Kisah Abdullah Bin Rawahah & Khalid bin Walid di Perang Mu’tah

Kisah Sahabat Nabi : Kisah Abdullah Bin Rawahah & Khalid bin Walid di Perang Mu’tah

Narasumber: Ustadz Agung Waspodo

Dengarkan Program “MANIS” Majelis Iman & Islam

di IDream Radio 1044 AM

atau streaming www.idreamradio.id

Setiap hari Pukul 05:30 WIB dan 13:30 WIB

Follow sosial media kami:
Whatsapp & Telpon: 0822-9888-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter

Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website

Home


Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio

Kisah Zayd Bin Haritsah Dari Budak Menjadi Mujahid

Kisah Sahabat Nabi : Kisah Zayd Bin Haritsah Dari Budak Menjadi Mujahid

Narasumber: Ustadz Agung Waspodo

Dengarkan Program “MANIS” Majelis Iman & Islam

di IDream Radio 1044 AM

atau streaming www.idreamradio.id

Setiap hari Pukul 05:30 WIB dan 13:30 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9888-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio
Kisah Hatib bin Abi Balta’ah

Kisah Sahabat Nabi : Kisah Hatib bin Abi Balta’ah

Narasumber: Ustadz Agung Waspodo

Dengarkan Program “MANIS” Majelis Iman & Islam

di IDream Radio 1044 AM

atau streaming www.idreamradio.id

Setiap hari Pukul 05:30 WIB dan 13:30 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9888-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio
Sejarah Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad

Sejarah Sebelum Kelahiran Nabi Muhammad

Narasumber: Drs. Muhammad Said, M.Hum

Dengarkan Program “MANIS” Majelis Iman & Islam di IDream Radio 1044 AM

atau streaming www.idreamradio.id

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9888-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio
Begini Umar bin Khattab Menyelesaikan Krisis

I-Dream RadioSiroh — Umat Islam ternyata sejak dari dulu memang sudah tidak asing dengan krisis ekonomi. Setidaknya, sejak zaman Rasulullah, ada dua krisis ekonomi besar yang pernah dicatat oleh buku sejarah Islam.

Pertama, ketika umat Islam diboikot oleh kaum Yahudi dalam masa awal penyebaran Islam. Yang kedua, pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Apa penyebabnya dan bagaimana Khalifah Umar bin Khattab mengentaskannya?

Krisis itu terjadi tepatnya pada tahun 18 hijriah. Peristiwa besar ini kemudian disebut “Krisis Tahun Ramadah”. Saat itu di daerah-daerah terjadi kekeringan yang mengakibatkan banyak orang dan binatang yang mati. Orang-orang pun banyak yang menggali lubang tikus untuk mengeluarkan apa yang ada di dalmnya—saking langkanya makanan.

Khalifah Umar yang berkulit putih, saat itu terlihat hitam. Ia pun berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad pada tanganku dan di dalam kepemimpinanku.”

Beliau juga berkata kepada rakyatnya: “Sesungguhnya bencana disebabkan banyaknya perzinaan, dan kemarau panjang disebabkan para hakim yang buruk dan para pemimpin yang zalim… Carilah ridha Tuhan kalian dan bertobatlah serta berbuatlah kebaikan”.

Tidak lama kemudian berbagai krisis tersebut segera diatasi. Saking sejahteranya, tiap bayi yang lahir pada tahun ke-1, mendapat insentif 100 dirham (1 dirham perak kini sekitar Rp. 30 ribu, tahun ke-2 mednapatkan 200 dirham, dan seterusnya. Gaji guru pun per bulan mencapai 15 dinar (1 dinar emas kini sekitar Rp 1,5 juta).

Pada tahun 20 hijriah, khalifah Umar juga mencetak mata uang dirham perak dengan ornamen Islami. Ia mencantuman kalimah thayibah, setelah sblmnya umat Islam menggunakan dirham dari Persia yang di dalamnya terdapat gambar raja-raja Persia.

Adapun pencetakan dinar emas berornamen Islami diberlakukan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 75 hijrah. (Sumber: Al-Fiqh al-Iqtishadi li Amir al-Mukminin Umar Ibn Khathab”)  adminrki (rki/baiti/i-dream)

Yang Benar-Benar Hancur di Perang Tabuk

I-Dream Radio Fiqih Islam — Garis-Garis Kehancuran Para Pengkhianat Perang:

Lebih cinta diri sendiri, keluarga dan harta dari gema jihad yang disuarakan Rasulullah Saw.
Bersumpah serapah demi melepaskan diri dari beban jihad meski ia harus dipoles dengan seribu satu kebohongan.
Menyalahkan gema jihad meski itu datang dari Alquran.
Melihat benar dirinya jika duduk bersama dengan keluarga menikmati hasil panen dari menceburkan diri di medan perang yang tidak pasti hasilnya.
Lebih memilih yang bersifat duniawi sementara dari yang bernuansa ukhrawi abadi.

Mengarungi medan perang bukanlah perkara remeh. Sebelum kekuatan fisik, asa perlu diasah, niat diteguhkan dan keyakinan digenggam kuat. Siap perang dalam situasi apa pun dapat menjadi ukuran dan cermin tebal-tipisnya keimanan. Yang tahu arti dan hakikat jihad di jalan Allah menyambut baik panggilan suci ini, namun yang di pikirannya hanyalah dunia, enggan menjawab panggilan ini. Jihad bagi kelompok terakhir ini tidak lain kecuali bayang-bayang kematian, kerugian dan kehancuran.

Dalam bingkai perang Tabuk yang dikemas rapi Q.S. At-Taubah 9: 38, wajah-wajah yang kalah perang sebelum bertempur tidak dapat menyembunyikan diri. Kaki mereka lebih berat dari kaki gajah, tubuh mereka kaku tidak berdaya, kehilangan akal, genderang perang seperti menyuarakan kematian yang pasti.

