Komitmen Muslim Sejati

I-Dream RadioWisdom — Depok – Rabu (15/08) Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI (STEI SEBI), mengadakan acara PROPEKA 2017 (Program Pengenalan Kampus) dengan tema ‘’Get Success With Sebi: Believe ALLAH Believe Yourself To Achive Your Future”. Acara ini dilangsungkan pada tanggal 14 – 17 agustus 2017 yang bertempat di Sebi Hall, STEI SEBI.

Salah satu rangkaian acara pada hari ini di isi dengan talk show bedah buku karya Dr. Fathi Yakan yang berjudul “Komitmen Muslim Sejati” bersama Ustadz Anwar Nasihin, yang di moderatori oleh Hari Dwi Cahya selaku ketua umum Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Birru SEBI. “Point-point yang harus di miliki sebagai muslim salah satunya ada dalam Al-baqarah : 208 “wahai orang-orang yang beriman….” kalimat ini menyeru kepada sesuatu yang dilakukan secara berjamaah, dan ini selalau ada pada setiap panggilan Allah dalam Al-Qur’an yang menyerukan untuk melakukan segala sesuatu secara berjamaah.” Ucapnya.

Ustadz Anwar juga menyampaikan “Kita mengambil pelajaran yang telah terjadi dari sejarah Indonesia yang hadir saat awal penjajahan di negeri pertiwi ini adalah karena belum terbentuknya satu kesatuan yakni masih di pimpin oleh raja-raja yang notabenenya adalah memegang kekuasaan sendiri-sendiri sehingga logikanya harus dipertanyakan kalau rakyat indonesia berjumlah lebih dari 100 juta jiwa tapi bisa kalah dengan kompeni atau rakyat belanda yang dahulu totalnya hanya berjumlah 7000 orang karena tidak ada persatuan yang mendasari suatu kekuatan ini di sinilah pentingnya ukhuwah atau berjamaah”.

Di akhir sesi beliau menyampaikan “Jama’ah yang kokoh terjalin dari ukuwah, saling memahami, lalu melahirkan cinta dan itu semua merupakan bagian dari dakwah yang di dasari dengan pembinaan, lalu bergerak melahirkan rasa optimis di landasi dengan ruh islam yang melekat sebab, ajaran-ajaran Islam ada di dalam ruhnya sehingga saat membayangkan sesuatu yang menyeramkan tidak akan mengecilkan langkahnya untuk menyerukan sesuatu yang salah, inilah hakikatnya komitmen muslim sejati.” Pesannya.

Acara di akhiri dengan sesi foto bersama dan juga pemberian cendra mata yang di wakili oleh Ahmad Nur Aziz selaku ketua pelaksana PROPEKA 2017. (sebi/baiti/idream)

Mudah Hafal Sulit Lupa

I-Dream RadioWisdom — Depok – (12/08) Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI mengadakan acara tahunan untuk para calon mahasiswa baru yang bernama PROPEKA (Program Pengenalan Kampus) 2017 dengan tema “Get Success With Sebi: Believe ALLAH Believe Yourself To Achive Your Future”. Acara ini dilangsungkan pada tanggal 14 – 17 agustus 2017 dan technical meeting pada tanggal 12 agustus 2017. Acara ini bertempat di Sebi Hall, STEI SEBI.

Pada technical meeting ini diisi dengan pelatihan atau sharing mengenai Learning Skill yang bertemakan “Mudah Hafal Sulit Lupa” langsung dibawakan oleh Asep Ihsanudin dari Sekolah Guru Indonesia (SGI). “Dalam otak ada belahan kanan dan juga kiri dan umumnya manusia itu membawa satu otak, baik bagian kanan maupun kiri, otak kanan bersifat imajinatif, seni. Juga otak kiri bersifat tematik, analisis dan sebagainya.”

Beliau juga memaparkan cara yang jitu untuk menghafal yang sulit lupanya “Kuncinya agar Mudah Ingat Sulit Lupa”  adalah :

Memperbanyak koneksi otak baik itu dalam Membentuk koneksi yang ada dan juga membuat koneksi baru dan Juga mempertahankan pelajaran agar menjadi long term memory dengan menjadikannya sesuatu yang spesial menghubungkan emosi dengan ingatan, melakukan Pengulangan, lalu berimajinasi, dan di Asosiasikan.” ujar Beliau

Diakhir sesi beliau berpesan kepada para pencari ilmu khususnya para mahasiswa baru. “Dalam islam niat yang ikhlas, kesungguhan, berdoa, mengerjakan amal sholeh, dan tidak bermaksiat menjadi panduan dalam menuntut ilmu, yang tidak dapat di pisahkan dari langkah mencari ilmu yang berkah, dan ini pula yang di contohkan para pakar keilmuan islam.” Pesan beliau.

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan pemberian cindera mata oleh Achmad Nur Aziz selaku ketua pelaksana PROPEKA 2017. (sebi/baiti/i-dream)

Puasa “Kok Loyo”?

1. Pendahuluan

I-Dream RadioHadits — Apa yang kita lihat pada bulan Ramadhan di siang hari? Masjid-masjid penuh dikunjungi orang. Sedang apakah mereka? Ternyata hanya sebagian kecil dari mereka yang memenuhi masjid untuk beribadah seperti shalat, dzikir, tilawah mendengarkan ceramah dan sebagainya, sebagian besar mereka memenuhi masjid untuk tidur bergelimpangan. Seakan ingin menunjukkan kepada orang lain ”aku lagi puasa ni… lemes, malas, ngantuk dan loyo”.

Apakah tujuan itu yang diinginkan Allah dalam mewajibkan umat-Nya berpuasa? Supaya hambanya menjadi malas, lemah dan tidak berdaya, tidak produktif, tidak berprestasi?

Rasanya kita sudah sangat hafal dan tidak asing dengan bunyi ayat 183 surat Al Baqarah

َۤیٰۤاَیُّہَاالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الصِّیَامُ کَمَا کُتِبَ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿۱۸۳

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi hamba yang bertaqwa”.

Dengan puasa, sejatinya Allah ingin mengangkat derajat orang yang beriman supaya menjadi insan mulia, yang ditunjukkan dengan ketaqwaan.

Ramadhan datang bukan untuk membuat umat Islam menjadi lemah, lesu dan takut disebabkan kelelahan melaksanakan puasa, tarawih dan tilawah Qur’an. Tetapi justru dengan ibadah Ramadhan Allah ingin manusia menjadi lebih kuat, bersemangat dan berjihad membebaskan diri dan umat dari belenggu syahwat dan dari musuh-musuh nya. Baik musuh internal yaitu hawa nafsu maupun musuh eksternal yaitu para penjajah yang menginginkan kehancuran Islam.

Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan pada tahun ke 2 H, tepatnya tanggal 30 Sya’ban bulan ke 17 hijrahnya Rasulullah ke Madinah[1]. Sungguh merupakan ujian yang sangat berat bagi umat Islam yang baru saja datang ke sebuah negeri demi menyelamatkan keimanannya, pada tahun ke 2 H langsung Allah turunkan ayat yang mewajibkan berpuasa. Ini adalah puasa Ramadhan pertama yang mereka lakukan.

