Kisah Abdullah Bin Rawahah & Khalid bin Walid di Perang Mu’tah

Kajian Hadits bersama Ustadz Agung Waspodo

Kisah Abdullah Bin Rawahah & Khalid bin Walid di Perang Mu’tah

Kisah Abdullah Bin Rawahah & Khalid bin Walid di Perang Mu’tah

Bersama Ustadz Agung Waspodo

Untuk menonton Versi Video bisa mengunjungi Youtube Channel iDream TV

Follow sosial media kami:

Youtube Channel
iDream TV / http://youtube.com/idreamtvID
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio


Anda Bisa Menjamin Masih Tetap Hidup Bulan Ini?

I-Dream RadioSiroh — Amirul Mu’minin Umar bin Abdul Aziz memiliki seorang pelayan yang beetuga untuk menjaga Baitul Maal. Katika datang hari raya, anak-anak perempuan Amirul Mu’minin datang mengadu sambil menangis kepada ayahnya. Mereka mengadu bahwa teman-temannya ketika hari raya mengenakan pakaian baru. Sedangkan mereka mengenakan pakaian yang sangat buruk.

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah yang terkenal memiliki sifat zuhud dan wara’ dan sangat sederhana. Ia merasa kasihan kepada anak-anaknya, maka Amirul Mu’minin pun memutuskan untuk mengambil gajinya, dan berkata kepada pelayan Baitul Maal, “Berikanlah sekarang gajiku untuk bulan depan.”

Akan tetapi si pelayan tersebut merasa enggan untuk memberikan gaji bulan depan Amirul Mu’mini sekarang. Akhirnya ia berkata kepada Amirul Mu’minin dengan nada tidak setuju, “Anda ingin mengambil terlebih dahulu gaji Anda untuk bulan depan dari Baitu Maal orang Islam? Wahai Amirul Mu’minin, apakah Anda dapat menjamin bahwa Anda masih tetap hidup bulan ini?”

Mendengar perkataan pelayan tersebut, Umar tersentak dan mengangkat kepalanya seraya berkata, “Terimakasih atas nasihatmu kepadaku, wahai orang jujur.”

Kemudian ia memalingkan pandangannya ke arah anak-anak perempuannya dan berkata, “Pendamlah rasa sedih kalian. Apaakah kalian mau mengenakan pakaian yang baru, sedangkan bapak kalian masuk neraka?” adminrki (rki/baiti/i-dream)

Abu Bakar dan Ibu Tua

I-Dream RadioSiroh — Alangkah terkejutnya Abu Bakar, Sejenak ia hentikan dahulu perjalanannya. Nyaris setiap hari ia berkeliling Madinah, namun baru kali itulah ia mendapati sebuah gubuk. Ia meminta izin untuk masuk, namun yang didengarnya adalah sebuah jawaban yang lemah.

Abu Bakar pun masuk perlahan. Hatinya tergetar. Ia tercekat. Dilihatnya seorang wanita tua terbaring tak berdaya. Pandangan Abu Bakar menyapu gubuk yang ditempati wanita tua itu, dan tampaklah kosong belaka. Tak ada makanan. Tak ada minuman. Abu Bakar makin tercekat. Abu Bakar sudah mau menangis. Sekuat hati, ia berusaha menahannya. Namun akhirnya pecah jualah tangisnya.

“Siapa yang mengurusmu, wahai Ibu?” tanya Abu Bakar kemudian di antara tangisnya.

Ibu tua itu melirik pada orang yang menyapanya. Ia menarik nafas kemudian menjawab, “Setelah anakku mati syahid karena berjihad di jalan Allah, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, selain Allah yang mahahidup.

“Sejak anakku meninggal, tak pernah ada orang yang menengokku, kecuali engkau saja sekarang hari ini.”

Abu Bakar terdiam, namun kemudian berucap, “Apa yang kaumakan selama ini, wahai Ibu?”

“Sebelum meninggal, anakku pernah meninggalkan beberapa kurma dan sekendi air untukku. Aku setiap hari makan dua atau tiga buah kurma dan aku minum dua tetes air, sampai habis simpanan kurma dan air tersebut.”

Mendengar itu Abu Bakar menangis semakin keras. Ketika itu juga, ia langsung berdiri untuk melakukan shalat dan meminta ampun kepada Allah SWT.

Sejak itu, ia selalu datang menjenguk wanita tua itu, bahkan lebih dari satu kali setiap harinya, untuk memberikan makan dan minum kepadanya.

Dan Abu Bakar terus melayani, seakan-akan a adalah pelayan wanita tua itu. adminrki (rki/baiti/i-dream)

Sumber: 40 Kisah Pengantar Anak Tidur/Najwa Husein Abdul Aziz/Penerbit: Gema Insani Press

Mengapa Engkau Menangis, Umar?

I-Dream RadioSiroh — Siapa yang tidak mengenal Umar Bin Khathab radhiallahu’anhu. Sosok yang memiliki tubuh kekar,  watak yang keras dan disiplin, yang tinggi serta tidak kenal gentar. Namun di balik sifat tegasnya tersebut beliau memiliki hati yang lembut.

Suatu hari beliau masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam rumahnya, sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil disisi masjid Nabawi. Di dalam bilik sederhana itu, beliau mendapati Rasulullahshallallahu alaihi wasallam sedang tidur di atas tikar kasar hingga gurat-gurat tikar itu membekas di badan beliau.

Spontan keadaan ini membuat Umar menitikkan air mata karena merasa iba dengan kondisi Rasulullah.

“Mengapa engkau menangis, ya Umar?” tanya Rasulullah.

“Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas, sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, ya Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,” jawab Umar.

Rasulullah kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga, dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…? “.

Beliau shallallahu alaihi wasallam melanjutkan lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya“.

Begitulah tangisan Umar adalah tangisan yang lahir dari keimanan yang dilandasi tulusnya cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Apa yang dilihatnya membuat sisi kemanusiaannya terhentak dan mengalirkan perasaan gundah yang manusiawi. Reaksi yang seolah memberi arti bahwa semestinya orang-orang kafir yang dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi kebenaran, memadamkam cahaya iman, dan menyebarkan keculasan dan keburukan, mereka itulah yang semestinya tak menikmati karunia Allah.

Sebaliknya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islamlah semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak, begitu fikir Umar.