“Oh, perang lagi, perang lagi… kenapa pula kita yang diajak… bukankah ini musim panen, anggur dan kurma menanti dipetik. Jika bukan kami, siapa lagi, tidak mungkin anak dan istri kami yang memetik. Jika tidak segera dipetik, hasil kebun pasti membusuk. Bukankah ini kebodohan dan kegilaan yang nyata, apatah lagi perang kali ini sangatlah berat; di musim panas, perjalanan jauh dan jumlah musuh yang banyak.” Keluh mereka.

Nafas-nafas kekalahan yang lagi sesak ini dibahasakan Alquran secara lugas dengan اثَّاقَلْتُمْ. Meski ringkas, namun muatan maknanya menyiratkan seribu satu bahasa kekalahan. Ini terlihat dari struktur kalimat dengan huruf-hurufnya.

Kalimat yang asalnya dari تَثَاقَلْتُمْ yang kemudian huruf ta’ (ت) dilebur (diidgham) ke dalam pengucapan huruf tsa (ث) sehingga struktur ini perlu sisipan huruf alif (ا) sebagai media penyambung untuk menyebut huruf yang mati. Seperti rumitnya pola struktur kalimat ini dan pengucapannya, seperti itu juga rasa galau, gunda dan ketakutan yang sedang menyelimuti diri mereka dari gema jihad.

Kaki mereka seperti terpaku kuat di bumi, tidak dapat melangkah meski sejengkal. Itu karena cinta dunia dan kenikmatannya. Inilah yang kemudian membutakan hati, membuat terlena dan lupa bahwa akhirat lebih kekal dari dunia.

Makna-makna ini dikemas rapi untaian kalimat berikut ini, اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ .

Karena kehilangan hikmah, mereka pun ditegur keras Alqur’an,

﴿أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Hanya duniakah di hatimu, sudah tidak ada lagikah akhirat di sana? Sulit dipercaya, tetapi seperti itulah kenyataannya. Bukankah sayap lalat lebih berat dari isi dunia di sisi Allah. Dunia yang semestinya jadi kendaraan mewah Anda menuju istana akhirat, justru Anda Jadikan seperti destinasi terakhir, seakan-akan Anda tidak ingin berpisah dengannya.” Tegur keras Alquran.

Ya, karena perang kali ini sangatlah berat dan dahsyat, Alquran pun mengerasi mereka dengan kalimat-kalimat yang menyentuh.

Ini senada dengan sikap dan antusias Rasulullah Saw. Jika berita dan strategi perang seringkali ditutup dan dirahasiakan meski dari orang terdekat, Rasulullah Saw kali ini membuka lebar berita perang ini sehingga tidak ada satu pun sudut kota Madinah kecuali menguping dan mendengar.

Olehnya itu, teguran Alquran tidak berhenti di sini saja, teguran kali ini lebih pedas dan menggigit, “yang beriman di dunia bukanlah kalian seorang, di sana ada umat lain yang siap menggantikan posisi mulia Anda di barisan jihad. Jika kalian tidak keluar berjihad, boleh jadi kemuliaan ini jatuh di tangan orang lain. Bukan hanya itu, Azab akhirat pun menanti Anda.”

Karena ini pun tidak menyengat meski dengan nada tinggi, mereka pun diminta mengorek bukti sejarah, “jika kalian berdiam diri, tidak memenangkan Rasulullah Saw dengan menjawab panggilan jihadnya, cukuplah Allah penolong baginya, dan itulah sebaik-baik pertolongan. Bukankah kisah Rasulullah dan sahabat sejatinya, Abu Bakar di saat mereka dikejar-kejar kaum Quraisy yang ingin menghabisinya merupakan fakta yang tidak terpatahkan? Bukankah bala tentara Allah tidak terhitung jumlahnya? Pertolongan Allah tidak dapat diprediksi datangnya dari mana dan dengan apa. Semuanya siap memberikan pertolongan terhadap Rasul-Nya Saw kapanpun dan di manapun. Inilah kemenangan mutlak Rasulullah Saw secara maknawi yang selalu menyertainya sebelum kemenangan lahiriah yang kadang jauh dari genggaman oleh sebab-sebab duniawi seperti di perang Uhud.” Lanjutnya.

Intonasi teguran-teguran ini dari rendah ke tinggi, dari tinggi ke datar tertata rapi di kelompok ayat Q.S. At-Taubah 9: 39-40 berikut ini:

﴿إِلَّا تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٣٩﴾ إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٤٠

Meski nampak jelas volume tinggi teguran kelompok ayat di atas, namun mereka tetap saja terpaku berdiam diri di tempat, memegang khayalan-khayalan semu dan percaya desir-desir hati yang membelenggu. Olehnya itu, mereka malu di muka dunia karena ulah sendiri. Rahasia mereka menjadi rahasia umum sejak kelompok ayat ini diturunkan hingga hari kiamat.

“Seperti apa rahasia umum mereka?” Tanya Anda.

“Ternyata karena perjalanan panjang ke Tabuk yang menguras pikiran dan tenaga. Andai saja di sana ada kepingan emas atau perniagaan yang menguntungkan, tentulah mereka ikut. Olehnya itu, alasan mereka, “itu karena tahun ini musim panen,” tidak beralasan lagi. Yang ditutupi terungkap dengan jelas. Alquran memenangkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang menyertainya dengan cara yang sangat spektakuler.” Jawab maknawi Alquran yang terekod di ayat berikut:

﴿لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّاتَّبَعُوكَ وَلَٰكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Pada dasarnya, sifat yang dibidik oleh ayat ini adalah sifat kenifakan. Sifat yang senantiasa menginginkan kemenangan dan keuntungan meski dengan cara yang tidak legal. Sifat khianat yang siap memberi kesetiaan dan pengabdian jika nampak di pelupuk mata kemenangan, namun menikam kawan dari belakang jika nampak kekalahan berpihak kepadanya. Sifat yang ingin menang selalu meski kawan terluka, ingin kekal di atas meski kawan menjerit terinjak di bawah, mendambakan kebahagiaan abadi meski kawan tersisi dan terusir dari keluarga dan lingkungan. Sifat yang siap mengumbar sumpah dan janji demi meraih maslahat pribadi atau kelompok, siap menjilat ludah sendiri demi sebuah kemenangan semu. Karena itulah, kehancuran datang dari diri mereka sendiri, bukan karena faktor luar.