Dalam tahun pertama menjalankan ibadah puasa Allah uji keimanan para sahabat dengan peristiwa perang besar dan pertama kali terjadi antara kaum muslim dengan kaum kafir, yaitu perang Badar yang mereka hadapi dalam kondisi berpuasa. Karena Allah hendak menguatkan ruhiyah umat Islam dengan puasa dan menguatkan kewibawaan Islam dengan perang Badar, yaitu dua momentum besar terjadi pada waktu yang sama yaitu th ke 2 H. Sepanjang hidupnya Rasulullah hanya mengalami 8 kali bulan Ramadhan, namun demikian banyak peristiwa sejarah yang beliau ukir bersama para sahabat.

Dari tahun-ke tahun kita menjalankan ibadah Ramadhan, prestasi apa yang sudah kita raih dan persembahkan untuk kemuliaan Islam? Mengapa kita belum mendapatkan kemuliaan seperti yang Allah janjikan?

Apa prestasi besar yang Rasulullah, para sahabat, dan generasi sesudahnya perjuangkan di bulan Ramadhan?

2. Pembahasan

Pembahasan makalah ini akan menitikberatkan pada peristiwa yang terjadi pada Bulan Ramadhan yaitu peperangan yang dilakukan Rasulullah bersama para sahabat dalam keadaan berpuasa. Ini berpijak dari sebuah hadits Rasulullah yang kami kutip dari kitab Terjemah Musnad Imam Ahmad no 140 jilid 2 halaman 326

Artinya: “Abu Said menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah menceritakan kepada kami. Bukayr menceritakan kepada kami dari Said Al Musayyab dari Umar dia berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan, dan penaklukan pada bulan Ramadhan, kemudian kami berbuka pada kedua peristiwa itu.”

2.1 Pembahasan Hadits

Menurut Imam Ahmad Hadits ini munqothi’, DR. Mahmud Thohan dalam bukunya Musthola Hadits menyebutkan bahwa hadits munqothi itu lemah (dhaif) karena ada perawi yang terputus.

Sikap kita dalam memandang sebuah hadits dhaif tidaklah serta merta ditolak. Karena pasti Imam Ahmad yang terkenal dengan keluasan ilmunya punya alasan untuk memasukkan hadits tersebut ke dalam kitabnya. Apalagi hadits di atas berkenaan dengan peristiwa sejarah yang monumental, pasti banyak hadits lain yang mendukung hadits tersebut dari jalur yang berbeda. Di antaranya kami kutip dari buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq pada bab keringanan berpuasa bagi musafir.

Abu Sa’id Al Khudri R.A menceritakan: “Kami bepergian bersama Rasulullah ke Mekah, saat itu kami berpuasa, kami berhenti di sebuah tempat, lalu Rasulullah bersabda:”

Artinya: “Kalian telah dekat dengan musuh kalian. Tidak berpuasa akan menguatkan kalian.”

Di antara kami ada yang tetap berpuasa dan membatalkan puasa. Lalu Nabi bersabda:”

Artinya: “Besok pagi kalian akan berhadapan dengan musuh kalian, tidak berpuasa akan menguatkan kalian, karena itu janganlah berpuasa.” Ini merupakan keharusan dan kamipun tidak berpuasa. Di kemudian hari ketika kami dalam perjalanan bersama Rasulullah, kami berpuasa. (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)[2]

2.2 Kandungan hadits:

Rasulullah melakukan perang di bulan Ramadhan. Ini berarti pendidikan kepada sahabat dan umat Islam bahwa puasa tidak menyebabkan manusia menjadi lemah dan malas sehingga seolah-olah merasa pantas untuk menunjukkan kelesuannya dengan banyak tidur di masjid atau di rumah.

Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan terbukti dengan dua peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah terjadi pada bulan Ramadhan yaitu kemenangan perang Badar pada hari Jum’at 17 Ramadhan th ke 2H dan Futuh Mekah pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke 8 H. Dua peristiwa tersebut harus menjadi cambuk bagi kita umat Islam saat ini untuk makin giat berdakwah khususnya memasuki bulan Ramadhan. Saatnya kita merubah cara pandang masyarakat untuk menyikapi Ramadhan dengan semangat, kerja keras dan produktif. Kita harus memanaj diri, keluarga dan masyarakat dalam menyambut dan mempersiapkan kedatangan bulan Ramadhan bukan sekadar persiapan Idul fitri dengan baju baru, kue lebaran, parcel, mudik dll. Tetapi mari tunjukkan prestasi kita dengan amal shalih yang terus meningkat, untuk kemajuan umat.

Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan yang harus dipenuhi dengan ibadah puasa, tarawih, dan membaca Qur’an, lebih dari itu Ramadhan adalah bulan ekspansi dakwah jauhkan diri dari kemalasan dan sikap “loyo.”

Kalau saja Rasulullah tidak memanfaatkan momentum Ramadhan untuk jihad dengan alasan sedang puasa, kasihan para sahabat” lemah dan loyo” tentu Islam tak akan tegak di muka bumi, tidak akan sampai ke Indonesia. Karena dengan mudah akan diserang musuh pada saat lemah yaitu pada bulan Ramadhan.

Boleh berbuka puasa dalam perjalanan bagi yang merasa lemah dan boleh tetap berpuasa bagi yang merasa mampu.

2.3 Peristiwa-peristiwa besar di pentas sejarah dari generasi ke generasi yang terjadi di bulan Ramadhan

Selain perang Badar dan pembebasan kota Mekah ada berbagai peristiwa besar dalam sejarah yang terjadi pada generasi-generasi berikutnya yaitu di antaranya:

Tahun ke 3 H Rasulullah memobilisasi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri dan segala perlengkapan pada bulan Ramadhan dalam rangka menghadapi kaum kafir di Bukit Uhud yang terjadi pada 6 Syawal th ke 3 H.

Perang Tabuk terjadi beberapa hari menjelang bulan Ramadhan pada th ke 9 H Rasulullah memimpin Pasukan 30.000 mujahidin melawan pasukan Romawi yang berjumlah 100.000 personil. Perjalanan sangat berbahaya karena jarak tempuh yang sangat jauh dan ganasnya alam dengan cuaca yang sangat panas.

Pada 28 Ramadhan 92 H Thoriq Bin Ziyad berhasil mendarat di selat yang berbukit di Spanyol hingga bukit tersebut dikenal dengan namanya Gibraltar (jabal Thoriq). Atas jasa Thoriq dan pasukannya Islam berkuasa di daratan Eropa beratus-ratus tahun.

Ramadhan 218 H umat Islam berhasil menaklukkan Bizantium dalam perang Amoria di bawah pimpinan khalifah Al Mu’tashim Billah salah seorang khalifah Daulah Abbasiyah

25 Ramadhan 658H perang Ain Jalut di Palestina, kamu muslimin berhasil menahan serangan bangsa Mongol yang telah menghancurkan Baghdad. Perang ini berhasil mempertahankan peradaban Islam dari keganasan tentara Mongol

Kemerdekaan Indonesia terjadi pada 9 Ramadhan 1364H

3. Penutup

Kita harus merubah cara pandang dalam menyambut dan mempersiapkan diri dalam mengisi bulan Ramadhan dengan amal shalih, supaya kita dapat meraih prestasi untuk kemajuan umat dan kemuliaan sebagai hamba yang bertaqwa.

Hambatan terbesar dalam meraih kemuliaan tersebut adalah hawa nafsu yang selalu mengajak kepada pemuasan materi seperti kesibukan pemenuhan kebutuhan Idul fitri berupa baju baru, parcel, mudik, kue lebaran dan lain-lain sehingga esensi yang terpenting dari ibadah Ramadhan terabaikan.

