3 Amalan Khusus di Hari Asyura

Dalam kitab Al-Ajwibah Al-‘Ajibah, Imam Zainuddin bin Makhdum Al-Malibari mengajukan pertanyaan yang dijawab oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami terkait beberapa praktik di hari Asyura, sebagai berikut:

Aku bertanya tentang praktik yang biasa dilakukan masyarakat pada hari Asyura, mulai dari mandi, mengenakan pakaian baru, mengenakan wewangian, bercelak, shalat beberapa rakaat, ziarah ke Ulama, mengusap kepala anak yatim, menjenguk orang sakit, mengenakan pacar, memasak makanan dengan biji-bijian, apakah semua itu ada riwayatnya berupa hadits-hadits yang shahih atau dhaif, atau tidak ada?

Bila engkau katakan tidak ada, bahkan hadits-hadits yang diriwayatkan untuk itu maudhu’ (palsu) batil dan tidak bisa diamalkan, apakah yang melakukannya harus dilarang atau tidak?

Bila engkau katakan dilarang, apakah seluruh praktiknya ataukah sebagian?

Kedudukan hadits tentang bersedekah di hari Asyura

Guru kami Ibnu Hajar Al-Haitami menjawab, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاء وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Barangsiapa melapangkan keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah lapangkan hidupnya setahun penuh.”

Hadits ini memiliki banyak jalur, Al-Baihaqi mengatakan: semuanya dhaif, tetapi bila satu sama lain digabungkan maka menjadi kuat.

Bahkan sebagian Ulama menshahihkan jalur-jalur periwayatannya, yaitu Hafizh Syam Ibnu Nashir, juga dinukil darinya Hafizh Zainuddin Al-‘Iraqi, sehingga kritik Ibnul Jauzi yang mengatakan hadits ini termasuk palsu bukan pada tempatnya, dan sebagian periwayat yang dinilai majhul oleh Ibnul Jauzi dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban, sehingga haditsnya hasan dalam pandangannya.

Bahkan hadits ini memiliki jalur lain yang merupakan jalur paling shahih, karena sesuai dengan persyaratan Imam Muslim, sehingga kami simpulkan bahwa berlapang-lapang terhadap keluarga pada hari itu adalah sunnah, karena haditsnya shahih dan juga terdapat pahala yang banyak.

Membuat makanan khusus di hari Asyura

Di antara bentuk perwujudan berlapang-lapang itu adalah praktik yang menjadi kebiasaan masyarakat (dengan membuat makanan-makanan khas di hari Asyura), maka jadilah praktik itu bernilai sunnah bila dilihat dari segi berlapang-lapangnya, bukan dari segi karena wujudnya adalah berupa kacang-kacangan, kue-kuean, atau makanan lainnya.

Kesaksian terhadap manfaat bersedekah di hari Asyura

Sufyan bin ‘Uyaynah pernah berkata: “Kami telah mengamalkan hadits ini, yakni hadits berlapang-lapang terhadap keluarga selama lima puluh atau enam puluh tahun, dan hasilnya adalah sangat baik.”

Puasa hari Asyura dan Tasua

Adapun puasa pada hari Asyura dan hari Tasu’a dan maka hukumnya sunnah muakkadah, keduanya menghapus dosa-dosa kecil selama setahun.

Berdandan secara khusus di hari Asyura

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Semua riwayat tentang keutamaan bercelak di hari Asyura, menyemir rambut, dan mandi pada hari itu adalah maudhu’ (palsu) tidak shahih.”

Melakukan perkabungan terhadap kematian Sayyidina Husain radhiyallahu ‘anhu

Adapun membuat perkumpulan untuk mengenang terbunuhnya Husain bin ‘Ali karramallahu wajhah di hari itu maka itu adalah sunnahnya orang-orang Rafidhah qabbahahumullah, sungguh orang-orang itu tidak amat jahil.

Melakukan shalat khusus di hari Asyura

Adapun hadits tentang shalat khusus pada hari itu maka dinilai hasan oleh Abu Musa Al-Madani, namun yang benar bukanlah demikian, melainkan hal itu tidak memiliki dasar, sebaliknya di dalam hadits Muslim ada yang menunjukkan dengan jelas larangan untuk menjadikannya hari ‘id.

Kesimpulan

Dari apa yang saya jelaskan maka dapat disimpulkan bahwa semua praktik yang disebut dalam pertanyaan tidak ada yang dianjurkan untuk diamalkan pada hari Asyura dari segi kekhususan hari itu kecuali puasa, berlapang-lapang terhadap keluarga, dan bersedekah, adapun yang selain itu maka praktik yang tidak memiliki dasar.

Wallahu A’lam

Fahmi Aziz

Fiqh, Asyura, Ibadah Islam

The post 3 Amalan Khusus di Hari Asyura appeared first on bersholawat.id.