Menjadi Muslim Cerdas, Tangguh Profesional

iDream Motivation bersama Dr Arief Munandar SE ME

Tema: Membangun Kesuksesan

Talk Show Menjadi Muslim Cerdas, Tangguh, Profesional

Bersama Dr. Arief Munandar, SE., ME

Untuk menonton Versi Video bisa mengunjungi Youtube Channel iDream TV

Follow sosial media kami:

Youtube Channel
iDream TV / http://youtube.com/idreamtvID
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio
STEI SEBI Wisuda 197 Mahasiswa

Depok – Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI (STEI SEBI) kembali menggelar wisuda ke-13 di Sebi Hall Kampus STEI SEBI Depok. Diselenggarakan pada Sabtu (17/11), momen bersejarah bagi wisudawan-wisudawati kali ini bertepatan dengan Milad ke-20 STEI SEBI yang semakin menambah istimewa pelaksanaan prosesi wisuda. Dihadiri oleh perwakilan Diktis dan Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, segenap dosen dan tamu undangan, prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat.

Diawali dengan Sidang Senat Terbuka STEI SEBI yang dibuka oleh Ketua STEI SEBI Sigit Pramono SE, Ak., MSACC. Untuk menambah kekhidmatan acara, prosesi wisuda dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Dilanjutkan juga dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars STEI SEBI. Rangkaian sambutan wisuda kelulusan pada tahun akademik 2018/2019 ini diisi oleh sambutan dari wali amanat Yayasan Bina Tsaqafah, sambutan Yayasan Bina Tsaqafah yang diwakilkan oleh DR. M. Asmeldi Firman, CA., BKP, sambutan Diktis dan sambutan dari Kopertais. Setelah rangkaian sambutan berlangsung, prosesi wisuda dilaksanakan dengan pembacaan surat kelulusan dengan diselingi penampilan angklung.

Pada kelulusan tahun akademik 2018/2019 kali ini STEI SEBI mempersembahkan 197 wisudawan-wisudawati dengan 68 berasal dari Program Studi Akuntansi Syariah dan 129 dari Program Studi Perbankan Syariah termasuk Konsentrasi Manajemen Bisnis Syariah. Dari total 197 wisudawan-wisudawati tercatat 23 orang mendapat predikat cumlaude, dan 80 orang lulus dengan rekor 7 semester. Selain itu, 138 lulusan atau 70% wisudawan-wisudawati tercatat telah bekerja sebelum wisuda. Tercatat pula 26 kejuaraan dan 46 penghargaan telah diraih oleh wisudawan-wisudawati kelulusan tahun akadaemik 2018/2019 selama masa perkuliahan di kampus STEI SEBI.

Pada wisuda kali ini juga berlangsung penyerahan simbolis ucapan terimakasih kepada donatur dan penandatanganan MoU beasiswa serta penyerahan simbolis wakaf tunai dari Direktur SEBI Social Fund. Persembahan wisudawan dan pelepasan wisudawan oleh Ketua Senat STEI SEBI juga Alumni Welcoming Remark dan Simbolis Bakti SEBI manjadi penutup rangkaian prosesi Wisuda STEI SEBI Tahun 2018.

Teman dunia Teman Akhirat

Kajian Tematik Dr. KH. Bakrun Syafi’i

Menjadi Muslim Berkarakter Unggul

Audio Teman dunia Teman Akhirat

Bersama Dr. Attabiq Luthfi, MA

Untuk menonton Versi Video bisa mengunjungi Youtube Channel iDream TV

Follow sosial media kami:

Youtube Channel
iDream TV / http://youtube.com/idreamtvID
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio


Menjadi Muslim Berkarakter Unggul

Kajian Tematik Dr. Attabiq Luthfi, MA

Menjadi Muslim Berkarakter Unggul

Audio Menjadi Muslim Berkarakter Unggul

Bersama Dr. Attabiq Luthfi, MA

Untuk menonton Versi Video bisa mengunjungi Youtube Channel iDream TV

Follow sosial media kami:

Youtube Channel
iDream TV / http://youtube.com/idreamtvID
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio


Wakil Ketua Dewan Pers Jadi Pembicara Tamu di Pelatihan OMOJ

JAKARTA — Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, jadi pembicara tamu di pelatihan One Masjid One Journalist (OMOJ) Angkatan kedelapan di Masjid Darussalam, Kota Wisata Cibubur, Jakarta, Sabtu (10/11). Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Forum Jurnalis Muslim (Forjim) dengan Yayasan Darussalam Kota Wisata.

Dalam kesempatan tersebut, Djauhar mengatakan bahwa kerja-kerja jurnalistik merupakan kerja mulia dengan menyampaikan informasi berita kepada masyarakat. Karena itu, kata dia, wartawan harus memahami dan dibekali kode etik jurnalistik (KEJ).

Kode etik mengatur 11 ketentuan menjadi wartawan. Seluruh point tersebut merupakan kesepakatan bersama (konsensus) lebih dari 50 asosiasi profesi jurnalis se-Indonesia. Maka itu, wartawan diwajibkan untuk mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW).

“Karena pasca reformasi berita-berita yang tidak jelas kebenarannya sangat berseliweran. Dan banyak sekali yang langsung percaya. Penyakit ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia mengalami hal yang sama,” ujarnya.

“Kita harus berusaha mengambil dan menyebarkan informasi yang baik dan bermanfaat. Bekerja sebagai wartawan, tidak lepas dari kode etik jurnalistik. Nah, jika ada wartawan yang bermasalah dengan kode etik, maka kami yang akan memediasi dengan pihak terkait,” sambungnya.

Ia menjelaskan, Dewan Pers memiliki peran untuk mediasi antara media yang bersangkutan dengan pihak yang merasa dirugikan. Proses penyelesaian masalah tersebut dinamakan ajudikasi dan mediasi.

“Kami selalu berharap diantara kerja kami ada manfaatnya. Kita berharap kerja jurnalistik tidak mengandung fitnah, agitasi dan mengadu-domba masyarakat,” ujar dia.

Menurut dia, kelemahan wartawan saat ini yaitu tidak mengedepankan verifikasi faktual. “Wartawan harusnya tidak langsung percaya omongan orang. Wartawan harus skeptis. Apalagi kalau menyangkut pihak ketiga,” katanya.

Ia menandaskan, keberadaan Dewan Pers adalah menjaga kemerdekaan Pers di Indonesia terjamin. Karena penguasa yang berkuasa dimanapun keinginannya sama, dapat mengendalikan media. Menurutnya, dari 11 Negara se-Asean, hanya Indonesia saat ini yang menjamin kemerdekaan pers.

“Kami pernah mengalami represifitas pemerintah di Orde Baru. Itu ngeri sekali. Sangat menakutkan. Media yang dianggap berbahaya, langsung disikat. Saya berharap, tidak ada lagi kriminalisasi terhadap pers,” tandasnya.***