Sungguh merugilah orang yang hari ini sama dengan kemarin bahkan celakalah orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin. Mari perbaiki diri supaya puasa tak “loyo” lagi.

Beberapa Masukan Dari Ustadz Dan Beberapa Catatan Tambahan Setelah Makalah Dipresentasikan

Bagaimana mempersiapkan diri menyambut Ramadhan agar kualitas ibadah Ramadhan lebih baik dan puasa tidak loyo?

1. Persiapan ilmiyah dan wawasan

Kumpulkan informasi tentang Ramadhan seluas-luasnya termasuk dari aspek sejarah untuk memperoleh pemahaman yang lengkap dan shahih bagaimana puasa Rasulullah, apa saja aktivitas Rasulullah selama Ramadhan, sehingga memperoleh keberkahan dan kemenangan dan perluasan dakwah selama Ramadhan.

2. Persiapan ruhiyah

Pemahaman yang menyeluruh tentang Ramadhan dan puasa Rasulullah akan sangat berdampak kepada semangat ruhiyah dalam menyambut Ramadhan yaitu:

Bergembira dan merasakan kerinduan dengan kedatangan bulan suci yang penuh berkah, rahmah dan ampunan. Sebab di bulan Ramadan Allah sediakan begitu banyak keutamaan yang tidak diberikan pada bulan-bulan lain.

Rasa Gembira itu akan mendorong seorang muslim untuk melakukan perencanaan yang baik guna meraih segala keutamaan yang Allah janjikan. Karena Ia merasa khawatir seakan-akan ini Ramadhan terakhir yang ia dapatkan dalam usianya.

Banyak berdoa dan memohon ampun agar dapat berpuasa dengan optimal. “Allahumma baariklana fi rajab wa sya’ban waballihgna ramadhan”, ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan (Hadits).

Pasang target amaliyah untuk pribadi misalnya khatam membaca Qur’an dan terjemah. Ikut tarawih di masjid yang imamnya bagus bacaan qur’annya satu juz / malam. Tambah hafalan Qur’an beberapa surat, infaq rutin harian setiap subuh, memberi ta’jil di tempat-tempat umum. dll

3. Persiapan jasadiyah

Di antara persiapan Rasulullah dalam menyambut Ramadhan, beliau paling banyak melakukan puasa sunnah di bulan sya’ban melebihi di bulan lain sebagai bentuk persiapan jasadiyah. Agar tubuh ada penyesuaian dengan pengosongan lambung namun tetap bugar dan sehat, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Usamah bin Zaid RA menceritakan: “aku bertanya kepada Rasulullah: Ya Rasulullah mengapa aku melihat Engkau banyak berpuasa di bulan Sya’ban, tidak seperti di bulan lain? Rasulullah bersabda:

Dzalika syahru yaghlubu nnaasu anhu baina rajabin wa romadhona, wahuwa syahrun yurfa’u fiihi al a’mal ila robbil ‘alamiin. Fauhibbu an yurfa’a ‘amalii wa ana shooimun.

Artinya:”Bulan sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan. Ia berada antara rajab dan Ramadhan. Di bulan itulah amal perbuatan diangkat ke sisi Robb pencipta alam. Karena itu aku ingin saat amal perbuatanku diangkat, aku sedang berpuasa.” (H.R abu Daud dan nasa’i. Ibnu khuzaimah menshahihkan hadits ini)[3]

4. Persiapan maliyah

Persiapan maliyah dalam rangka meningkatkan amal shodaqoh di bulan Ramadhan

Dari Ibnu Abbas RA berkata: Adalah Rasulullah SAW lebih pemurah dari semua orang, terlebih jika bulan Ramadhan manakala ia dihubungi oleh Jibril, dan hampir tiap malam Jibril datang untuk tadarus Qur’an dan Rasulullah Saw jika bertemu Jibril maka ia lebih pemurah lagi melebihi dari angin yang berhembus. (HR Bukhari Muslim)[4]

Di Indonesia persiapan menyambut Idul fitri lebih dahsyat daripada persiapan Ramadhan. Masyarakat cenderung hidup boros dan konsumtif menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan. Kita harus meneladani kesederhanaan Rasulullah dalam berbuka. Tidak makan minum berlebihan yang mengakibatkan lambung menjadi penuh dan berat melakukan shalat tarawih dan qiyamullail.

5. Susun agenda

Ajak keluarga, tetangga, dan teman-teman untuk menyusun program ansyitoh ramadhan dengan pengajian, tadarus, mengadakan majelis ilmu. Lakukan kegiatan yang mengajak umat mencintai Qur’an seperti: Tadarus dan Tadabbur bersama, alyaum ma’alqur’an. Khatam Al-Quran dll.

Selain itu kita bisa mengadakan santunan yatim dan dhuafa, ifthar jama’i, aneka lomba seperti pemilihan dai cilik, mendongeng, lomba tahfizhul Qur’an, cerdas cermat Agama Islam dan aneka kegiatan lain yang bernuansa gembira dan memberi kesan yang mendalam kepada anak anak kita bahwa bulan Ramadhan bulan prestasi, penuh gairah dan semangat, penuh berkah dan rahmah. Sehingga puasa tidak loyo lagi. Ruqoyah (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Daftar Pustaka

Al Mubarokfuri Safiyyur Rahman. Siroh Nabawiyah.terj. Aunur Rofiq. Jakarta: Robbani Press, 2005

Al Qorny, Aidh.DR. Sekolah Ramadhan, terj. Dadang Abu Hamzah. Jakarta: Pustaka Inti 2004

Kariyyam Samih, Indahnya Ramadan Rasulullah.terj. Ahmad Faozan Lc. Jalarta: Pena Pundi Aksara, 2005

Musnad Imam Ahmad, Syarah Ahmad Muhammad Syahir .Jakarta: Pustaka Azzam, jilid 1. Hal 326. Nomor hadits 140 ,2006

Sabiq Sayyid. Fiqih Sunnah jilid 1.terj. Aunur Rofiq. Jakarta: al I’tishom Cahaya Ummat 2011

Syaraf Annawawi imam Abu yahya bin. Riyadhush Sholihiin, Terj. Bandung :Al a’aarif ,1987

Samiun jazuli Ahzami.DR.MA. dkk. Panduan Lengkap ibadah Ramadhan. Jakarta: Pusan Konsultasi syariah. Cet.ke 2, 2006

Syarifudin ahmad. Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis. Jakarta: Gema Insani Press ,2003

Thahan Mahmud.DR. Ilmu Hadits Praktis.terj. Abu Fuad. Bogor Pustaka Thariqul Izzah. Cet.4.2010

 

Catatan Kaki:

[1] Samih Kariyyam, Indahnya Ramadhan Rasulullah.terj. Achma Faozan Lc (Jakarta:Pena Pundi Aksara.cet.1 2005),hal.59

[2] Sayyid Sabiq. Fiqih Sunnah.ter.Asep Sobari Lc.dkk (cet.3 ;Jakarta 2011) jilid 1. h.639

[3] Fiqhih Sunnah, jilid 1 h.652. Al I’tishom cet. ke 3 th 2011

[4] Riyadhush sholihin. Terj. H 247 Al Ma’arif cet. Ke 10 th 1987

 

Kunci Menjadi Muslim yang Sukses

#1 Kekuatan Niat dan Tekad

Jangan sepelekan dengan kekuatan niat. Niat akan membawa keberhasilan. Bagaimana Anda akan mendapatkan sesuatu jika Anda tidak meniatkan diri untuk mendapatkan. Adalah betul, niat saja tidak cukup dan saya tidak mengatakan hanya niat untuk meraih sukses. Yang saya maksudkan adalah niat sebagai awal Anda dalam meraih sukses.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadist:

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR Bukhari Muslim).