Dari ayat ini pula diketahui rahasia teguran-teguran keras di atas. Ya, Alquran menegur keras mereka karena ia tahu bahwa sifat malas berjihad, lebih cinta dunia dari akhirat dan ingin menang selalu meski menghabisi kawan merupakan media terdekat menuju kemunafikan jika dibiarkan berterusan dan tidak ditegur keras. Olehnya itu, teguran demi teguran yang menyengat datang menghujani.

Olehnya itu, bidikan selanjutnya Q.S. At-Taubah adalah orang-orang munafik yang ayat-ayatnya datang setelah ayat-ayat yang enggan keluar berjihad.

Mereka disifati sebagai penebar fitnah, penipu dan pemecah kata sepakat di antara muslimin. Berusaha memadamkan semangat jihad yang berkobar di hati para sahabat dengan menakut-nakuti mereka dengan kekalahan dan kerugian yang menanti di medan perang. Inilah yang kemudian direkod halus Q.S. At-Taubah 9: 46-50:

﴿وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ ﴿٤٦﴾ لَوْ خَرَجُوا فِيكُم مَّا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ ﴿٤٧﴾ لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِن قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّىٰ جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ ﴿٤٨﴾ وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ ﴿٤٩﴾ إِن تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَإِن تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِن قَبْلُ وَيَتَوَلَّوا وَّهُمْ فَرِحُونَ

Mereka yang tidak ikut serta berjihad karena alasan konyol yang dibuat-buat, membangun masjid ad-Dhirar, masjid yang menjadi pusat kejahatan mereka untuk menghancurkan Islam, namun semuanya ini terekod rapi di Q.S. At-Taubah 9: 107-109 yang mencoreng kehormatan diri mereka di depan mata dunia.

﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ ﴿١٠٧﴾ لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ ﴿١٠٨﴾ أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Sungguh tinggi nilai keindahan Alquran, semuanya diberi tempat dan pemaknaan yang sesuai, tidak ada korupsi makna atau tempat. Setiap kata, kalimat, bahkan huruf rida dengan tempat dan makna yang dipilihkan untuk mereka. Semuanya saling bergandengan tangan dan menyapa dalam memamerkan khazanah Alquran yang tidak pernah kering menyuguhi hakikat-hakikat ketauhidan dan kenabian.

Di penghujung tulisan ini, pemerhati ayat-ayat kehancuran diajak menyimpulkan percikan tersirat makna-makna kelompok ayat di atas:

Perang di jalan Allah merupakan testing keimanan yang paling ampuh dalam meneropong tebal-tipisnya keimanan dalam hati.
Kemunafikan bukan hanya dikantongi orang-orang munafik, tetapi boleh jadi menjangkiti orang-orang beriman.
Kenifakan bukan hanya satu wajah, tetapi seribu satu wajah yang siap menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi demi meraih segenggam harapan semu.
Selain Q.S. Al-Munafiqun, Q.S. At-Taubah menjadi boomerang yang menghujat dan membeberkan aib orang-orang munafik di mata dunia.
Meski tidak nyata kenifakan menyatakan perang terhadap Islam, tetapi karena ia musuh dalam selimut, ia pun jauh lebih berbahaya dari kemusyrikan dan kekafiran. Dr. Muhammad Widus Sempo, MA (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Saat Hidayah tak Dapat Dibendung

I-Dream RadioSiroh — Serangan kaum penyembah berhala terhadap dakwah Nabi saw tidak berhenti pada tindak kekerasan fisik namun secara masif mereka pun melakukan penistaan dan penzhaliman yang luar biasa. Seluruh jaringan dan koneksitas pendukung paganisme di tanah Arab sudah didesain agar mencegah semakin banyaknya orang yang masuk ke dalam Islam.

Dari sekadar menakut-nakuti sampai pada ancaman badan, bahkan mereka sepakat melekatkan ‘lebel’ tukang sihir kepada Rasulullah saw. Mereka mendirikan pos-pos pengintaian di setiap pintu masuk kota Mekah. Ribuan intel Quraisy disebar ke seluruh tanah Mekkah. Setiap orang yang masuk Mekah mereka katakan: “Jangan dekati Muhammad, sebab dia tukang sihir, nanti kamu akan kena sihirnya, dia itu memisahkan antara anak dengan ayahnya, suami dengan istrinya, seseorang dengan saudaranya, maka jangan kamu ngomong dengannya, jangan dengar perkataannya, kami khawatir akan menimpa kamu dan kaummu”. (Sirah Ibnu Ishaq)

Termasuk yang termakan provokasi isu penistaan ini adalah Thufail ibn Amar al-Dausy. Thufail datang ke Mekkah dengan menutup kupingnya dengan kapas sehingga apa yang dikatakan Nabi saw ia tidak mendengarkannya.

Saat Nabi saw keluar shalat di Ka`bah, Thufail sempat mendekatinya. Kemudian Nabi kembali ke rumah. Ternyata secara diam-diam diikuti oleh Thufail dari belakang. Tufail berkata: “Ya Muhammad, kaummu mengatakan kepadaku begini … begitu…, demi Allah mereka terus menakut-nakuti aku hingga aku sumbatkan kapas ke dua telingaku, akan tetapi Allah SWT menakdirkan lain, aku sempat mendengarkan perkataanmu…, perkataan itu kurasakan sesuatu yang baik, terangkanlah kepadaku ajaran apa yang kamu bawa ini…”

Nabi saw kemudian membacakan beberapa ayat suci al-Qur`an. Lantas Thufail berkata, “Aku tidak pernah mendengar bacaan seindah dan secantik ini”. Tufail kemudian menyatakan keislamannya.