Tangisan Umar juga memberi arti lain, bahwa betapa tidak mudah bagi sisi-sisi manusiawi setiap orang bahkan bagi Umar sekalipun, untuk menerima ganjilnya “pemihakan” dunia kepada orang-orang bejat. Namun sekejap gundah dan tangisnya berubah menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sesudahnya. Yaitu apabila kita mengukur hidup ini dengan timbangan duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang dapat menyesakkan dada kita.

Lihatlah bagaimana orang-orang yang benar justru diinjak dan dihinakan. Sebaliknya, para penjahat dan manusia-manusia bejat dipuja dengan segala simbol penghargaan. Tak perlu heran, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan akan masa-masa sulit itu. Masa dimana orang-orang benar didustakan dan orang-orang dusta dibenarkan.

Tangisan Umar juga mengajari kita bahwa dalam menyikapi gemerlapnya dunia, kita tidak boleh hanya menggunakan sisi-sisi manusiawi semata, dibutuhkan mata hati bukan sekedar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman, dan bukan semata kalkulasi

duniawi.

Dan semua itu tercermin dalam jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Umar. Beliau memberi gambaran yang membuat sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil bisa jadi secara substansial benar-benar adil. Bagaimana sesuatu yang yang secara kasat mata terlihat pahit, menjadi benih-benih bagi akhir yang manis dan membahagiakan.

Jawaban Rasulullah juga memberi pesan agar orang beriman jangan sampai mudah silau dan terpukau dengan gemerlapnya dunia yang dimiliki oleh orang kafir. Karena setiap mukmin punya pengharapan lain yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan abadi di akhirat, pada keaslian kampung halaman yang sedang dituju. [muslim]  adminrki (rki/baiti/i-dream)

 

Rembulan Dalam Pangkuan

I-Dream RadioSiroh — Seorang Yahudi yang nasabnya masih berasal dari keturunan Nabi Yaqub as dan masih merupakan keturunan dari Nabi Harun as. Wanita yang terpandang, cerdas, cantik dan rupawan, dan berasal dari keluarga terhormat, Shafiyyah. Shafiyyah berasal dari keturunan Yahudi Khaibar, Ayahnya Huyay bin Akhtab adalah tokoh terkemuka di sana.

Salah satu alasan kaum Yahudi membenci Rasulullah adalah karena rasa iri dan cemburu mereka, bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW bukan berasal dari kaum mereka, namun dari bangsa Arab, sedangkan mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah anak anak dan kesayangan Allah, serta bangsa pilihan Allah di muka bumi. Oleh karena itulah bangsa Yahudi sangat membenci Rasulullah, dan memusuhinya. Shafiyyah, menyaksikan sendiri betapa besar kebencian ayahnya terhadap Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, Huyay bin Akhtab adalah orang yang menjadi provokator dan merancang konspirasi keji bersama kaum Quraisy yang memusuhi Rasulullah, dan bani Quraizhah untuk bekerjasama membunuh Rasululah, namun usaha itu gagal.

Shafiyyah juga menyaksikan betapa suaminya Khinanah dan kaum Yahudi Khaibar melakukan berbagai cara untuk memusuhi Rasulullah dan berusaha membunuh beliau, hingga akhirnya dalam Perang Khaibar Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin, kaum Muslimin berhasil menggempur benteng benteng Khaibar yang terkenal kokoh. Shafiyyah adalah termasuk barisan wanita yahudi yang berada dalam tawan seorang sahabat seusai perang tersebut, Dihyah Al Kalbi.

Rasulullah akhirnya menikahi Shafiyyah dengan memerdekakan Shafiyah sebagai maharnya, Shafiyyahpun menjadi Istri Rasulullah SAW. Shafiyyah begitu bahagia, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang Mukmin, apalagi Ummul Mukminin, kebahagiaan yang tidak dapat ia lukiskan dengan kata kata. Shafiyyah dikenal sebagai wanita yang berhati mulia, dan berhati lembut, berusaha dengan giat mengejar ketertinggalannya untuk mempelajari Islam, dan memiliki kedudukan yang tinggi di hati Rasulullah SAW. Shafiyyah menghabiskan hidupnya dengan berdakwah dan berbuat baik, hasrat hatinya adalah selalu ingin membuat orang lain bahagia.

Shafiyyah adalah bukti Kebesaran dan Kasih sayang Allah terhadap semua makhluknya. Shafiyyah bukanlah orang yang pertama kali masuk ke dalam barisan Agama yang diridhai Allah ini, ia adalah keturunan bangsa Yahudi yang sangat membenci dakwah Rasulullah. Meskipun Ayahnya dan Suaminya adalah orang yang sangat terkenal dengan kebencian terhadap Rasulullah, tidak ada sirah yang menceritakan kebencian yang timbul di hati Shafiyyah terhadap Rasulullah dan Agama ini. Sungguh ini adalah bukti kekuasaan Allah untuk memberikan Petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki.

Keistimewaan lain dari Shafiyyah adalah pertanda yang diberikan Allah bahwa ia akan menjadi Istri Rasulullah. Ibnu Umar ra. Menuturkan, “saat itu, disekitar mata Shafiyyah tampak lembam, sehingga Rasululah menanyakannya, ‘kenapa di sekitar matamu ada lebam seperti ini?’, Shafiyyah menjawab, ‘waktu itu aku berkata pada suamiku dulu, Sesungguhnya aku bermimpi melihat bulan turun ke pangkuanku. Tiba tiba dia menamparku seraya berkata, ‘apakah engkau menginginkan Raja Yastrib itu?’, Shafiyyah berkata kepadaku (Ibnu Umar), ‘hingga saat itu tidak ada orang yang lebih aku benci dari pada Rasulullah, bagaimana tidak, beliau telah membunuh ayahku dan suamiku. Akan tetapi Rasulullah tidak berhenti untuk meminta maaf kepadaku dan mengutarakan alasannya, “wahai Shafiyyah, masalahnya, Ayahmu memprovokasi seluruh kekuatan Arab untuk membunuhku, lalu begini, begini…., beliau terus memahamkanku sehingga rasa benciku kepada beliau benar benar hilang’”.

