Mulai bersyukurlah kepada Allah SWT karena telah mendapatkan taufik dan hidayah-Nya sehingga bisa beribadah pada malam ini.
  25. Jangan lupa bersedekah semampu kita, karena pahala sedekah sangat besar pada malam ini

Orang yang meraih Lailatul Qadar adalah orang yang bisa maksimal dalam melaksanakan ibadah dan amal kebaikan pada malam mulia ini. Karena itu sangat tergantung pada apa yang dia lakukan dalam  persiapan meraih Lailatul Qadar. (sof1/mukjizat.co)

 

Sumber: https://mukjizat.co/index.php/2021/04/27/25-persiapan-meraih-lailatul-qadar/

10 Nasihat Agar Tetap Semangat Membaca Al-Qur’an

Tilawah atau membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan yang sangat besar. Bagaimana agar tetap semangat? Berikut 10 nasihat agar tetap semangat membaca Al-Qur’an.

Orang yang bisa selalu dekat dengan Al-Qur’an adalah telah mendapatkan nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Karena masih banyak orang yang kesulitan meninggalkan hal-hal yang menyibukkan mereka dari Al-Qur’an.

Mari Renungi Nasihat-Nasihat Para Ulama Ini

  1. Sangat penting memiliki mushaf yang mudah kita bawa ke mana-mana. Ini adalah harta paling mahal untuk kebahagiaan hati kita.
  2. Mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kebutuhan mendesak baik untuk dunia maupun akhirat, hendaknya menjadi prioritas sehari-hari kita.
  3. Fisik kita membutuhkan tiga kali makan setiap harinya, demikian juga ruh membutuhkan makanan secara berkala jika kita ingin ruh tetap hidup dengan baik.
  4. Relakah kita kehilangan kesempatan pengabulan doa-doa kita yang diaminkan oleh para malaikat saat kita mengkhatamkan Al-Qur’an?
  5. Apakah kita menunggu bulan Ramadan yang akan datang hanya untuk membaca Al-Qur’an? Padahal bulan Ramadan tidak sedang menunggu siapa-siapa.
  6. Al-Qur’an adalah obat bagi kesembuhan ruh dari berbagai penyakitnya, kenapa kita masih mengeluhkan rasa sakit padahal kita memiliki obatnya?
  7. Bantulah orang lain agar juga bisa membaca, karena zakat bacaan kita adalah membantu orang lain.
  8. Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka jangan bantu setan mengalahkan saudara kita sendiri dengan menyibukkannya pada hal yang kurang bermanfaat.
  9. Lisan yang berkata manis, bicara yang selamat dari dosa, berpikir dengan benar, dan pertolongan Allah SWT, semua itu ada karena ada Al-Qur’an bersama kita.
  10. Al-Qur’an adalah penyejuk hati, lalu kenapa kita rela hati kita kekeringan sehingga kehilangan kebahagiaannya?

Merenungi dan menjalan nasihat-nasihat agar tetap semangat membaca Al-Qur’an bisa menguatkan hati kita agar terus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Membaca, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan. Semoga kita menjadi umat terbaik, dengan Al-Qur’an.(sof1/mukjizat.co)

Sumber:https://mukjizat.co/index.php/2021/04/27/10-nasihat-agar-tetap-semangat-membaca-al-quran/

Urban Sufism: Moderasi antara Tradisionalis dan Modernis pada Muslim Perkotaan

Fenomena tumbuh suburnya majelis dzikir dan majelis ilmu di kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Jakarta dan kota tetangga penyangga Ibukota, merupakan sebuah pertanda dan respon baik masyarakat perkotaan akan Islam. Munculnya perhatian masyarakat kota akan spiritualitas merupakan bagian dari konsekuensi atas teralienasinya manusia dari kehidupannya sendiri sehingga manusia kota merasakan kehampaan dan kegersangan dalam kehidupannya. Urban sufism sendiri hadir dalam upaya memberikan kontribusi membantu masyarakat urban untuk memiliki ketenangan batin di tengah kesibukan keseharian kota yang dilingkupi atmosfer materialistik.

Kecemasan psikologi (psychological anxiety), kerinduan akan spiritualitas (longing for spirituality), kesadaran baru (new consciousness), dan adanya kekacauan dunia (worldy chaos) setidaknya menjadi alasan mendasar bagi masyarakat kota untuk semakin memperbaiki hubungannya dengan Tuhan. Dan beberapa hal di atas pula yang kemudian mendorong munculnya fenomena urban sufism seperti yang dimaknai oleh Jaman Arraisi tentang spiritual healing dalam tradisi Islam.