Penting Untuk Membaca Penjelasan lengkap disini: Niatkan, maka Anda akan mendapatkan

Sudahkah Anda punya niat sukses?

Akan lebih baik, jika niat Anda diperluas. Niat yang baik, positif, dan membawa kepada sukses dunia akhirat.

#2 Mendoakan Saudara

Rahasia sukses yang kedua dari 10 Cara Sukses dalam Islam Dijamin Dahsyat itu ialah: mendo’akan saudara kita kebaikan yang sama dengan yang kita inginkan tanpa sepengetahuan orang tersebut. Jika kita mendo’a saudara kita, tanpa sepengathuan kita, insya Allah kita akan mendapatkan apa yang kita do’akan.

Dari Abu Darda ra bahwasannya ia mendengar Rosululloh SAW bersabda: “Tiada seorang muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya, kecuali malaikat berkata: Dan untuk kamu pula seperti itu”. (HR. Muslim)

Perhatikan poin “tanpa sepengetahuan saudaranya”. Ini akan menjaga keikhlasan kita. Tidak perlu mengatakan kepada seseorang bahwa kita sudah dan biasa mendoakannya. Biarkan dia tidak mengetahuinya karena kita hanya berharap do’a dari para malaikat dan dikabulkan oleh Allah.

#3  Ilmu, Kompetensi dan Keahlian

Entah kenapa, ada saja orang yang mengkampanyekan kita supaya bodoh. Padahal menuntut ilmu ada kewajiban kita sebagai umat Islam. Yang salah adalah menuntut ilmu saja tanpa diamalkan. Menjadi bodoh karena malas menuntut ilmu juga salah. Bertindak tanpa ilmu seperti berjalan di kegelapan.

Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah)

“Barangsiapa menginginkan sukses dunia hendaklah diraihnya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki sukses akherat hendaklah diraihnya dengan ilmu, barangsiapa ingin sukses dunia akherat hendaklah diraih dengan ilmu” ~Iman Syafi’i

Anda mau sukses apa? Belajarlah cara meraihnya. Banyak orang tidak bisa meraih sukses tertentu karena dia tidak mengetahui ilmunya.

#4. Siap Melakukan Perubahan

Allah yang menentukan, namun perintah Allah juga agar kita mau mengubah diri sendiri. Maka, jika Anda ingin meraih apa yang Anda inginkan atau mengubah kondisi Anda, maka berubahlah.

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya ” (QS Ar-Ra’d:11)

Sungguh aneh, banyak orang yang mengeluh dengan kondisinya, menginginkan sesuatu belum tercapai, dan tidak ada peningkatan dalam hidupnya. Tapi dia tidak berubah.

Berubahlah menjadi lebih baik, mulai dari pola pikir, kemampuan, target-target, dan juga ilmu.

#5 Membangun Networking

Silaturhim atau silaturahmi adalah kunci sukses berikutnya. Jangan karena sudah terhubung melalui facebook, kemudian kita tidak pernah bertemu secara langsung. Luangkan waktu untuk bertemu orang. Baik orang yang sudah kita kenal maupun orang baru.

Silaturahmi itu untuk menjaga kedekatan dengan yang sudah kita kenal juga untuk menambah teman atau saudara baru.

Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (HR Muslim)

Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

Programkan silaturahmi setiap hari menemui 1-2 orang atau lebih dan lihat perubahan yang terjadi.

#6 Berdo’a

Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Ku. Maka bermohonlah kepada-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Q.S Al-Baqarah :186).

Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)

# 7 Tawakal

Dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-sebenarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

#8 Shadaqah

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261)

# 9 Syukur

Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (QS Ibrahim: 7)

# 10 Bertaqwa

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaaq:2-3)

 

Bulan Sya’ban (Bagian Terakhir: Kontroversi Berpuasa Setelah 15 Sya’ban, Terlarangkah?)

I-Dream RadioHadits — Hadits larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban memang ada, yaitu sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنْ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ

Jika sudah pada separuh bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa hingga masuk bulan Ramadhan.

Hadits ini dan -yang semisalnya- diriwayatkan oleh:

Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 9707
Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 2337
Imam At-Tirmidzi dalam Sunannya No. 738
Imam An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra No. 2911
Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 6151
Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 3589
Imam Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath No. 1936
Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Baihaqi No.7750
Imam Ad-Darimi dalam Sunannya No. 1740
Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 2710
Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Aatsar, 2/82
Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/21
Imam Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf No. 7325
Imam Ad-Dailami dalam Musnad Firdaus No. 1006

Semua sanad hadits ini berasal dari Al-‘Ala bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.

Tentang keshahihan hadits ini, para ulama berbeda pendapat.

Pihak yang menshahihkan

Imam At-Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. (Sunan At-Tirmidzi No. 738)
Imam Ibnu Hibban memasukkan hadits ini dalam kitab Shahihnya, maka menurutnya ini adalah shahih. (Shahih Ibni Hibban No. 3589)
Beberapa ulama masa kini, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan shahih dalam berbagai kitabnya. (Shahih Abi Daud No. 2025, Shahih Ibni Majah No. 1651, Tahqiq Misykah Al-Mashabih No. 1973, Ar Raudh An Nadhiir No. 643, dll), juga Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan shahih. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 9707), dan Syaikh Ibnu Baaz juga menshahihkan. (Majmu’ Fatawa, 15/385)

Pihak yang mendhaifkan

Imam Ahmad dan Imam Yahya bin Ma’in berkata: hadits ini munkar! (Mir’ah Al-Mafatih, 6/441, Ta’liq Musnad Ahmad No. 9707)
Imam Abdurrahman bin Al-Mahdi juga mengingkari riwayat Al-‘Ala bin Abdirrahman ini. (Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Ath Thuraifi, Syarh Bulughul Maram, Hal. 47)
Imam Abu Zur’ah dan Imam Al-Atsram juga menyatakan munkar. (Lathaif Al-Ma’arif, Hal. 151)

Nah, perbedaan dalam menilai keshahihannya tentu berdampak pada berbeda pula dalam mengamalkannya. Bagi pihak yang mendhaifkan tentu sama sekali tidak masalah berpuasa setelah 15 Sya’ban. Bagi yang menshahihkan tentu mereka melarang berpuasa setelah 15 Sya’ban, yaitu larangan dengan makna makruh.