Banyak hikmah yang dapat kita gali dari kisah Ummul Mukminin yang satu ini, di antaranya kesucian dan keluruhan hatinya memandang Islam, meskipun ia dikelilingi oleh orang orang yang membenci Agama Allah ini, dan hikmah-hikmah lainnya yang dapat kita petik dengan mengkontekskannya dalam kehidupan kita sehari hari.

Semoga kita termasuk orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah, karena sesungguhnya “… barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk padanya..” (QS. Al Kahfi : 17)” Lusi Yolanda (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Kerinduan dari Persia

I-Dream Radio Siroh — Aku berasal dari Persia, tepatnya Ashfahan. Ayahku adalah seorang yang kaya-raya dan ternama. Aku orang yang paling dicintainya di dunia ini. Bahkan saking cintanya, aku tidak pernah diperbolehkan keluar dari rumah. Aku penganut agama Majusi yang sangat taat. Aku mengabdi kepada api, tidak pernah aku membiarkannya redup barang sebentar.

Perjalanan hidupku sangat panjang dan berliku hingga aku bisa seperti ini sekarang. Perjalanan itu bermula pada suatu pagi. Pagi itu ayahku sibuk hingga tidak bisa menengok kebunnya yang luas. Aku diminta untuk menengoknya. Kebun itu berada cukup jauh dari rumah.

Di tengah perjalanan, aku melewati sebuah gereja. Kudengar sayup-sayup suara jamaah gereja yang sedang khusyuk berdoa dan memuji tuhan mereka. Suara pujian dan doa mereka demikian indah. Dalam hati aku berpikir, agama ini jauh lebih baik daripada agama yang kuanut. Aku pun segera mampir ke sumber suara itu. Aku masuk untuk melihat barang sejenak apa yang mereka lakukan. Kekagumanku semakin bertambah ketika kulihat mereka berdoa. Aku sempat bertanya pada seseorang di sana, “Dari mana asal agama ini?” Dia menjawab, “Dari negeri Syam.”

Setelah beberapa saat berada di dalamnya, berat rasanya beranjak dari tempat itu. Kuhabiskan pagi, siang, hingga sore hari itu di dalam gereja. Aku pulang tanpa sempat lagi menengok kebun.

Sesampainya di rumah, aku baru mengetahui bahwa ayahku sepanjang hari berkeliling-keliling mencariku. Dia bertanya, “Kemana saja engkau, sesore ini baru pulang?” Aku menjawab, “Aku tadi melewati sebuah gereja. Di dalamnya banyak orang yang sedang berdoa. Aku pergi melihat mereka, dan aku sangat tertarik dengan agama mereka. Agama itu lebih baik dari agama kita. Karena senang, aku baru pulang ketika hari sudah sore.”

Ayahku berkata, “Anakku, agama yang baru kau lihat tidak sebaik yang kau kira. Agamamu dan nenek moyangmu jauh lebih baik.” Aku pun bersikeras bahwa agama mereka lebih baik. Akhirnya ayahku marah. Aku kembali dikurungnya di rumah.

Selama dikurung, aku selalu merenung tentang agama itu. Aku sempatkan mengirim pesan kepada orang yang kutemui di gereja itu. Kukatakan, “Kalau ada rombongan yang datang dari negeri Syam, tolong beritahu aku.”

Selang beberapa waktu datang, serombongan orang Syam. Lalu beberapa orang gereja pun datang ke rumahku untuk memberitahukan hal tersebut. Kukatakan kepada mereka, “Nanti kalau mereka akan kembali ke negeri mereka, tolong beritahu aku.”

Singkat cerita, datanglah orang memberitahukan bahwa orang-orang Syam itu akan segera kembali ke negeri mereka. Aku segera mencari cara agar bisa keluar dari rumah. Setelah berhasil keluar, aku segera bergabung dengan rombongan yang akan pergi ke Syam tersebut. Berhari-hari kulalui perjalanan ke Syam. Sesampainya di sana, kutanyakan kepada mereka, “Siapakah orang yang paling luas pengetahuannya tentang agama ini?” Mereka menjawab, “Uskup.”

Segera aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Aku ingin masuk agama ini. Oleh karena itu, aku akan selalu bersamamu dan mengabdi di gereja, sehingga aku bisa belajar agama ini.” Dia menjawab, “Masuklah.” Hanya beberapa waktu bersamanya, aku sudah mengetahui bahwa dia adalah orang yang jahat. Dia memerintahkan orang lain untuk membayar sedekah. Sedangkan sedekah-sedekah itu diambil dan disimpannya untuk diri sendiri. Dia tidak memberikannya kepada orang-orang miskin. Hingga harta yang terkumpul mencapai tujuh buah kotak berisi emas dan perak. Aku sangat membencinya karena kejahatan itu.

Setelah beberapa tahun bersamanya, Uskup itu meninggal dunia. Orang-orang Nasrani berkumpul untuk menguburkannya. Kukatakan kepada mereka, “Sebenarnya Uskup ini adalah orang yang jahat. Dia menyuruh kalian membayar sedekah, sedang sedekah itu dikumpulkannya untuk diri sendiri.” Mereka tidak percaya dengan perkataanku, “Mana buktinya?” Maka aku segera tunjukkan tempat disimpannya emas dan perak itu. Mereka sangat terkejut dan langsung berkata, “Selamanya kami tidak akan menguburkannya.” Mereka kemudian menyalib jenazah Uskup itu, lalu melemparinya dengan batu.

Orang-orang Nasrani kemudian memilih Uskup yang baru. Kulihat Uskup pengganti itu adalah orang yang baik. Dia orang yang rajin beribadah dan sangat zuhud kepada harta dunia. Aku sangat menghormati dan mencintainya. Aku hidup bersamanya beberapa waktu, sampai saat datang ajal kepadanya. Saat itu kukatakan, “Selama ini aku hidup bersamamu, mencintaimu lebih dari cintaku kepada yang lain. Sekarang aku lihat ajalmu sudah dekat. Katakanlah kepada siapa lagi aku berguru sepeninggalmu?”  Beliau menjawab, “Anakku, demi Allah saat ini sudah sangat jarang orang yang mengamalkan agama seperti kita. Orang-orang yang benar sudah meninggal; yang tersisa adalah orang-orang yang sudah rusak dan mengubah agama mereka. Hanya ada satu orang yang mengamalkan agama seperti kita, yaitu seorang Nasrani di kota Al-Maushil. Namanya Fulan bin Fulan. Pergilah ke sana.”