Urban  sendiri mencakup berbagai fenomena pergerakan spiritual masyarakat perkotaan. Kategori urban sufism tidak hanya berfokus pada fenomena tasawuf konvensional seperti yang ditampakkan komunitas Tarekat Qadiriyyah-Naqsabandiyyah, Tarekat Alawiyyah, Tarekat Syadziliyyah, dan berbagai komunitas tarekat lain, namun juga fenomena majelis ilmu serta ritual dzikir–doa yang tidak berbasis tarekat seperti Majelis Dzikir Az-Zikra Ustadz Arifin Ilham, Majelis Doa Ustadz Haryono, Manajemen Qalbu Aa Gym, dan berbagai majelis serupa.[2] Komunitas lain yang muncul pada masyarakat perkotaan adalah Majelis Ilmu yang disampaikan secara ramai baik melalui pengajian di perkantoran maupun virtual oleh Ustadz Salafy (sebagian menyebut dengan Wahabi) seperti Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Nuzul Dzikri, dan yang lainnya. Komaruddin Hidayat melihat setidaknya ada empat alasan mengapa urban sufism semakin berkembang di kota-kota besar di Indonesia: pertama, sebagai sarana pencarian makna hidup; kedua, menjadi sarana pergulatan dan pencerahan intelektualitas; ketiga, sebagai sarana terapi psikologis; keempat, sarana mengikuti trend perkembangan wacana keagamaan.[3]

Dalam konteks pertentangan tasawuf tradisionalis dan modernis, sebuah pemaparan tentang “Sufism and the Indonesian Islamic Revival”, ditulis oleh Howell (2011) mengisahkan bahwa tasawuf di Indonesia menghadapi tantangan baik dari kalangan Wahabi maupun modernis. Wahabi menilai bahwa Islam perlu disucikan dari praktik-praktik yang tidak Islami seperti menyanjung makam, tawasul, dan praktik lain yang lazim di kalangan pengikut sufi. Bersamaan dengan itu, dalam pandangan Muslim modernis, tasawuf menjadi salah satu penyebab utama kemunduran peradaban Islam. Kaum modernis berpendapat bahwa dengan ruh rasionalitas Islam dan tanpa aspek ‘mistik’, Islam dapat melampaui peradaban dunia. Padahal akar pemikiran Islam dan modernisasi masuk ke Indonesia sejak abad ke-17 M (Azra 1999), tantangan kaum modernis terhadap tasawuf ini dilembagakan di Indonesia pada awal abad ke-20 M.[4]

Dalam ruang lingkup berbangsa dan bernegara, moderasi menjadi sebuah titik tengah antara pendapat tradisionalis dengan komunitas konvensionalnya dan modernis yang berfokus pada gerakan penyucian hati tanpa perlu masuk dalam proses bai’at sebagaimana dilakukan oleh komunitas tarekat. Kita harus mengakui bahwa baik kelompok tradisionalis maupun modernis sama-sama memiliki tujuan kebaikan yakni untuk mengisi relung kehampaan dan kegersangan masyarakat kota akan spiritual. Maka, saling menghormati adalah sebuah kunci. Hal ini selaras dengan sebuah pemaknaan bahwa moderasi adalah upaya intermediasi antar kelompok yang berbeda agar terjadi saling memahami dan dapat membangun kepercayaan satu sama lain. Intermediasi ini dilakukan dengan membuka dialog dan bersikap terbuka dengan tetap memiliki prinsip pada kebenaran yang hakiki.[5]

Bagaimana kita memegang teguh sebuah prinsip haruslah ditunjukkan dengan sebuah sikap yang bersahabat dan kemauan untuk berdialog sehingga tidak menimbulkan friksi dan kekakuan dengan pihak lain. Dengan demikian, moderasi kita artikan sebagai suatu sikap yang dapat selalu kita jadikan acuan dasar untuk menyikapi dan memaknai berbagai situasi yang terjadi. Sebagai penutup, penulis ingin mengutip sebuah ayat akan moderasi dan toleransi pada QS. Al-Baqarah: 256, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama.” Sungguh ketika ayat ini dimaknai lebih dalam, niscaya masing-masing umat Islam akan menghormati dan bertoleransi akan pilihan orang lain dengan tetap mengedepankan ukhuwah, upaya kolaborasi untuk bersama menyirami kegersangan, mengedepankan persatuan Indonesia, serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

————————————————–
Referensi:
[1] Fahrudin Alwi, mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik Global (SKSG) Universitas Indonesia dengan konsentrasi Islamic Studies. Saat ini aktif sebagai peneliti di InMind Institute (Inisiatif Moderasi Indonesia).
[2] M. Misbah (2011). Fenomena Urban Spiritualitas: Solusi Atas Kegersangan Spiritualitas Masyarakat Kota. Purwokerto: Journal Komunika.
[3] Oman Fathurrahman (2007). Urban Sufisme: Perubahan dan Kesinambungan Ajaran Tasawuf. CSIS Jakarta.
[4] Azyumardi Azra., A. (1999). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.
[5] Hardiyanto Widyo (2020). Inisiatif Moderasi Indonesia. Jakarta: InMind.id