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah melakukan tarjih sebagai berikut:

صححه الترمذي و غيره و اختلف العلماء في صحة هذا الحديث ثم في العمل به : فأما تصحيحه فصححه غير واحد منهم الترمذي و ابن حبان و الحاكم و الطحاوي و ابن عبد البر و تكلم فيه من هو أكبر من هؤلاء و أعلم و قالوا : هو حديث منكر منهم ابن المهدي و الإمام أحمد و أبو زرعة الرازي و الأثرم و قال الإمام أحمد : لم يرو العلاء حديثا أنكر منه

Dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan selainnya. Para ulama berbeda pendapat tentang keshahihan hadits ini, kemudian berbeda pula tentang mengamalkan hadits ini. Ada pun pihak yang menshahihkan adalah lebih dari satu orang, di antaranya At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ath Thahawi, dan Ibnu Abdil Bar. Namun hadits ini diperbincangkan oleh para imam yang lebih besar dan lebih berilmu dibanding mereka, mereka mengatakan: ini adalah hadits munkar. Mereka adalah Ibnu Al-Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah Ar-Razi, dan Al-Atsram. Imam Ahmad berkata: “Al-‘Ala tidak pernah meriwayatkan hadits yang lebih munkar dari ini.” (Lathaif Al-Ma’arif, Hal. 151)

Nampak bahwa Imam Ibnu Rajab mendukung pendhaifan terhadap hadits ini, dengan alasan pihak yang mendhaifkan lebih senior dan lebih berilmu dibanding yang menshahihkan.

Alasan pihak yang melarang

Sebagian ulama yang melarang berpuasa setelah 15 Sya’ban mengatakan bahwa makruhnya hal ini karena dikhawatiri melemahkan pelakunya karena dia berpuasa sepanjang bulan dan akan berpuasa lagi ketika Ramadhan nanti, serta dikhawatiri dia telah menyambung dua bulan puasa secara berturut-turut, padahal tidak ada puasa full kecuali hanya Ramadhan saja. Jika tidak melemahkan, dan tidak pula dia menyambungkannya, maka tidak apa-apa berpuasa setelah 15 Sya’ban. Atau, kemakruhannya adalah jika dia berpuasa setelah 15 Sya’ban itu dilakukan sengaja dan tanpa sebab, tanpa didahului oleh puasa pada hari sebelumnya, dan sekadar ingin berpuasa saja. Sedangkan jika ada sebab seperti Senin Kamis, puasa Daud, atau dia sudah terbiasa berpuasa maka tidak apa-apa.

Pada titik ini, sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan dengan para ulama yang membolehkan, mereka pun hampir mengatakan serupa.

Pihak yang memakruhkan, seperti Imam Mulla Ali Al-Qari Rahimahullah berkata:

والنهي للتنزيه رحمة على الأمة أن يضعفوا عن حق القيام بصيام رمضان على وجه النشاط ، وأما من صام شعبان كله فيتعود بالصوم ويزول عنه الكلفة. ولذا قيد بالإنتصاف أو نهي عنه لأنه نوع من التقدم والله أعلم.

Larangan hanya menunjukkan makruh tanzih, sebagai kasih sayang untuk umat di mana mereka dapat mengalami kelemahan untuk menjalankan shalat malam ketika Ramadhan yang begitu giat dilaksanakan, ada pun bagi orang yang berpuasa Sya’ban keseluruhannya maka pembiasaan itu dengan berpuasa bisa menghilangkan taklifnya Ramadhan. Oleh karenanya berpuasa setengah bulan itu atau larangannya, terikat oleh hal ini, karena hal itu (berpuasa setengah bulan setelah 15 Sya’ban) termasuk jenis larangan “mendahulukan berpuasa” ketika menjelang Ramadhan. Wallahu A’lam. (Mirqah Al-Mafatih, 6/280)

Maksud larangan mendahulukan puasa ketika menjelang Ramadhan adalah hadits berikut:

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah salah seorang kalian mendahulukan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang sedang menjalankan puasa kebiasaannya, maka puasalah pada hari itu.” (HR. Bukhari No. 1815)

Mulla Ali Al-Qari berkata lagi – Beliau mengutip dari Al-Qadhi ‘Iyadh, katanya:

المقصود استجمام من لا يقوى على تتابع الصيام فاستحب الإفطار كما استحب إفطار عرفة ليتقوى على الدعاء فأما من قدر فلا نهي له ولذلك جمع النبي بين الشهرين في الصوم اه وهو كلام حسن لكن يخالف مشهور مذهبه أن الصيام بلا سبب بعد نصف شعبان مكروه

Maksudnya adalah memberikan keringanan bagi orang yang tidak kuat puasa berturut-turut, maka dianjurkan baginya untuk tidak berpuasa, sebagaimana orang yang sedang wukuf di Arafah dianjurkan tidak berpuasa agar dia kuat berdoa. Ada pun bagi orang yang mampu melakukannya maka tidak ada larangan baginya, oleh karenanya Nabi pun menggabungkan puasa selama dua bulan, dst. (Ali Al-Qari berkata): ini adalah komentar yang bagus, tetapi berselisih dengan madzhabnya sendiri bahwasanya berpuasa tanpa sebab dilakukan setelah 15 Sya’ban adalah makruh. (Ibid)

Koreksi dari pihak yang membolehkan

Selain karena hadits tersebut dinilai dhaif, mereka pun mengoreksi alasan pihak yang melarang. Imam Al-Mundziri Rahimahullah berkata – dan Beliau termasuk yang membolehkan puasa Sya’ban setelah tanggal 15:

من قال إن النهي عن الصيام بعد النصف من شعبان لأجل التقوى على صيام رمضان والاستجمام له ، فقد أبعد. فإن نصف شعبان إذا أضعف كان كل شعبان أحرى أن يضعف ، وقد جوز العلماء صيام جميع شعبان.

Barang siapa yang mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah 15 Sya’ban adalah disebabkan kekuatan utuk puasa Ramadhan dan meringankannya, maka itu adalah pemahaman yang jauh. Jika memang setengah Sya’ban itu bisa melelahkan, maka berpuasa pada seluruh Sya’ban adalah lebih pantas untuk melemahkan. Para ulama telah membolehkan berpuasa pada seluruh hari Sya’ban. (Syaikh Waliyuddin At-Tibrizi, Misykah Al-Mashabih, 6/874)

Jadi, jika puasa 15 hari dianggapmembuat lemah sehingga dia dimakruhkan, maka seharusnya berpuasa disemua hari Sya’ban lebih layak untuk dimakruhkan, karena puasa sepanjang bulan lebih melemahkan disbanding 15 hari saja.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makki Rahimahullah berkata:

قال بعض أئمتنا: يجوز بلا كراهة الصوم بعد النصف مطلقاً تمسكاً بأن الحديث غير ثابت أو محمول على من يخاف الضعف بالصوم

Sebagian imam kami berkata: dibolehkan secara mutlak dan tidak makruh berpuasa setelah separuh Sya’ban, berdasarkan dalil bahwa hadits yang melarangnya adalah tidak tsabit (kuat), atau (kalau pun kuat, pen) maknanya adalah makruh bagi orang yang menjadi lemah dengan puasanya tersebut. (Ibid)

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi Hafizhahullah berkata:

وحديث العلاء يدل على المنع من تعمد الصوم بعد النصف, لا لعادة، ولا مضافا إلى ما قبله

Hadita Al-‘Ala ini menunjukkan larangan menyengaja berpuasa setelah saparuh Sya’ban, padahal puasa bukan kebiasaan dia, dan bukan pula sebagai tambahan dari sebelumnya. (Al-Ilmam bisy Syai’ min Ahkamish Shiyam, Hal. 6)

Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah juga berkata:

والمراد به النهي عن ابتداء الصوم بعد النصف ، أما من صام أكثر الشهر أو الشهر كله فقد أصاب السنة

Maksud dari larangan ini adalah memulai puasa setelah separuh Sya’ban, ada pun berpuasa lebih dari sebulan atau sebulan penuh maka itu sesuai dengan sunah. (Majmu’ Fatawa, 15/385)

Dengan memadukan semua pandangan ulama ini, kesimpulannya:

Hadits ini diperselisihkan keshahihannya, pihak yang menshahihkan dan mendhaifkan adalah imam besar pada zamannya, namun pihak yang menshahihkan adalah ulama yang lebih besar dan berilmu, sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab.
Sekali pun shahih, larangan ini bermakna makruh, bukan haram.
Larangan terjadi jika hal itu membuat pelakunya lemah ketika memasuki Ramadhan
Larangan juga berlaku bagi orang yang tidak terbiasa puasa, namun sekalinya berpuasa dia menyengaja melakukannya pada hari setelah separuh Sya’ban, tanpa dia dahului berpuasa pada hari-hari sebelumnya.
Makruhnya juga bagi orang yang melakukannya tanpa sebab.