Aku pun segera pergi ke kota Al-Maushil. Aku menemui orang yang dimaksud guruku itu. Kukatakan kepadanya, “Saat meninggal, guruku berwasiat agar aku menemui dan berguru kepadamu.” Dia menjawab, “Baiklah. Tinggallah bersamaku.” Aku lihat dia seorang yang baik. Persis dengan guru keduaku. Namun tak lama aku tinggal bersamanya, dia pun sakit dan meninggal dunia. Sesaat sebelum meninggal dunia, aku bertanya kepadanya, “Wahai guruku, dulu guruku yang kedua berwasiat kepadaku untuk belajar kepadamu. Sekarang engkau sudah sakit parah. Kalau engkau meninggal, ke manakah hendaknya aku berguru lagi?” Dia menjawab, “Aku hanya mengetahui satu orang yang mengamalkan agama seperti kita. Dia tinggal di kota Nashibin. Namanya Fulan bin Fulan. Pergilah ke sana, dan tinggallah bersamanya.”

Setelah guruku meninggal dunia dan dikuburkan, aku segera pergi ke Nashibin untuk menemui orang yang ditunjuk tersebut. Setelah kKukatakan maksud kedatanganku, dia pun mempersilahkaku tinggal bersamanya. Aku hidup bersamanya beberapa waktu, karena dia pun kemudian meninggal dunia. Sesaat sebelum meninggal dunia, kembali kutanyakan tentang guru berikutnya. Dia menunjuk seorang Nasrani di kota Amuriah, sebuah propinsi Romawi.

Aku belajar di Amuriah beberapa saat, karena guru baruku pun meninggal dunia. Di akhir kehidupannya, dia berpesan, “Sekarang memang sudah sangat sedikit orang yang baik dalam mengamalkan agamanya. Tapi jangan khawatir, sudah hampir tiba masa diutusnya seorang nabi baru. Dia akan diutus di negeri Arab. Karena mendapatkan pertentangan dari kaumnya, dia akan hijrah ke sebuah negeri yang diapit dua gunung berbatu hitam. Di tengah dua gunung tersebut adalah lahan perkebunan kurma yang sangat subur. Nabi itu mempunyai tanda-tanda yang bisa kau gunakan untuk mengenalinya; dia tidak mau makan harta sedakah, tapi mau makan harta hadiah, dan di punggungnya ada sebuah tanda kenabian.”

Begitu mendengar kisah itu, aku merasa sangat rindu bertemu dengan nabi itu. Aku berharap bisa segera pergi ke negeri Arab. Maka ketika datang rombongan pedagang dari negeri Arab, aku langsung menemui mereka. Kukatakan kepada mereka, “Bolehkah aku ikut ke negeri kalian? Imbalannya, aku akan memberi kalian hewan-hewan ternakku.” Mereka pun menerima. Namun di tengah perjalanan, mereka berkhianat. Mereka menjualku kepada seorang Yahudi. Mulai saat itu aku menjadi seorang budak. Dia membawaku ke tempat tinggalnya untuk hidup dan mengabdi kepadanya. Dia tinggal di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Dalam hati, aku berharap bahwa tempat itu adalah tempat yang dimaksud oleh guruku. Bahwa nabi baru itu akan berhijrah ke sana.

Sehari-hari aku sibuk dengan banyak pekerjaan seorang budak. Aku tidak banyak mendengar kabar dunia luar. Termasuk kabar yang tersiar di Mekah tentang seseorang yang mengaku sebagai nabi. Saat yang kutunggu-tunggu itu rupanya sudah tiba. Saat itu aku sedang bekerja di atas pohon kurma, sedangkan tuanku berada di bawah. Ketika datang seseorang mengabarkan bahwa nabi itu telah tiba, aku hampir terjatuh saking kaget dan bahagianya. Kutanyakan kepada tuanku, “Benarkah nabi itu telah tiba?” Tuanku marah dan menamparku, “Apa urusanmu dengan datangnya nabi itu? Ayo, lanjutkan kerjamu.”  Aku menjawab, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja.”

Baru sebentar nabi itu datang, aku sudah ingin segera menemuinya. Saat itu aku sudah memiliki  kurma. Aku ingin memberikan kurma itu kepada nabi baru itu. Aku menemuinya yang saat itu masih berada di Quba’, belum sampai ke Madinah. Kukatakan kepadanya, “Aku mendengar bahwa engkau adalah orang yang baik. Engkau juga mempunyai banyak teman yang sangat membutuhkan bantuan. Aku ingin mensedekahkan kurma-kurma ini.” Aku meletakkan kurma-kurma itu di hadapannya, tapi beliau malah berkata kepada para sahabatnya, “Makanlah kurma-kurma ini.” Sedangkan beliau sendiri tidak makan sedikitpun. Dalam hati aku berkata, “Salah satu tanda kenabiannya sudah kubuktikan.”

Selang beberapa hari, nabi itu melanjutkan perjalanan ke Madinah. Aku mengumpulkan kurma lagi untuk diberikan kepadanya, “Kemarin aku melihat engkau tidak berkenan memakan sedekah. Sekarang aku ingin memberimu kurma-kurma ini sebagai hadiah.” Mendengar hal itu, beliau pun memakannya. Dalam hati aku berkata, “Sudah dua tanda kenabiannya yang kulihat.”

Suatu hari, ada seorang penduduk Madinah yang meninggal dunia. Kulihat nabi itu ikut mengantarnya ke kuburan Baqi’ul Gharqad. Beliau menutupi tubuhnya dengan dua selendang dari kain yang sangat kasar. Aku menemui dan mengucapkan salam kepadanya. Setelah itu aku mundur ke arah belakang beliau. Aku bermaksud menunggu kainnya tersingkap hingga bisa kulihat tanda kenabian yang tertulis di punggung beliau. Seakan merasakan hal tersebut, beliau langsung menyingkap kainnya sehingga dengan sangat jelas kulihat tanda kenabian itu di punggungnya. Aku menangis sejadi-jadinya, dan langsung memeluk dan mencium beliau. Akhirnya kutemui juga nabi yang selama ini kutunggu-tunggu dan kucari-cari.

