Sikap dalam Menghadapi Istri yang Tidak Taat

Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.(QS. At-Taghabun: 14)

Salah satu tanda kesalehan seorang istri adalah ketaatannya kepada sang suami. Tentunya itu berlaku selama perintah suaminya tidak melanggar ketentuan syariat. Oleh karena itu memiliki istri yang selalu taat kepada suami adalah rezeki tersendiri yang wajib disyukuri dan dijaga kemaslahatannya.

Tidak jarang jatuhnya talak dari seorang suami disebabkan tindakan istri yang dinilai kurang taat, tidak lagi menghargai suaminya, perilaku dan hati yang keras, mudah tersinggung bahkan berani melawan suami. Di sisi lain faktor kelemahan suami dari sudut finansial menyebabkan banyak para istri harus berada di luar rumah untuk bekerja. Dari situ berlanjut adanya suasana dan pergaulan kantor yang terkadang mempengaruhi munculnya perubahan ketaatan, sifat dan sikap seorang istri kepada suami. Jika tidak disikapi dengan bijak, tentu akan berujung timbulnya keretakan hubungan dalam rumahtangga.

Lalu bagaimana seharusnya seorang suami meyikapi hal ini?

Pertama, Jangan tergesa-gesa menjatuhkan thalak (cerai). Ketahuilah bahwa perbuatan yang halal namun paling dibenci Allah adalah menjatuhkan thalaq. Suami ialah pemimpin keluarga, jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana ketika melihat sisi kekurangan istri. Cobalah untuk terlebih dahulu memperbaikinya dan melihat secara jernih pokok permasalahannya.

Seringkali sesuatu yang kita anggap buruk ternyata disisi Allah ada kebaikannya atau juga sebaliknya.  Sebagaimana firman Allah :

 وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

Artinya: …Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.(QS An-Nisa: 19)

Kedua, kedepankan prinsip bermusyawarah dalam menyelesaikan segala persoalan dalam rumah tangga. Dalam hal ini meskipun istri dituntut untuk taat atas keputusan suami, namun suami tidak boleh otoriter. Sebab tidak ada manusia “super”, setiap manusia punya kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu  musyawarah adalah akhlak seorang muslim dalam segala urusannya.

Di lain sisi, kepemimpinan suami juga seharusnya mengikuti dengan kaedah syar’iyah. Syariat Islam mengajarkan kepemimpinan cinta kasih yang berdiri atas dasar cinta dan kasih sayang, bukan atas sikap semena-mena. Dalam Bahasa psikologinya musyawarah adalah komunikasi. Jika ingin melarang istri terhadap sesuatu hal, coba dikomunikasikan terlebih dahulu dengan baik. Diskusikan dan cari titik temu yang tepat untuk anda berdua. In syaa Allah setiap permasalahan ada solusinya jika dilakukan dengan komunikasi yang efektif disertai ketulusan hati yang penuh cinta. Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

Artinya: dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, (QS Asy-Syura 38)

Ketiga, ikuti arahan syariat dalam memperbaiki keretakan rumahtangga. Sebagaimana firman Allah

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا – وَاِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ اَهْلِهٖ وَحَكَمًا مِّنْ اَهْلِهَا ۚ اِنْ يُّرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُّوَفِّقِ اللّٰهُ بَيْنَهُمَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا –

Artinya: Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Mahateliti, Maha Mengenal. (QS An-Nisa 34-35)

Mengacu pada ayat tersebu maka:

Penuhi kewajiban sebagai suami baik yang bersifat materi maupun kebutuhan bathiniah
Tegur dan nasehati dengan bijak terlebih dahulu apabila ia durhaka atau bermaksiat.
Pisah tempat tidur dengannya jika poin 2 belum menunjukkan hasil setelah anda melakukannya berulang-ulang.
Anda dapat memukulnya (selain di wajah/kepala) dengan tidak menyakitkan, sebagai ekspresi ketidaksukaan anda padanya.
Apabila masih belum bisa diatasi, maka cari pihak ketiga untuk menyelesaikan masalah ini (seorang penengah dari pihak keluarga anda dan seorang penengah dari pihak istri yang objektif).

Keempat, evaluasi segala kesepakatan antara anda dan istri. Terkadang istri memiliki kekecewaan terhadap sikap suami namun tidak bisa menyampaikan keluhan. Untuk luangkan waktu untuk berdua dengannya, membangun hubungan yang baik dan komunikasi yang efektif antara anda dan istri. Dengarkan segala curahan isi hatinya, tanyakan beban yang mungkin dirasakan di kantornya kalau ia bekerja. Kenali siapa saja orang-orang di luar rumah yang berinteraksi dengannya. Itu semua menjadi penting untuk mengetahui akar persoalan yang timbul dalam rumahtangga.

Kelima, ingatlah selalu visi ukhrawi dalam membangun keluarga muslim. Ketaqwaan kepada Allah adalah pondasi yang harus kokoh dalam setiap keputusan yang diambil. Sehingga rujukan dalam kehidupan berkeluarga selalu mengacu kepada aturan-aturan dan standar-standar Islami. Kedepankan prinsip ta’awun (tolong menolong) dalam menunaikan hak dan kewajiban dengan penuh keikhlasan dan melakukannya dalam rangka ibadah kepada Allah. Jadikan istri sebagai patner dalam Fasatabiqul khairaat (saling berlomba dalam kebaikan).

 Wallahu’alam

Abi Kenji

The post Sikap dalam Menghadapi Istri yang Tidak Taat appeared first on bersholawat.id.