Setelah menyatakan keislamannya Tufail melakukan dakwah dan dalam waktu satu tahun Thufail dapat merekrut 80 keluarga penyembah berhala masuk Islam. Termasuk keislaman Abu Hurairah RA. Subhanallah… Ternyata sehebat apapun kampanye hitam yang menistakan dakwah hasilnya tidaklah seperti yang mereka harapkan. Justru yang terjadi sebaliknya. Isu yang dimunculkan bukan membuat orang menjauhi dakwah, justru menjadi sebab berbondong-bondongnya orang memeluk agama Allah ini.

Aidil Heryana, S.Sosi (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Memanen Hikmah dari Momentum Tahun Baru Hijriyah

I-Dream RadioSiroh — Beberapa hari yang lalu kita telah memperingati peristiwa hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Sebuah momen peringatan yang mampu merefresh dan mempererat hubungan seorang muslim dengan sejarah Islam dan kejadian yang dilalui Rasulullah saw. Tidak ada yang memperdebatkan lagi bahwa peringatan hijrah Rasulullah saw. Adalah peringatan besar yang perlu diperingati dan diambil hikmah-pelajarannya.

Kaum Muslimin di Makkah melewati masa 13 tahun dalam kondisi yang sulit; penuh dengan ujian, cobaan, tekanan dan kezaliman dari kaum kafir, namun mereka menghadapi semua itu dengan penuh kesabaran dan pengorbanan sampai tibalah pensyariatan hijrah.

Siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw. telah sampai pada puncaknya dan sudah sangat kelewat batas. Terlebih setelah wafatnya paman beliau (Abu Thalib) dan istrinya (Khadijah ra). Siksaan ini juga dialami semua sahabat-sahabat Rasulullah saw. Hal ini mengharuskan mereka meninggalkan harta, keluarga dan tanah kelahirannya untuk menyelamatkan agamanya. Mereka berhijrah setelah mendapatkan ijin dari Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. termasuk orang yang paling terakhir hijrahnya.

Kaum Quraisy merasa telah gagal dalam semua usahanya menghentikan penyebaran dakwah Islam dan memutus laju pertambahan orang yang masuk Islam. Karena itulah mereka merancang sebuah rencana busuk, yaitu membunuh Rasulullah saw.

Upaya pembunuhan yang dilakukan kaum Quraisy pun gagal, dan Rasulullah saw. keluar dengan selamat menuju rumah sahabatnya (Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.) untuk menjalankan tahap pertama dari proses hijrah. Rasulullah saw. pun bergegas pergi dan menyadari hal ini kaum Quraisy pun berupaya untuk menyusul dan menangkap beliau. Mengetahui dikejar kaum Quraisy beliau bersembunyi di dalam gua selama 3 hari kemudian beliau melanjutkan perjalanannya sampai ke Madinah setelah melalui perjalanan panjang yang penuh dengan kesulitan dan marabahaya. Beberapa mukjizat bermunculan dalam perjalanan beliau, hingga akhirnya beliau sampai di Madinah, dan bertemu dengan para sahabatnya untuk memulai membangun pondasi daulah Islamiyah di sana.

Untuk mengetahui proses hijrah secara detail dan mendalam alangkah baiknya jika para pembaca yang budiman merujuk pada kitab-kitab Sirah dan Fikih Sirah supaya bisa mendapatkan hikmah dan pelajarannya secara mendetail.

Melalui artikel ini akan penulis kupas secara singkat dan global hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari hijrahnya Rasulullah saw.

Pertama; Mempopulerkan sistem penanggalan Hijriyah dan menampakkan kesakralannya karena ia merupakan sistem penanggalan Islam yang berhubungan dengan momen hijrahnya Rasulullah saw. dan karena penanggalan bulan Hijriyah merupakan penanggalan bulan Qomariyah yang berhubungan dengan rotasi bulan, dan Rasulullah saw. Mengajarkan kita menggunakan bulan-bulan ini dalam masalah ibadah dan lainnya. Ada ibadah puasa bulan Ramadhan, puasa pertengahan bulan (ayyamul bidh), dan sebagainya.

Kedua; Mengingatkan kembali umat Islam pada peristiwa hijrah, dan menautkan mereka pada hikmah dan pelajarannya agar mereka mengetahui sunnatullah dan karakter dari dakwah Islam.

Ketiga; Mempertegas rekayasa dan tipu daya musuh-musuh Islam zaman dulu dan sekarang yang tidak ada henti-hentinya mengerahkan segenap daya, upaya dan usahanya untuk menjauhkan umat manusia dari dakwah Islam.

Keempat; Memperkenalkan kepada generasi muda akan momen kepahlawan dari generasi muda sahabat dalam momen hijrah dan momen-momen lainnya dalam sejarah Islam. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang tatkala itu masih berusia belia mempunyai peran penting dan pengorbanan besar dalam kesuksesan hijrahnya Rasulullah saw. Beliau berperan bak kelinci percobaan yang ditugaskan untuk menggantikan posisi Rasulullah saw. di atas tempat tidurnya yang seyogyanya menjadi tempat kejadian kejahatan besar.

Kelima; Menegaskan kedudukan mulia bagi Abu Bakar ra. dan keluarganya di sisi Rasulullah saw. atas peran besar yang dilakukannya pada momen-momen sebelum hijrah dan setelahnya. Demikian juga kedudukan mulia para sahabat khususnya sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan lebih khusus lagi adalah keempat khulafa`ur-rasyidin.

Keenam; Menegaskan perhatian Rasulullah saw. akan pentingnya berusaha. Beliau bersama Abu Bakar ra. telah mengerahkan segenap usahanya untuk menyusun strategi dan persiapan. Namun, meskipun begitu beliau tetap bertawakal kepada Allah swt. bukan kepada usaha yang telah dilakukannya.