Jadi, puasa setelah separuh Sya’ban adalah boleh bagi: 1. yang memang sudah terbiasa puasa lalu kebiasaannya itu diteruskan ketika setelah 15 hari Sya’ban, 2. Yang melakukannya karena sebab khusus seperti senin kamis, dan puasa Daud. 3. Yang tidak membuatnya lemah. Wallahu a’lam wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in.

Farid Nu’man Hasan (dakwatuna/baiti/i-dream)

Bulan Sya’ban (Bagian Ketiga: Hadits-hadits Seputar Nishfu Sya’ban)

I-Dream RadioHadits — Berikut ini adalah hadits-hadits yang menerangkan tentang amalan seputas nushfu Sya’ban.

Hadits Pertama:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang malam nishfu Sya’ban maka shalatlah kalian pada malam harinya, dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada saat terbenamnya matahari, dan berkata: tidaklah orang yang minta ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni dia, tidaklah orang yang meminta rezki maka Aku akan berikan dia rezki, tidaklah orang yang mendapat musibah maka Aku akan memberinya pertolongan, dan tidaklah ini dan itu, hingga terbitnya matahari.” (HR. Ibnu Majah No. 1388. Al-Bahiaqi, Syu’abul Iman, No. 3664)

Dalam sanad hadits ini terdapat Abu Bakar Ibnu Abi Sabrah.

Imam Al-Haitsami menyebutnya sebagai matruk (haditsnya ditinggalkan). (Majma’ Az-Zawaid, 1/213), dan kadzab (pendusta). (Ibid, 6/268)

Pentahqiq Tahdzibul Kamal, yakni Dr. Basyar ‘Awad Ma’ruf mengatakan bahwa Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Yahya bin Ma’in menyebut Ibnu Abi Sabrah sebagai pemalsu hadits.

Shalih bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal berkata: “Bapakku berkata kepadaku bahwa Ibnu Abi Sabrah adalah pemalsu hadits.” (Al-Jarh wat Ta’dil, 7/ 306)

Imam Zainuddin Al-‘Iraqi mengatakan dalam Takhrijul Ihya’, bahwa hadits ini bathil dan sanadnya dha’if. (Takhrij Ahadits Al-Ihya’ No. 630)

Imam Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif menyatakan bahwa hadits ini dha’if, dan Imam Al-Mundziri mengisyaratkan kedha’ifan hadits ini dalam At-Targhib. (As-Silsilah Adh-Dhaifah No. 2132)

Hadits 2: dari Utsman bin Muhammad bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas, beliau berkata:

تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان

“Ajal manusia ditetapkan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban yang lain.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3681)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini mursal. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 7/246. Hadits mursal adalah hadits yang sanadnya gugur di thabaqat (generasi/lapisan) akhirnya setelah tabi’in (tabi’in adalah generasi setelah sahabat nabi). Maksudnya, hadits tersebut diriwayatkan dari seorang tabi’in langsung ke Rasulullah tanpa melalui seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Contoh seorang generasi tabi’in berkata: Rasulullah bersabda …., inilah mursal, sedangkan hadits yang biasa kita dengar adalah dari seorang sahabat Nabi: Rasulullah bersabda ….., mayoritas ahli hadits dan fuqaha menyatakan bahwa hadits mursal adalah dhaif, demikian juga pendapat Imam Asy-Syafi’i. Sedangkan menurut Malik, Abu Hanifah dan segolongan ulama, hadits mursal adalah shahih. Lihat hal ini dalam karya Imam An Nawawi, At-Taqrib wat Taisir …, Hal. 3)

Menurut jumhur (mayoritas) ulama dan kalangan Asy-Syafi’iyah, hadits mursal adalah salah satu hadits dha’if . Hadits mursal adalah hadits yang rawinya pada tingkatan setelah tabi’in tidak disebutkan (digugurkan). Sehingga tidak bisa dipastikan apakah tabi’in tersebut mendengar langsung atau tidak.

Jadi, validitas hadits-hadits ini sangat diragukan, seandai pun shahih atau hasan, toh hadits ini sama sekali tidak menyebutkan tentang ritual khusus pada nishfu Sya’ban, hanya menyebut keutamaannya saja.

Ada pun hadits yang berbunyi:

“Malaikat Jibril mendatangiku pada malam Nishfu (15) Sya’ban, seraya berkata, ” Hai Muhammad, malam ini pintu-pintu langit dibuka. Bangunlah dan Shalatlah, angkat kepalamu dan tadahkan dua tanganmu ke langit .”

Rasulullah bertanya, ” Malam apa ini Jibril?”

Jibril menjawab. ” Malam ini dibukakan 300 pintu rahmat. Tuhan mengampuni kesalahan orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali tukang sihir, tukang nujum, orang bermusuhan, orang yang terus menerus minum khamar (arak atau minuman keras), terus menerus berzina, memakan riba, durhaka kepada ibu bapak,…. Hingga Engkau rela .” (HR Abu Hurairah)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3837. Imam Al-Baihaqi sendiri berkata: wa haadza isnaad dhaif –isnad hadits ini dhaif. (Lihat Syu’abul Iman No. 3837)

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan adanya cacat pada hadits ini. (Imam Az-Zaila’i, Takhrij Al-Kasysyaf, 3/265)

Alasan lemah dan cacatnya hadits ini telah disebutkan oleh Imam Abul Hasan Al-Kinani, dia berkata:

وفيه محمد بن حازم مجهول وعنه إبراهيم بن عبد الله البصري وعن هذا حامد بن محمود الهمداني لم أعرفهما والله تعالى أعلم

Dalam sanad hadits ini terdapat Muhammad bin Hazim, seorang yang majhul (tidak dikenal), telah meriwayatkan darinya Ibrahim bin Abdullah Al-Bashri, dan dari dia telah meriwayatkan Hamid bin Mahmud Al-Hamdani, saya tidak mengetahui keduanya. Wallahu Taala A’lam. (Imam Abul Hasan Al-Kinani, At-Tanzih, 2/150)

Demikianlah kedhaifan hadits-hadits tentang nishfu Sya’ban. (bersambung)

Farid Nu’man Hasan (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Ilmu Politik dalam Hadits Nabi

I-Dream Radio Hadits — [Imam Bukhari berkata]: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Laits, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Hamzah bin Abdullah bin ‘Umar, bahwasanya Ibnu Umar berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada suatu kali, selagi saya tidur, tiba-tiba saya diberi satu gelas susu, lalu aku meminumnya sampai segar, sungguh, aku melihat kesegaran itu mengalir keluar melalui kuku-kuku-ku, kemudian aku berikan sisanya kepada Umar bin Al-Khaththab”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Apa tafsiran engkau terhadap mimpi itu wahai Rasulullah SAW? Rasulullah SAW bersabda: “Ilmu”.