Langsung terbayang dalam benakku saat aku meninggalkan ayah yang sangat mencintaiku. Saat aku hidup berpindah-pindah dari satu guru ke guru yang lain di negeri-negeri yang berjauhan. Saat kehilangan harta-hartaku. Saat aku dihinakan menjadi seorang budak yang diperjual-belikan, yang dipaksa bekerja bagaikan hewan ternak. Namun rasanya, semua itu hilang begitu saja ketika kubuktikan bahwa orang yang ada di depanku adalah nabi yang selama ini aku cari dan tunggu.

Sekarang aku menjadi salah seorang sahabatnya. Aku sangat mencintainya, seperti perasaan seluruh pengikutnya. Beliau adalah pemimpin agung yang sangat menyayangi kami. Karena sayangnya, beliau meminta untuk segera menebus diri agar tidak lagi menjadi seorang budak. Beliau membantuku mengumpulkan harta untuk tebusan. Sekarang aku seorang Muslim yang Merdeka. Seorang sahabat Rasulullah saw. Aku kini dikenal dengan nama Salman Al-Farisi. Di atas adalah foto kuburan beliau di Irak.

M Sofwan (dakwatuna/baiti/i-dream)

Ibunda Zainab Binti Khuzaimah Ra. (Ibundanya Orang-orang Miskin)

I-Dream RadioSiroh — Generasi sahabat adalah generasi terbaik, tidak bisa dibandingi apalagi dikalahkan. Generasi sekarang tidak akan mungkin bisa menyamai mereka. Namun pribadi-pribadi umat Islam masih memiliki kesempatan untuk meneladani dan menyamai kemuliaan pribadi-pribadi para sahabat. Pribadi, bukan generasi.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas pribadi salah seorang istri Rasulullah saw., yaitu Zainab binti Khuzaimah ra. yang dikenal sebagai Ibundanya Orang-orang Miskin.

Nasab

Nama lengkap beliau adalah Zainab binti Khuzaimah ra. bin Al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah Al-Hilaliyah.

Ibu beliau bernama Hindun binti ‘Auf bin Al-Harits bin Hamathah. Di zaman jahiliyah, beliau dikenal dengan nama Ummul Masakin (ibunda orang-orang miskin).

Ibnu Sa’ad berkata, “Zainab binti Khuzaimah ra. bin Al-Harits bin Abdullah bin ‘Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin ‘Amir bin Sha’sha’ah, beliau dikenal dengan gelar Ummul Masakin di zaman jahiliyah.

Kenapa Dikenal dengan Ummul Masakin?

Al-Balazary berkata, “Ummul Masakin adalah kun-yah bagi Zainab ra. di masa jahiliyah.” Al-Asqalany berkata, “Zainab memang dipanggil dengan sebutan Ummul Masakin di masa jahiliyah.”

Dalam sebuah riwayat Ath-Thabrany, beliau mengatakan, “Rasulullah saw. menikahi Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyah ra., atau sering disebut dengan sebutan Ummul Masakin. Dikenal dengan sebutan itu, karena beliau banyak memberi makan orang-orang miskin.

Ibnu Katsir juga berkata, “Zainablah yang sering dikenal dengan sebutan Ummul Masakin. Itu karena beliau banyak bersedekah, dan berbuat baik kepada orang-orang miskin.”

Pernikahan Pertama

Zainab binti Khuzaimah ra. awalnya adalah isteri Ath-Thufail bin Al-Harits. Namun beliau menceraikannya. Kemudian beliau dinikahi saudara Ath-Thufail yang bernama Ubaidah bin Al-Harits ra., yang mati syahid di perang Badar.

Ubaidah bin Al-Harits ra. termasuk sahabat yang sangat pemberani. Beliau adalah salah satu dari tiga orang yang menantang pasukan Quraisy untuk adu satu lawan satu. Mereka bertiga adalah Hamzah bin Abdul Muthalib ra., Ali bin Abi Thalib ra., dan Ubaidah bin Al-Harits ra.

Dalam perang Badar, beliau terluka parah, hingga akhirnya mendapatkan kesyahidannya. Sepeninggal suaminya, Zainab ra. hidup sendiri di Madinah Al-Munawwarah. Tidak ada keluarga yang menafkahi beliau, atau saudara yang menanggung kebutuhan beliau. Hanya Allah swt yang menolongnya.

Kebahagiaan Saat Rasulullah saw. Menikahinya

Pada saat itu, memang terbukti bahwa Zainab ra. adalah orang yang sangat penyabar. Beliau tidak pernah mengeluh, padahal kesedihan bertubi-tubi menimpanya. Pertama, beliau diceraikan oleh suami pertamanya. Kedua, beliau ditinggalkan oleh suami keduanya, karena gugur sebagai syahid dalam perang Badar.

Sejak itulah beliau hidup dengan penuh kesabaran, sembari mengharap imbalannya di sisi Allah swt. Karena itulah Allah swt. membalas kesabarannya dengan kebaikan yang sangat besar. Hati Rasulullah saw. tersentuh dengan kondisi Zainab ra. yang selalu dirundung musibah dan kesedihan.

– Diceraikan suami pertamanya

– Suami keduanya pun meninggal dunia dengan syahid

– Beliau mandul, tidak mempunyai anak

– Tidak termasuk wanita cantik

– Tidak ada seorang sahabat pun yang melamar beliau, atau berusaha menghiburnya.

Sungguh banyak kesedihan yang menumpuk di hatinya. Tapi ternyata beliau tetap sabar, dan hanya mengharap balasan yang baik di sisi Allah swt. Beliau sama sekali tidak terpikir bahwa Rasulullah saw. akan mempersuntingnya.

Demikianlah, ternyata Rasulullah saw. menikahi beliau, bahkan mahar yang dibayar sebanyak 400 Dirham. Beliau juga dibangunkan rumah/kamar di sisi kamar Aisyah binti Abi Bakar Ash-Shidiq ra. dan Hafshah binti Umar bin Khattab ra. Hal itu Rasulullah saw. adalah seorang suami yang sangat penyayang. Beliau memberikan segenap kasih sayangnya kepada wanita yang selalu hidup menderita ini.

Para ulama berselisih pendapat tentang lama waktu kebersamaan Zainab ra. dan Rasulullah saw. Sebagian ulama mengatakan bahwa beliau hidup bersama Rasulullah saw. hanya dua atau tiga bulan, karena tak lama kemudian beliau meninggal dunia.