Ketujuh; Menegaskan betapa besar perlindungan dan penjagaan Allah swt. kepada Rasulullah saw. dalam perjalanan panjang itu yang ditakdirkan-Nya dilakukan dalam kuasa manusia biasa tidak sebagaimana yang terjadi pada perjalanan Isra` dan Mi`raj.

Kedelapan; Menambah kepercayaan kaum muslim akan kebenaran ideologi dan akidah yang dipegangnya. Tidak memperdulikan segala macam isu-isu yang bertujuan menghentikan laju dakwah. Saat itu Rasulullah saw. sangat percaya akan kesuksesan hijrah, dakwah dan sampainya beliau di hadapan para sahabatnya di Madinah, meskipun beliau akan melalui marabahaya dan kesulitan besar dalam perjalanannya.

Kesembilan; Menegaskan perhatian besar syariat Islam pada lingkungan yang kondusif dan bagaimana menyiapkannya. Dahulu kaum muslimin di Makkah sudah mengetahui pentingnya pertemuan mereka dalam suatu pertemuan pekanan untuk melaksanakan shalat Jum`at bersama dan Rasulullah saw. Maka setibanya di Madinah beliau langsung mendirikan shalat Jum`at untuk pertama kalinya bersama dengan para sahabatnya.

Kesepuluh; Menegaskan kembali pentingnya menghidupkan kembali peran masjid dan menguatkan hubungan dengannya serta pencetakan kader-kader yang mampu memenej masjid dan mengembalikan peran utamanya untuk menyelesaikan permasalahan umat, tempat mentarbiyah umat,tempat menyadarkan umat dan mengaktifkan lagi perannya dalam mendirikan agama dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam.

Kesebelas; Pentingnya menghidupkan kembali semangat persaudaraan di antara sesama kaum muslimin dan menegaskan hubungan eratnya dengan keimanan kepada Allah swt. Semangat persaudaraan yang dihidupkan kembali adalah semangat persaudaraan untuk saling mengayomi dan membantu dalam kebaikan dan ketakwaan.

Keduabelas; Pentingnya menghidupkan kembali etika berinteraksi dengan orang lain dan penanaman etika-etika berinteraksi antar sesama manusia baik yang muslim maupun kafir. Dr. Fuad Abduh Muhammad Bakrain Ash-Shufi (dakwatuna/baiti/i-dream)

Kisah Kepemimpinan Para Sahabat

I-Dream Radio — Tarikh Islam — Peristiwa berikut ini menceritakan tentang sebuah sikap yang sangat luar biasa dari Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA), yang sangat keukeuh untuk tetap memberangkankan tentara Usamah bin Zaid ke Syam, meskipun berhadapan dengan “ijtihad” “para pembesar” sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum, dengan alasan, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) sebagai khalifah (pelanjut), tidak mau membuat policy pertamanya adalah meninggalkan, apalagi merubah, atau mengganti “policy” dari pemimpin sebelumnya, yaitu Rasulullah SAW.
Pembahasan

Pertama : Cerita Tentang Pemberangkatan Pasukan Usamah bin Zain (RA) di Zaman Nabi SAW

Menjelang akhir hayat Rasulullah SAW, dan di saat beliau SAW dalam keadaan sakit berat, beliau menetapkan Usamah bin Zaid (RA) yang baru berumur 17 atau 18 tahun agar membentuk sariyyah, atau ekspedidi pasukan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah SAW secara langsung.

Beliau SAW pun mendorong kepada para sahabat agar secara sukarela mendaftarkan diri mereka untuk bergabung ke dalam pasukan yang akan dipimpin oleh Usamah bin Zaid (RA) ini.

Pasukan ini, setelah terbentuk nanti, mendapatkan tugas untuk menuju lokasi di mana Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah –radhiyallahu ‘anhum– gugur sebagai syuhada’ di sana, yaitu dalam sebuah pertempuran yang dikenal dengan nama Perang Mu’tah.

Lokasi Mu’tah memang cukup jauh dari Madinah, sebab, dalam tatanan negara sekarang, Mu’tah masuk negara Yordan, sangat jauh dari Madinah, dan cukup jauh masuk ke “pedalaman” kekuasaan kekaisaran Romawi, dan mesti melewati banyak sekali suku-suku Arab yang berada di sebelah utara Madinah.

Banyak para sahabat nabi bergabung ke dalam pasukan ini, diantaranya terdapat “pembesar-pembesar sahabat”, seperti: Umar bin Al-Khaththab, Sa’d bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’id bin Zaid, dan lain-lain, radhiyallahu ‘anhum.

Pasukan pun terbentuk, maka Rasulullah SAW bersabda kepada Usamah bin Zaid, “Bawalah pasukanmu ke tempat syahidnya orang tuamu, seranglah lokasi itu dengan pasukan berkuda, lakukan serangan di pagi hari di tempat yang bernama Ubna, panaskan mereka, percepat perjalananmu agar ketibaanmu di sana lebih cepat daripada beritanya, lalu, jika Allah SWT memberikan kemenangan kepadamu atas mereka, jangan berlama-lama di sana”.

Melihat bahwa yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai panglima adalah seorang pemuda belia yang baru berumur 17 atau 18 tahun, beberapa sahabat nabi (tidak banyak, hanya beberapa saja) berkomentar minor terhadap kepemimpinan Usamah. Diantara yang berkomentar itu bernama Ayyasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi. Komentar Ayyasy ini terdengar oleh Umar bin al-Khaththab (RA), maka Umar (RA) menyampaikannya kepada Rasulullah SAW.

Mendengar komentar seperti itu, Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mencela kepemimpinan Usamah, maka sungguh kalian dahulu juga mencela kepemimpinan orang tuanya (Zaid bin Haristah [RA]), demi Allah, sungguh, Usamah sangat layak menjadi pemimpin, dan sungguh, Zaid adalah orang yang sangat aku cintai, dan Usamah adalah orang yang sangat aku cintai sepeninggal orang tuanya”. (HR Bukhari [4469] dan Muslim [2426]).