Lihat pula hadits ini pada Shahih Bukhari di no. 7006, 7007, 7027, 7032.

Lihat pula di Shahih Muslim hadits no. 2391.

Pelajaran:

Ada banyak pelajaran dari hadits Nabi Muhammad SAW ini, di antaranya:

1. Rasulullah SAW telah meminum air susu sehingga beliau merasakan badannya begitu segar, sampai-sampai kesegaran itu dapat beliau lihat mengalir dan menjalar sampai ke kuku-kuku beliau SAW, dan bahkan kesegaran itu memancar keluar dari kuku-kuku tersebut.

2. Air susu satu gelas yang beliau minum dalam mimpi itu beliau tafsirkan sebagai ilmu. Artinya, diri beliau SAW telah terisi dengan ilmu, sehingga ilmu itu telah merasuk begitu merata ke sekujur tubuh beliau, sebagaimana mengalirnya rasa segar tersebut.

3. Susu yang terlihat dalam mimpi ditafsirkan sebagai ilmu, sebab sama-sama memberi manfaat, dan sama-sama memberi nutrisi; air susu memberi nutrisi bagi tubuh, dan ilmu memberi nutrisi bagi akal.

4. Ada satu hal yang lebih menarik lagi, yaitu, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, salah seorang pen-syarah Shahih Bukhari yang paling masyhur, memaknai “ilmu” itu sebagai “ilmu politik” yang dipergunakan oleh Umar bin Al-Khaththab RA untuk menyiasati dan menata masyarakat dan rakyatnya, sehingga di zamannya, masyarakat dan rakyatnya:

Aman,
Tidak terjadi kekacauan dan perpecahan,
Semuanya tunduk dan taat kepada kepemimpinannya.

5. Kenapa “ilmu politik” itu diberikan kepada Umar? Sebab:

Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memerintah sebagai khalifah sangat pendek dan singkat, sehingga aspek penerapan “ilmu politik” itu belum kelihatan secara gamblang.
Bukan pula diberikan kepada khalifah Utsman bin Affan RA yang masa memerintahnya lebih panjang dari Umar, sebab, di akhir masa Utsman, terjadi “kekacauan” dan “perpecahan”, bahkan sampai ke tingkat terbunuhnya beliau RA sebagai seorang khalifah yang syahid.
Bukan pula diberikan kepada Ali bin Abi Thalib RA, sebab di zamannya, “kekacauan” dan “perpecahan” lebih berat daripada di zaman Utsman RA.

Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA (dakwatuna/baiti/i-dream)

Wallahu A’lam.

Hadits-Hadits yang Terkait dengan Silaturahim (Bagian ke-4, Selesai)

4. Barangsiapa yang menghubungkan silaturahim Allah akan menghubungkannya dan siapa yang memutuskannya Allah pasti memutuskannya.

Hadits 1:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ الرَّحِمُ فَقَالَ مَهْ قَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ فَقَالَ أَلَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَذَلِكِ لَكِ ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

I-Dream RadioHadits — Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Allah menciptakan semua makhluk hingga setelah selesai berdirilah rahim dan Allah bertanya, ’Apa ini?’ rahim berkata, ’Ini adalah tempat orang yang berlindung kepadamu dari pemutus hubungan tali silaturahim.” Allah pun berfirman, “Ya, relakah kamu jika Aku menyambung orang yang menyambungmu dan Aku putuskan orang yang memutusmu.” Rahim pun menjawab, “Mau, ya Rabbi.” Kemudian Abu Hurairah berkata,

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ﴿٢٢

”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22).

”Mereka Itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (HR. Bukhari: 23)

Hadits 2:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya rahim itu berasal dari Arrahman lalu Allah berfirman, “Siapa menyambungmu Aku menyambungnya dan barangsiapa memutusmu aku memutusnya.” (HR. Bukhari).

Hadits 3:

عَنْ عَمْرَو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِهَارًا غَيْرَ سِرٍّ يَقُولُ إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوا بِأَوْلِيَائِي إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنْ لَهُمْ رَحِمٌ أَبُلُّهَا بِبَلَاهَا

Dari Amru bin Ash RA berkata aku mendengar nabi SAW bersabda dengan terus terang tanpa dirahasiakan, “Sesungguhnya keluarga Abi Fulan bukanlah wali-waliku dan Allah adalah Waliku serta orang-orang shalih dari kaum mukminin. Akan tetapi mereka kerabat yang aku menyambung silaturahim dengan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan Hadits 1:

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk yang dimaksud dengan kalimat ini adalah Allah menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada. Diciptakannya mereka dengan hikmah dan kekuasaan-Nya.
Yang dimaksud hingga selesai dari penciptaan adalah sempurna dalam penciptaan. Di sini bukan berarti Allah SWT terlalu sibuk baru setelah itu bekerja. Maha suci Allah dari tuduhan orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴿٨٢

”Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Yang dimaksud Rahim adalah kerabat.

Adapun yang dimaksud berdiri Rahim di sini bisa berarti secara hakikat aslinya Rahim itu berdiri atau Rahim itu menyerupai jasad bisa juga berarti malaikat yang menyatu dengan rahim sehingga Rahim itu dapat berbicara.

Ibrah Hadits 1:

Besarnya pahala menyambung tali silaturahim dan besarnya sanksi bagi yang memutuskannya

Penjelasan Hadits 2:

Syijnatun (di kasroh kan huruf Syin disukunkan huruf Jim) secara bahasa Syijnah berarti akar pohon yang saling melilit sementara yang dimaksudkan Syijnah dalam hadits ini adalah kerabat yang saling merekat kuat laksana akar yang melilit ke ranting.

Makna secara keseluruhan bahwa rahim itu adalah merupakan pengaruh rahmat Allah yang melekat kuat dengan kerahimannya. Adapun orang yang memutuskan hubungan silaturahim berarti dia memutuskan hubungan untuk dirinya dari rahmat Allah

Kata Rahman terambil dari kata Rahim sebagai mana Hadits Qudsi. Bersabda Rasulullah SAW, “Saya adalah Rahman Aku ciptakan Rahim dan darinya Aku bentuk nama-Ku untuk-Ku.”

Perkataan Allah, “Barangsiapa yang menyambung hubungan silaturahim maka Aku akan menyambungkannya dan barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturahim maka Aku memutuskannya.” Menurut Qurtubi ada dua macam rahim: 1. Rahim secara umum, 2. Rahim secara khusus. Rahim secara umum mencakup makna saling cinta saling kasih sayang dan berlaku adil. Rahim secara khusus mencakup memberikan nafkah kepada kerabat, memperhatikan keadaan mereka, pura-pura tidak tahu dengan kesalahan mereka.

Ibrah Hadits 2:

Agungnya sebutan nama Rahman dan berpahalalah orang yang menjalankan hubungan silaturahim serta akan diberi sanksi bagi pemutus hubungan silaturahim

Penjelasan Hadits 3:

Dari Amru bin Ash (penakluk Mesir) aku mendengar Nabi SAW bersabda dengan terus terang yang ditujukan pada obyek (orang tertentu). Artinya Obyek itu mendengar dengan jelas atau bisa berarti sabda nabi dengan terus terang itu bermakna langsung menohok pada pelakunya.