Beliau adalah satu-satunya isteri Rasulullah saw. yang meninggal di masa hidup Rasulullah saw. selain Ibunda Khadijah ra. Tak lama beliau hidup bersama Rasulullah saw. Dan karena pendeknya waktu itu, beliau tidak meriwayatkan sebuah hadits pun dari Rasulullah saw.

Imam Adz-Dzahaby mengatakan, “Tidak ada hadits yang beliau riwayatkan.”

Sedangkan Ath-Thabrany mengatakan, “Ummul Masakin meninggal dunia saat Rasulullah saw. masih hidup. Beliau hanya sebentar hidup bersama Rasulullah saw. Beliau meninggal dunia pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 4 Hijriah, di Madinah.

Beliau meninggal dunia di usia yang masih sangat muda. Sebagian referensi mengatakan bahwa umur beliau saat itu sekitar 30 tahun.

Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa beliau adalah isteri Rasulullah saw. yang pertama kali meninggal dunia di Madinah. Sebelumnya, lebih dahulu meninggal Khadijah ra. di Mekah.

Al-Baladzary mengatakan, “Rasulullah saw. menguburkannya di Baqi’, beliau jugalah yang mengimami shalat jenazahnya.” Semoga Allah swt. melimpahkan keridhaan-Nya dan menempatkannya di surga yang sangat lapang.

Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh musuh-musuh Islam ketika mengetahui perihal pernikahan Rasulullah saw. kali ini? Rasulullah saw. menikahi wanita ini dengan sebuah tujuan yang sangat mulia. Kalau bukan karena itu, mengapa beliau menikahi seorang wanita yang sebelumnya sudah dua kali menikah, dan beliau menjadi orang yang ketiga? Apalagi beliau bukanlah termasuk wanita yang cantik.

Apa kira-kira yang akan dikatakan oleh kaum orientalis dan orang-orang yang sepaham dengan mereka? Apakah pada pernikahan beliau ini mereka mendapatkan celah untuk menjelek-jelek Rasulullah saw.? Apakah kali ini mereka bisa mengatakan bahwa sebab Rasulullah saw. banyak menikah karena syahwat beliau?

Yang terbukti adalah sebaliknya. Rasulullah saw. menikah karena beliau memiliki sikap mulia, kebersihan hati, kasih sayang, kebaikan, dan keutamaan. Beliau adalah utusan Allah swt. yang didatangkan untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Beliau adalah cahaya bagi seluruh manusia.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya: 107)

Namun seringkali kaum orientalis tidak bersikap obyektif. Kebanyakan mereka tidak menghormati integritas keilmuan. Demi agenda-agenda terselubung, mereka dengan mudah mengkhianati keilmuan mereka. Tujuan mereka datang ke dunia timur, dan mempelajari ilmu-ilmu ketimuran, benar-benar untuk merusak dan mencitrakan Islam dengan buruk. Termasuk di dalamnya, membuat buruk nama dan citra kepribadian Rasulullah saw.

Syukurlah, karena ternyata apa yang mereka kehendaki tidak terjadi, dan keinginan mereka tidak tercapai. Karena Rasulullah saw. demikan agung untuk mereka jelek-jelekkan. Orang yang yakin dengan keagungan beliau tidak akan percaya dengan apa yang mereka katakan. Mereka yakin bahwa semua itu hanyalah bohong dan sangkaan buruk yang tidak memberi keyakinan sama sekali. M Sofwan (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Hubungan Antara Aisyah RA dengan Ali Bin Abi Thalib RA

I-Dream RadioSiroh — Banyak orang menyangka, bahkan ada yang meyakini bahwa hubungan antara ummul mukminin Aisyah RA dengan Ali bin Abi Thalib RA sangatlah buruk. Mereka ber-ilusi bahwa hubungan buruk itu terjadi dimulai dari peristiwa Hadîtsul Ifki pada tahun 6 H dan puncaknya terjadi pada Waq`atul Jamâl (perang unta) pada tahun 35 H.

Bahkan seorang professor di sebuah universitas Islam membuat pernyataan nyinyir di satu sisi dan ngesok di sisi yang lain saat menyatakan: “saya saja yang jelek begini tidak pernah rebut dengan mertua saya”. Pernyataan ini dilontarkan oleh si professor dalam mengomentari peristiwa perang antara amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA dengan ummul mukminin Aisyah RA.

Bagaimana data-data sejarah yang valid bercerita tentang masalah ini?

Untuk mengetahui klarifikasi terkait masalah ini, ada baiknya seorang muslim/ah membaca kitab: عائشة أم المؤمنين sebuah ensiklopedi besar yang khusus berbicara tentang ummul mukminin Aisyah RA.

Ensiklopedi ini ditulis oleh sekumpulan para ulama di bawah supervisi DR Alawi bin Abdul Qâdir As-Saqqâf dan telah mendapatkan banyak sekali apresiasi dari para ulama dan aktifis dakwah lainnya.

Di antara isi ensiklopedi ini terdapat penjelasan tentang hubungan antara ummul mukminin Aisyah RA dengan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA.

Konten penjelasan dari ensiklopedi itu adalah sebagai berikut:

Intinya, hubungan antara ummul mukminin Aisyah RA dengan Ali bin Abi Thalib RA adalah hubungan yang sangat baik, baik pada zaman Rasulullah SAW masih hidup, maupun setelah Rasulullah SAW wafat. Meskipun di antara keduanya terkadang, sekali lagi terkadang, terjadi perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah, dan meskipun di antara keduanya pernah terjadi “suatu peperangan”.

Data-data sejarah yang valid berikut menjelaskan demikian:

Pada suatu hari, setelah terjadinya Waq`atul Jamâl, datanglah amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengunjungi ummul mukminn Aisyah RA, maka Ali pun bertanya: “apa kabar mu wahai ibunda?”. Maka ummul mukminin Aisyah RA menjawab: “Alhamdulillah dalam keadaan baik”. Maka Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Semoga Allah SWT memberikan pengampunan kepadamu wahai ibunda”. (Ath-Thabarani dalam kitab Tarikh [3/55]). Lihat pula: al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibn Katsir [10/468]).