Sebenarnya, “kritik” beberapa sahabat nabi itu didasarkan atas ijtihad mereka, mengingat Usamah dianggap masih terlalu muda untuk membawa pasukan merangsek jauh ke “pedalaman” kawasan musuh, jauh meninggalkan Madinah, dan sama sekali bukan bermaksud menolak kepemimpinan Usamah bin Zaid (RA). Namun, Rasulullah SAW tetap keukeuh untuk menetapkan Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan itu, dan tentu mengandung banyak hikmah dan rahasia.

Usamah pun kemudian mempersiapkan segala yang diperlukan oleh pasukan itu, dan dia pun menetapkan markas persiapannya di tempat yang bernama Jaraf sedikit keluar dari Madinah.

Setelah semuanya siap, ternyata sakit Rasulullah SAW semakin berat, maka Usamah pun mendatangi Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau SAW: “Wahai Rasulullah, engkau semakin melemah, dan saya berharap kepada Allah SWT, semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada engkau, oleh karena itu, ijinkan saya untuk tetap tinggal dan tidak berangkat, sehingga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada engkau, sebab, kalau saya tetap berangkat, sementara engkau dalam keadaan sakit seperti ini, maka saya akan berangkat dengan perasaan terluka dan berduka, padahal saya tidak suka kalau harus selalu bertanya-tanya kepada kafilah-kafilah yang ada tentang perkembangan keadaan engkau”.

Mendengar pernyataan Usamah seperti itu, Rasulullah SAW diam.

Karena Usamah bin Zaid sebagai panglima belum memberangkatkan pasukannya, maka pasukan itu pun tetap bermarkas di Jaraf.

Pada suatu hari Senin di bulan Rabi’ul Awwal, Rasulullah SAW kelihatan agak ringan, maka Usamah pun menemui Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Berangkatlah atas keberkahan Allah SWT”. Aka Usamah keluar dari rumah Rasulullah SAW dan menuju ke Jaraf untuk memberangkatkan pasukannya.

Namun, tiba-tiba, datanglah utusan Ummu Aiman, ibunya Usamah bin Zaid yang memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah SAW telah wafat, maka datanglah Usamah ke tempat Rasulullah SAW dengan ditemani oleh Umar bin al-Khaththab dan Abu Ubaidah (RA) dan benar saja, mereka mendapati Rasulullah SAW telah wafat.

Perlu diketahui bahwa jarak atau masa antara penetapan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang dengan wafatnya Rasulullah SAW adalah 16 hari, sebab, anjuran beliau SAW kepada para sahabat untuk bersiap-siap membentuk pasukan terjadi pada hari Senin 25 atau 26 Shafar tahun 11 H, lalu pada hari Selasa nya Rasulullah SAW menetapkan Usamah bin Zaid (RA) sebagai panglima, dan Rasulullah SAW mulai sakit pada hari Rabu akhir bulan Shafar tahun 11 H dan wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H.

Jumlah waktu yang hanya belasan hari ini bukanlah waktu yang lama untuk mempersiapkan sebuah pasukan yang akan bergerak ke tempat yang sangat jauh itu, namun, karena sikap sur’atul istijabah para sahabat, pasukan itu telah terbentuk dengan sangat sempurna.

Menurut satu sumber, pasukan yang terbentuk ini terdiri dari 3000 pasukan, lengkap dengan seluruh perlengkapan dan keperluannya, padahal saat itu, keadaan ekonomi para sahabat nabi sedang tidak bagus, dan semua pasukan yang bergabung ini, adalah atas kerelaan dan kemauan mereka sendiri, Rasulullah SAW hanya mendorong dan memotivasi saja. Perbekalan dan perlengkapan perang mereka pun, baik yang bersifat kolektif maupun perseorangan, juga dari sumbangan mereka.

Kedua : Tentara Usamah di Zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA)

Setelah kaum muslimin secara aklamasi memba’iat Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) sebagai khalifah Rasulullah SAW, keadaan “Dunia Islam” saat itu benar-benar sangat gawat. Betapa tidak?

Seluruh semenanjung Arabia yang pernah masuk Islam, semuanya murtad. Yang tidak murtad hanyalah: Madinah, Makkah, Thaif dan Bahrain (kawasan pantai timur semenanjung Arabia). Repotnya, kawasan yang tidak murtad ini ibaratnya seperti pulau-pulau yang saling berjauhan, yang tidak dengan mudah dapat dikonsolidasi secara cepat.
Kawasan-kawan yang murtad itu telah berencana akan menyerang Madinah, dengan alasan mereka masing-masing. Sehingga, posisi Madinah benar-benar sangat gawat. Ibaratnya, Madinah semacam kambing yang terkepung oleh singa, serigala dan semua binatang buas lainnya.
Kekuatan “tentara” Madinah saat itu, ya hanya berkisar pada angka 3000 tentara yang terbentuk di zaman nabi itu, sementara kawasan yang murtad, jumlahnya tentunya sangat berlipat.

Meskipun keadaan “Dunia Islam” saat itu sedemikian rupa “gawat”-nya, begitu Abu Bakar menjadi khalifah, kebijakan pertama yang akan dia jalankan adalah “memberangkatkan pasukan Usamah”. Atau istilahnya: Infadzu Jaisyi Usamah.

“Kebijakan” inilah yang coba di-“taklukkan” oleh “ijtihad” para sahabat nabi yang lain, yang jika mereka berhasil “menaklukkan” “kebijakan” Abu Bakar (RA) dan lalu beliau mengikuti “ijtihad” para sahabat nabi yang lain itu, niscaya akan tercatat lah dalam sejarah bahwa “kebijakan” Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pertama kali setelah beliau dibai’at sebagai khalifah, adalah merubah kebijakan pemimpin sebelumnya, yaitu Rasulullah SAW.

Namun apa yang terjadi? Mari kita ikuti ulasan selanjutnya.