Adapun kata tidak rahasia (ghoiru sir) berarti sebagai penegasan hilangnya keraguan dan bahwasanya Rasulullah SAW dalam satu pertemuan menyampaikan dengan terus terang di satu tempat dan menyembunyikannya di tempat yang lain. Pendapat yang lain manyatakan Nabi SAW tidak menyembunyikannya bahkan menyampaikannya dengan terus terang dan menyebarkannya. Pendapat Imam Nawawi mengomentari hal ini bisa jadi takutnya ia menyebut nama karena dikhawatirkan akan merusak dirinya atau orang lain atau dirinya dan orang lain bersamaan

Mereka bukanlah penolongku dan juga bukan kekasihku tetapi yang jadi penolongku dan aku berwala’ kepadanya segala urusan hanya kepada Allah dan orang-orang shalih.

Waliy (di shiddahkan huruf ya).
Akan tetapi mereka: yang dimaksud mereka di sini adalah keluarga Abu Fulan.
Abulluha difathahkan huruf hamzah dan didhomahkan huruf lam dengan shiddah.

Di dalam kamus Mukhtar balahu berarti menyambung di dalam hadits Rasulullah ada satu ungkapan ballu yang berarti sambungkanlah tali silaturahim kalian walaupun hanya dengan ucapan salam.
Hadits ini memiliki banyak sanad (silsilah) yang saling menguatkan.

Bibillaliha dalam kamus Misbah artinya adalah aku basahkan dengan air maka basahlah ia, kata plural dari balal adalah bal seperti syiham dari syahmun.
Pendapat yang lain mengatakan kata bilal berarti segala sesuatu yang membasahi tenggorokan baik basah karena air atau karena susu.

Dianalogikan rohim itu dengan tanah apabila tanah itu basah dengan sebasah-basahnya maka tanah itu akan menumbuhkan bunga yang terus berkembang dan berbuah hingga kelihatan buahnya yang nampak hijau dan lezat tetapi apabila tanah itu ditinggalkan tanpa disirami dengan air maka otomatis tanah itu akan kering. Begitu juga dengan Rahim apabila rahim disiram terus dengan hubungan silaturahim maka otomatis dia akan berbuah kecintaan dan kesucian dan apabila sebaliknya maka dia tidak akan berbuah kecuali akan menghasilkan permusuhan dan kebencian.

Dalam kitab Miskat mengomentari hadits ini: bahwa Rasulullah SAW tidak menolong seorang pun yang dekat dengannya tapi yang ditolong hanya orang yang punya hak dan kewajiban serta orang-orang shalih. Aku, kata Rasulullah akan menolong orang yang menolongku baik dengan keimanan atau pun dengan ketakwaan. Apakah ia keluarga dekatku atau bukan walaupun aku tetap menjaga hak mereka.

عن عبد الله بن عمرو بن العاص ـ رضي الله عنهما ـ عن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قال : ” ليس الواصل بالمكافئ ، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها “رواه أحمد ، والبخاري . وأبو داود ، الترمذي ، والنسائي .

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash RA, dari Nabi Muhammad saw yang bersabda: “Bukanlah orang yang menyambung (silaturahim) itu adalah orang yang membalas (kebaikan orang lain), akan tetapi penyambung itu adalah orang yang jika ada yang memutuskan hubungan ia menyambungnya. (HR. Ahmad, Al Bukhari, Abu Daud, At Tirmidzi dan An Nasa’i)

Bukanlah dikatakan penyambung tali silaturahim itu sekadar membalas kalau dikunjungi ia mengunjungi akan tetapi dikatakan penyambung silaturahim itu yang apabila diputus hubungan silaturahim ia tetap menyambungkannya. (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i).

عن حكيم بن حزام ـ رضي الله عنه ـ قال : يا رسول الله ، أرأيت أموراً كنت أتحنث بها في الجاهلية : من صلةٍ ، وعتاقةٍ وصدقةٍ هل لي فيها من أجر ؟ قال حكيم : قال رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ” أسلمت على ما سلف من خير ” رواه البخاري

Dari Hakim bin Hizam RA, bertanya: Ya Rasulullah, Bagaimana menurut Engkau tentang beberapa hal yang pernah aku lakukan di masa jahiliyah; seperti: silaturahim, memerdekakan budak, dan bersedekah, apakah aku mendapatkan pahalanya? Hakim berkata: Rasulullah saw bersabda: Kamu masuk Islam atas berkat kebaikan yang telah dahulu kamu kerjakan. (HR. Al-Bukhari)

Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna/baiti/i-dream)

Sumber:

Hadits-Hadits yang Terkait dengan Silaturahim (Bagian ke-3)

3. Akan dilapangkan rezeki bagi orang yang menyambung tali silaturahim.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (رواه البخاري ومسلم)

I-Dream RadioHadits — Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penjelasan:

Dilapangkan bisa berarti juga di luaskan
Huruf ba’ dalam kata bisilaturahim adalah berarti sebab maksudnya dengan sebab silaturahim ia bisa berbuat baik dengan kerabat
Silaturahim bisa juga berarti Al-Ihsan artinya dengan sebab silaturahim ia berbuat baik dengan kerabat seolah-olah orang yang berbuat baik dengan kerabat disambungkan kembali kebaikannya antar mereka. Oleh sebab itu kata ihsan boleh juga diartikan silaturahim.
Dalam satu riwayat disebutkan man ahabba dan di dalam riwayat lain disebutkan man sarrohu
Dalam satu riwayat disebutkan fi atsarihi sementara dalam riwayat lain fi ajalihi. Atsar juga bisa disebut ajal yang artinya jejak. Jadi arti secara keseluruhan adalah ajal dan jejak itu mengikuti umur manusia karena orang yang mati itu tidak ada gerak dan tidak ada jejak serta tapak di muka bumi
Hendaknya ia menyambung hubungan silaturahim pada kerabatnya dengan bijak. Baik dengan harta ataupun dengan pelayanan dan dengan berbagai bentuk silaturahim yang mengantarkannya untuk taat dan terjajahnya dari perbuatan maksiat sehingga akan dikenang nilai kebaikannya setelah wafat sebab dikenang-kenang bagi manusia setelah wafat merupakan umur kedua dalam hidup walaupun tidak bisa dipungkiri ajal tidak dapat ditangguhkan.

Firman Allah SWT:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ﴿٣٤

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Allah SWT berfirman,

وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴿١١

”Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

Di akhir kata idza di sini menunjukkan bahwa dia selalu dikenang dengan kenangan yang indah bagi orang yang selalu menyambung hubungan tali silaturahim setelah dia meninggal seolah-olah dia itu tidak mati. Kenangan yang indah itu bisa didapat dan diperoleh dengan ilmu yang bermanfaat, sedekah, dan anak shalih. Di dalam kamus Al-Mu’jam As-Shagir karya Thobroni disebutkan dari Abi Darda’ dari Rasulullah SAW bahwa barangsiapa yang menyambung hubungan tali silaturahim baginya akan diberikan anak cucu yang shalih yang selalu mendoakannya setelah ia meninggal bukan artinya ditambahkan umur.

Pelajaran dari Hadits:

Bahwa dengan silaturahim akan mendatangkan kelapangan rezeki dan dikenang dengan baik yang dengan silaturahim akan memunculkan rasa kasih sayang dan akan didoakan ketika meninggal.

 

Tim Kajian Manhaj Tarbiyah (dakwatuna/baiti/i-dream)

Bersambung..