Imam Ibn Jarir ath-Thabari menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang memberikan isyarat kepada beberapa pasukannya agar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin dilumpuhkan dan dibunuh saat terjadi Waq`atul Jamâl. Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA menyeru kepada mereka: اُعْقُرُوا الْجَمَلَ؛ فَإِنَّهُ إِنْ عُقِرَ تَفَرَّقُوْا (lumpuh dan bunuh itu unta yang dinaiki oleh ummul mukminin, sebab, kalau unta itu terbunuh, niscaya pasukan yang ada di sekelilingnya akan membubarkan diri) [Tarikh Thabari 3/47]. Tafsir atas perintah Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA ini adalah agar ummul mukminin Aisyah RA dalam keadaan selamat, sebab, saat itu unta dan penumpangnya, yaitu ummul mukminin Aisyah RA menjadi pusat sasaran anak panak dari pasukan “gelap” yang menyusup di barisan Ali dan yang menyusup di barisan ummul mukminin. Dan benar saja prediksi Ali bin Abi Thalib RA, bahwa begitu unta tersebut terbunuh dan ummul mukminin terselamatkan, bubarlah pasukan yang mengelilinginya.

Secara simultan, saat amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengeluarkan perintah isyarat untuk membunuh unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah RA, Ali juga memerintahkan kepada Muhammad bin Abu Bakar, yang tidak lain adalah saudara kandung ummul mukminin Aisyah RA dengan dibantu oleh beberapa orang lainnya, agar Muhammad bin Abu Bakar membawa pergi haudaj (“rumah” di atas unta) yang di dalamnya ada ummul mukminin Aisyah RA untuk dibawa pergi menjauh dari pasukan kedua belah pihak, dan Ali bin Abi Thalib memerintahkan kepada Muhammad bin Abi Bakar agar memeriksa haudaj kalau-kalau ada anak panah atau senjata lainnya yang bisa melukai ummul mukminin Aisyah RA. ([Tarikh Thabari 3/73], [al-Bidayah wan-Nihayah 10/468]).
Pada saat Waq`atul Jamâl telah selesai, dan ummul mukminin Aisyah RA hendak meninggalkan kota Bashrah (sebuah kota di Iraq), untuk kembali ke Madinah, amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengirimkan segala yang diperlukan oleh ummul mukminin, mulai dari kendaraan yang akan dinaiki, perbekalan, barang-barang lain yang diperlukan, dan juga pengawalan. Juga 40 wanita Bashrah dari “tokoh-tokoh” wanita Bashrah serta menunjuk Muhammad bin Abu Bakar, saudaranya, agar dia yang menjadi pimpinan pengawal perjalanan ummul mukminin Aisyah RA. Dan pada saat hari keberangkatan tiba,amirul mukminin Ali bin Abi Thalib mendatangi tempat pemberangkatan ummul mukminin Aisyah RA. Setelah semuanya siap, ummul mukminin keluar dari “rumah” tempat keberangkatan, dan berpamitan dengan semua yang hadir, dan berpamitan juga dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA seraya berkata: “wahai putraku, janganlah ada di antara kita yang saling mencela, demi Allah, apa yang pernah terjadi antara aku dan Ali di masa lalu (di masa hidup Rasulullah SAW), tidak lain hanyalah “peristiwa” antara seorang perempuan dengan keluarga (mantu), dan demi Allah, aku bersaksi bahwa Ali termasuk ahlul khair”. Maka Ali RA-pun berkata: “Demi Allah, apa yang ibunda katakan itu benar, tidak terjadi apa-apa antara diriku dengannya kecuali seperti itu, dan sungguh, dia (ummul mukminin) adalah seorang istri nabi kalian di dunia dan di akhirat”. Kemudian ummul mukminin Aisyah berangkat melakukan perjalanan, dan Ali bin Abi Thalib RA mengantarnya sampai beberapa mil jauhnya.

Kalau saja ummul mukminin Aisyah RA ada permusuhan dengan Ali bin Abi Thalib RA, niscaya tidak akan mengucapkan kata-kata seperti itu, dan kalau saja amirul mukminin Ali bn Abi Thalib RA ada permusuhan dengan ummul mukminin Aisyah RA, niscaya ia tidak akan membenarkan ucapan ummul mukminin Aisyah RA. (Kisah lengkap point ini diceritakan oleh Saif bin Umar dalam kitabnya: al-Fitnah wa Waq`atul Jamal, hal. 183. Lihat pula Tarikh Thabari [4/544], al-Muntazhim karya Ibnul Jauzi [5/94], al-Kamil karya Ibnul Atsir [2/614], al-Bidayah wan-Nihayah [10/472]), Nihayatul Arab karya an-Nuwairi [20/50]).

Di saat acara “perpisahan” yang dihadiri banyak orang itu terjadi, ada dua orang hadirin yang mencela ummul mukminin. Yang satu mengatakan: “Semoga Allah SWT membalas pembangkanganmu wahai ummul mukminin!”. Dan yang satunya berkata: “Wahai ummul mukminin, bertaubat lah kamu kepada Allah, sebab kamu telah berbuat salah”.

Berita atas peristiwa celaan ini sampai kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA, maka Ali memerintahkan kepada al-Qa`qâ` bin `Amr untuk menangkap kedua orang itu, lalu kepada masing-masing dari keduanya, Ali bin Abi Thalib memerintahkan agar masing-masingnya didera dengan cambuk sebanyak seratus kali dalam keadaan bertelanjang dada. (al-Kamil [2/614], Nihayatul Arab [20/50]).

Tentang berkecamuknya Waq`atul Jamâl itu sendiri sebenarnya adalah karena ulah dari kalangan yang terlibat dalam pembunuhan amirul mukminin Utsman bin Affan RA, di mana mereka membelah diri dalam dua bagian, sebagian menyusup ke dalam pasukan Ali bin Abi Thalib RA yang lalu menyerang pasukan Aisyah, dan sebagiannya lagi menyusup ke dalam pasukan Aisyah yang lalu menyerang pasukan Ali. Dan mereka melakukan keributan itu di sekitar unta yang dinaiki oleh ummul mukminin Aisyah RA untuk memancing orang-orang di luar mereka agar berperang. Mereka berusaha membunuh ummul mukminin Aisyah RA, namun, kemudian amirul mukminin Ali bin Abi Thalib RA mengetahui siasat mereka itu, dan yang lalu memerintahkan pembunuhan unta dan penyelamatan ummul mukminin seperti tersebut di atas.