Saat para sahabat nabi melihat bahwa “kebijakan” Abu Bakar yang pertama kali hendak dibuat adalah memberangkatkan pasukan Usamah, mereka menghadap Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan membawa banyak “ijtihad” mereka, “ijtihad” yang didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang “matang” dan “mendalam”. Mungkin kalau mempergunakan bahasa sekarang, “ijtihad” para sahabat nabi itu telah memperhitungkan: fiqih waqi’, fiqih tawaqqu’ (prediksi), fiqih maqashid, fiqih aulawiyat, fiqih muwazanah, dan fiqih-fiqih lainnya. Intinya, “ijtihad” yang benar-benar ijtihad, dari hasil kerja para mujtahidin.

Di antara “ijtihad” para sahabat yang dikemukakan, adalah sebagai berikut:

Lokasi Mu’tah itu sangat jauh dari Madinah, dan masuk terlalu ke dalam di daerah kekuasaan Romawi, satu negara adi daya waktu itu.
Untuk sampai ke Mu’tah, mesti melewati banyak sekali suku-suku Arab yang berada di sebelah utara Madinah, padahal mereka murtad, dan tentu, pasukan yang melewati mereka, sangatlah tidak aman.
Jika 3000 tentara Madinah diberangkatkan ke Mu’tah, maka Madinah akan kosong, atau minimal akan sangat lemah, padahal sudah sangat kuat terdengar rencana suku-suku yang murtad untuk menyerang Madinah.
Lalu, Rasulullah SAW baru saja wafat, dan kaum muslimin baru saja memiliki pemimpin baru, lalu, siapa yang akan menjaga dan melindungi pemimpin kaum muslimin yang baru ini. Juga, siapa yang akan menjaga dan melindungi ummahatul mukminin, kaum wanita dan anak-anak?
Juga, Usamah bin Zaid (RA) itu masih mudah, baru 17 atau 18 tahun. Ia memang mempunyai kecakapan untuk memimpin, namun, karena situasinya sangat gawat dan genting, dikhawatirkan hikmah dan pengalaman, atau jam terbangnya masih belum cukup untuk memimpin pasukan di saat yang sangat genting dan gawat ini.
Keadaan yang sangat gawat dan genting itu, menurut satu riwayat, digambarkan seperti: “seekor kambing, di suatu malam yang sangat gelap gulita dan sangat dingin”, yang menggambarkan, apa sih daya dan upaya yang dimiliki oleh seekor kambing? Apa lagi di malam yang sangat gelap gulita, suatu keadaan yang justru sangat menguntungkan para binatang buas calon pemangsanya, sebab, para binatang buas itu mempunyai penginderaan yang jauh lebih lengkap dan sempurna untuk mengetahui titik dan posisi kambing itu. Sudah begitu, sedang musim dingin pula, satu musim yang memerlukan pembakaran besar untuk tubuh para pemangsa itu, pembakaran yang akan mereka dapatkan kalau mereka mendapatkan suatu mangsa!!!
Yang paling menarik adalah fakta bahwa di antara yang “melobi” Abu Bakar dan mengemukakan “ijtihad” para sahabat nabi untuk “mengubah” “kebijakan” Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) adalah Umar, Ustman, Sa’d bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Sa’id bin Zaid. Luar biasa, mereka adalah sahabat-sahabat nabi yang dijamin masuk surga, al-‘asyrah al-mubasy-syaruna bil jannah. Mereka lah yang “melobi” Abu Bakar dengan membawa “aspirasi” para sahabat nabi yang lain. Mereka juga mengatakan bahwa “ijtihad” ini juga merupakan “ijtihad” kaum Anshar . Bahkan, “lobi” mereka ini pun, berdasarkan riwayat Al-Waqidi, kali ini, bukanlah untuk membatalkan rencana pemberangkatan pasukan Usamah, namun, hanya “penundaan” saja. Istilahnya, hanya “aspek aulawiyat” saja, mengingat suasana Madinah. Masya Allah, jadi, lobi nya bukan pembatalan, atau perubahan, namun hanya penundaan, hanya sisi aulawiyat saja. Subhanallah.
Dan perlu diketahui bahwa semua “ijtihad” ini dikemukakan, adalah demi kebaikan Islam dan kaum muslimin, demi menegakkan syi’ar: ad-dinu an-nashihatu (agama itu nasihat), termasuk nasihat untuk pemimpin dan kaum muslimin.

Namun, “ijtihad” para sahabat nabi itu berhadapan dengan sikap keukeuh Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) yang, sekali lagi, tidak mau mengawali kepemimpinannya dengan cara meninggalkan, merubah, atau mengganti kebijakan pemimpin sebelumnya, yaitu Rasulullah SAW.

Dan luar biasa sekali “pembelaan” Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) atas “ijtihad”-nya, yang diantaranya adalah sebagai berikut:

“Demi Dzat yang jiwa Abu Bakar ada di Tangan-Nya, kalau saja engkau menduga, bahwa binatang-binatang buas itu hendak mencomotku dan membawa diriku lari dari luar kota Madinah untuk dimangsa beramai-ramai di tempat yang jauh itu, aku tetap akan memberangkatkan pasukan Usamah sebagaimana telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, dan kalau saja di kampung ini (maksudnya: Madinah) sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang tertinggal atau tersisa selain diriku, aku tetap akan berangkatkan pasukan Usamah”.
“Apakah kalian mempunyai argumentasi lain?” Para sahabat menjawab: “Tidak, kami telah sampaikan semua argumentasi kami”. Maka Abu Bakar menjawab: “Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kalau saja kalian mengira bahwa binatang-binatang buas itu akan memangsaku di dalam kota Madinah ini, maka aku tetap akan memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid”.
“Kalau saja anjing-anjing liar dan serigala-serigala itu mencomotku, aku tidak akan menolak sebuah keputusan yang pernah diputuskan oleh Rasulullah SAW”.
Bahkan, Abu Bakar marah kepada Umar (RA) seraya berkata: “Semoga ibumu kehilangan dirimu wahai Umar, ada seseorang yang telah diangkat dan ditetapkan oleh Rasulullah SAW, dan engkau memerintahkan kepadaku untuk mencabut pengangkatan itu?” Maka Umar pun keluar dari majlis Abu Bakar dan melapor kepada para sahabat yang memberinya tugas untuk melobi. Umar berkata kepada mereka: “Semoga ibu kalian kehilangan kalian, gara-gara kalian, aku dibeginikan oleh khalifah Rasulullah SAW”.

Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid (RA) Tetap Berangkat

Setelah semua upaya “lobi” dari para sahabat nabi (RA), dan setelah semua “ijtihad” mereka dengan seluruh perangkatnya dikemukakan, ternyata semua “ijtihad” ini berhadapan dengan sebuah prinsip penting dalam dunia dakwah, yaitu: “pantangan dalam logika dakwah, bahwa pemimpin yang baru, tugas pertamanya adalah mengganti kebijakan pemimpin sebelumnya”, dan inilah “Sunnah”Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) yang diwariskan kepada kita, maka, berangkatlah pasukan Usamah bin Zaid (RA) ke tempat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

Pasukan ini pun menjalankan dengan detail apa yang pernah disabdakan oleh nabi Muhammad SAW kepada Usamah, dan Usamah pun mengelola pasukannya persis seperti yang dipesankan oleh Rasulullah SAW, maka pasukan ini pun pulang dan kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan gemilang dan juga rampasang perang yang tidak sedikit.

Keempat: Keberkahan

Di sinilah terletak rahasia keberkahan itu, bahwa, saat Abu Bakar (RA) tidak mau, dan benar-benar tidak mau merubah apa yang pernah diputuskan oleh Rasulullah SAW, di situlah keberkahan itu muncul.

Semua yang dikhawatirkan oleh para sahabat nabi (RA) sama sekali tidak terbukti. Sama sekali tidak terjadi serangan, atau comotan apa pun ke dalam kota Madinah saat ditinggal oleh pasukannya.
Bahkan, yang terjadi sebaliknya. Saat suku-suku yang bermaksud menyerang Madinah mendengar, bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq memberangkatkan 3000 pasukan ke Syam, suku-suku itu menjadi berhitung ulang. Mereka berkata kepada sesama mereka: “Kalau Madinah tidak dalam keadaan yang sangat kuat, tidak hendaklah Abu Bakar mengeluarkan pasukan sejumlah 3000 personil menuju Syam”.
Dan tentunya, kemenangan di Syam (Mu’tah, atau Ubna), dan ghanimah besar yang mereka dapatkan, merupakan penambahan ma’nawiyah (spiritualitas) dan maddiyah (materi) bagi kaum muslimin yang tidak terkira.

Jadi, di antara sumber keberkahan dalam berdakwah itu, janganlah suka merubah-rubah atau mengganti-ganti kebijakan, dengan alasan “ijtihad” dari “kibar sahabat” sekalipun. Berpegang pada prinsip itulah sumber keberkahan, berpegang pada Sunnah itu lah keberkahan, sunnah melanjutkan kebijakan pemimpin sebelumnya.

Kelima: Aaah… Itu Kan Karena Sunnah Nabi…

Bisa saja orang dengan mudah berdalih, lalu berkata: Abu Bakar keukeuh kan karena pemimpin sebelumnya adalah Rasulullah SAW??!!

Dalih ini, kalau ada, telah melupakan banyak hal, di antaranya:

Bukankah keukeuh nya Abu Bakar (RA) adalah keukeuh nya seorang sahabat nabi dan keukeuh ini berhadapan dengan “ijtihad” “kibar sahabat”?

Bila jawaban kita adalah ya, apakah kita akan mengatakan bahwa Abu Bakar (RA) otoriter? Hasya lillah, nggak mungkin lah kita akan mengatakan begitu. Beliau (RA) keukeuh, karena hal ini adalah prinsip. Karena, hal ini adalah Sunnah. Tidak boleh ada sunnah dalam arti preseden bagi para pemimpin Islam setelahnya, bahwa, “ada contohnya” tugas pemimpin baru itu adalah mengganti kebijakan pemimpin sebelumnya.

 

Fakta-fakta para khalifah dan amirul mukminin berikutnya, mulai dari Umar bin al-Khaththab (RA), selalu saja para khalifah atau amirul mukminin yang baru, selalu mendapatkan pesan, agar mengikuti dan melanjutkan sunnah khalifah atau amirul mukminin sebelumnya. Inilah pesan yang diterima oleh Umar saat dibai’at sebagai pengganti Abu Bakar, hendaklah ia berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah SAW dan sunnah Abu Bakar. Begitu juga saat kaum muslimin membaiat Utsman bin Affan (RA) dan juga Ali bin Abi Thalib (RA).
Seadainya, hanya seandainya, seandainya Abu Bakar Ash-Shiddiq (RA) pernah membuat sunnah mengganti kebijakan pemimpin sebelumnya, kira-kira apa yang akan terjadi dengan janji Rasulullah SAW yang akan memberikan mahkota Kisra Persia kepada Suroqoh bin Malik? Di mana mahkota Kisra itu baru dipegang oleh kaum muslimin di zaman Umar bin al-Khaththab (RA). Menariknya, semua pasukan Islam ingat janji Rasulullah SAW itu, karenanya, mereka, dari Persia, mengirimkan mahkota itu ke Madinah, kepada Umar bin al-Khaththab (RA), yang lalu Umar bin al-Khaththab (RA) menyerahkannya kepada Suroqoh bin Malik (RA)!!

Penutup

Begitulah info sejarah dakwah Islam yang dapat kita baca dan pelajari, yang memberikan nilai-nilai pengajaran kepemimpinan yang sangat luhur. Begitulah para pendahulu kita mewariskan suatu sunnah, sunnah yang sangat agung, sunnah yang sangat mulia, sunnah yang perlu kita implementasikan dalam kehidupan kita, di mana kita mengklaim sebagai bagian dari ahli waris mereka, semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan, taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, amin.

Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA (dakwatuna/baiti/i-dream)