Di luar peristiwa Waq`atul Jamâl, hubungan diantara kedua sahabat nabi yang mulia ini sangatlah baik, masing-masing dari keduanya memuji yang lainnya, baik dari sisi ilmu, agama dan kesalihan.

Semoga sedikit kutipan yang saya bahasakan ulang ini memberi pemahaman yang benar. Wallahu’alam.

Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA (dakwatuna/baiti/i-dream)

 

Mengapa Kau Disebut Pedang Allah? Ini Jawaban Khalid bin Walid

 I-Dream RadioShiroh – Seorang Panglima Romawi bernama Gregory penasaran mengapa Khalid bin Walid disebut pedang Allah (syaifullah). Ia mengira, Khalid bin Walid mendapat sebilah pedang dari langit sehingga selalu menang dalam perang.

Pada pekan keempat Agustus 636 M bertepatan dengan pekan ketiga Rajab 15 H, Gregory mendatangi Khalid bin Walid. Saat itu perang Yarmuk belum berakhir, namun ia ingin mendapatkan kejelasan tentang gelar pedang Allah.

“Wahai Khalid,” kata Gregory, “jawablah dengan jujur dan jangan berdusta karena seorang yang merdeka tidak akan berdusta dan jangan pula engkau menipuku karena seorang yang mulia tidak akan menipu orang yang berharap secara baik-baik. Apakah Allah pernah menurunkan sebuah pedang dari langit kepada Nabi-Nya kemudian diberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau hunuskan pada suatu kaum engkau pasti bisa mengalahkannya?”

“Tidak,” jawab Khalid bin Walid.

“Lantas mengapa engkau disebut pedang Allah?”

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya pada kami lalu ia menyeru kami, tapi kami lari dan menjauh darinya. Kemudian sebagian dari kami memercayai dan mengikutinya dan sebagian lagi menjauh dan mendustakannya. Mulanya aku termasuk yang mendustakan, menjauh, bahkan memeranginya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya. Kemudian beliau bersabda, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada kaum musyrikin’.”

Gregory kemudian bertanya tentang Islam kepada Khalid bin Walid. Tak disangka, kuliah singkat di sela-sela perang itu membuat Gregory masuk Islam. (tarbiyah/win/i-dream)

Disarikan dari buku Khalid bin Walid karya Agha Ibrahim Akram.

 

 

Dengarkan Program Inspirasi Keluarga di iDream Radio 1044 AM

Setiap hari pukul 09:00 WIB dan siaran ulang pukul 20:00 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9789-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page : http://facebook.com/idreamradio1044am
Twitter : http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram: http://instagram.com/idreamradio
Website : http://idreamradio.id
Aplkasi Android: http://idreamradio.id/apk

I-DREAM RADIO
💖💖”SUCCESFULL MOSLEM FAMILY”💖💖

Diprotes di depan Umum, Reaksi Umar bin Khattab Ini Sungguh Menakjubkan

I-Dream RadioShiroh – Tak salah jika Michael H Hart memasukkan Umar bin Khattab sebagai salah satu dari 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Keadilan dan kebijaksanaan Umar sungguh menakjubkan dan membuatnya sangat dicintai rakyat. Salah satunya terekam dalam kisah ini.

Umar bin Khattab menyampaikan ceramah di depan rakyatnya. “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemimpin,” kata Umar pada bagian awal ceramah itu.

“Kami tidak akan mendengar dan mentaatimu!,” tiba-tiba salah seorang warga berdiri sembari membantah Umar.

Meskipun semasa jahiliyah Umar bin Khattab terkenal tempramen. Islam telah mengubahnya. Umar bin Khattab tidak marah. Ia ingin menyimak dulu apa alasannya.

“Mengapa?”

“Sebab,” terang orang itu, “engkau membagikan kepada kami masing-masing satu pakaian, sedangkan engkau mengenakan dua pakaian baru.”

Memang sebelum ceramah itu, Umar bin Khattab membagi-bagikan kain. Masing-masing orang mendapat satu kain baru yang bisa dipakai untuk sarung atau baju. Namun dalam kesempatan itu, Umar bin Khattab tampak memakai dua kain baru; satu untuk sarung dan satu untuk baju.

Umar bin Khattab juga tidak marah mendengar alasan pria itu. Meskipun bisa saja seorang pemimpin langsung memarahi pemrotes karena pemimpin yang telah bekerja keras pantas mendapatkan bagian lebih dibandingkan rakyatnya, tidak demikian dengan Umar bin Khattab. Selama ini ia adil dan saat ini pun ia menjaga keadilan itu hingga pada level yang sulit dicontoh siapapun setelahnya.

Umar mengarahkan pandangannya kepada jamaah yang hadir. Ia mencari-cari sesosok lelaki yang bisa memberikan kesaksian tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak langsung menjawabnya sendiri meskipun itu bisa dilakukannya dan takkan ada orang yang menuduhnya berdusta.

Ketika pandangan Umar mengarah kepada seorang ulama muda yang bersahaja, ia memberikan isyarat. “Bangunlah, wahai Abdullah,” kata Umar.

Pemuda itu pun berdiri. Ia tak lain adalah putranya sendiri, Abdullah bin Umar.

“Bukankah engkau yang memberikan baju yang kupakai ini?” tanya sang Amirul Mukminin.

“Benar,” jawab Ibnu Umar.

Ada perubahan raut muka pada lelaki yang memprotes Umar tadi. Ia dan seluruh jamaah kini mengetahui bahwa kain bagian Abdullah bin Umar telah diberikannya kepada sang ayah. Wajar jika Abdullah bin Umar tidak mengenakan pakaian baru.

“Sekarang kami mendengar dan mentaatimu,” kata lelaki itu kemudian duduk dengan tenang menyimak kelanjutan ceramah Umar bin Khattab. (tarbiyah/win/i-dream)

Dengarkan Program Inspirasi Keluarga di iDream Radio 1044 AM

Setiap hari pukul 09:00 WIB dan siaran ulang pukul 20:00 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9789-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page : http://facebook.com/idreamradio1044am
Twitter : http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram: http://instagram.com/idreamradio
Website : http://idreamradio.id
Aplkasi Android: http://idreamradio.id/apk

I-DREAM RADIO
💖💖”SUCCESFULL MOSLEM FAMILY”💖💖