Halal, Haram dan Syubhat dalam Islam

Sebagai Muslim, kita perlu mengetahui halal dan haram menurut Islam. Dalam tulisan berikut akan kami bahas pengertian, contoh, dan mengapa Islam sangat mementingkan kehalalan apa yang kita gunakan.

Dalam hidup, ada hal yang bermanfaat dan ada yang mengandung mudharat (bahaya), ada positif dan ada negatif. Maka juga ada yang halal dan ada yang haram.

Yang bermanfaat dihalalkan oleh Allah SWT. Sedangkan yang mengandung mudharat dan berbahaya diharamkan Allah SWT. Perbedaan antara yang halal dan haram itu sangat jelas.

Namun di samping itu, terdapat juga hal-hal lain yang halal dan haramnya tidak jelas. Hal-hal itu disebut syubhat. Berada pada posisi abu-abu. Dibiarkan Allah SWT, untuk menguji keimanan manusia dalam hidupnya. Kehati-hatian di sini indikasi ketakwaan.

Aturan Syariat Islam

Islam adalah agama yang tegas memilah antara yang baik dan yang buruk. Pemilahan itu terangkai dan terangkum dalam aturan bernama syariat. Syariat ini menjelaskan antara yang baik dan tidak baik, antara yang halal dan haram.

Tujuan adanya syariat adalah untuk menjaga “kepentingan” manusia, agar istikomah pada yang baik dan benar, sehingga derajatnya mulia, di dunia dan akhirat.

arena mulia hati seseorang terletak dari takwanya kepada Allah SWT. Di antara barometer takwa adalah kedisiplinannya terhadap masalah halal-haram, dan hati-hatinya terhadap yang syubhat.

Jika ingin mulia di Sisi Allah SWT, hendaknya tunduk kepada syariat. Dengan penuh keyakinan bahwa haram pasti mudharat, halal pasti baik.

Hati mulia tak mungkin kita raih tanpa komitmen ini. Satu-satunya jalan adalah syariat. Salah jika ingin mulia tanpa melalui syariat.

Apa Itu Halal?

Pengertian halal dalam Islam adalah segala hal yang boleh dalam syariat dalam segala bentuknya. Contohnya makanan dan minuman yang kita konsumsi seperti nasi, roti, madu, daging sapi, susu, dan sebagainya. Atau pekerjaan dan cara mencari rezeki, contohnya bekerja, jual beli, sewa menyewa, dan sebagainya.

Yang halal dalam Islam sangatlah banyak. Kaidah halal adalah “Hukum asal dari muamalah adalah halal, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.”

Cara sederhana untuk mengetahui sesuatu itu halal dalam Islam adalah dengan melihat apakah mengandung madharat (bahaya) atau tidak. Lalu apakah ada hal yang mengandung larangan dalam masalah tersebut atau tidak. Jika tidak mengandung bahaya dan tidak ada larangan, serta membawa maslahat, berarti hal tersebut halal.

Apa Itu Haram?

Definisi haram dalam Islam adalah segala sesuatu yang ada larangannya dalam syariat, memiliki dampak mudharat (bahaya). Baik dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi, contohnya babi, khamar, dan sesuatu yang menjijikkan. Atau dalam pekerjaan dan mencari rizki, contohnya mencuri, korupsi, memakan riba, memakan harta orang dengan cara yang tidak benar, dan sebagainya.

Yang haram dalam Islam jumlahnya relatif sedikit dibandingkan dengan yang halal. Hal-hal haram dalam Islam pada umumnya termaktub secara jelas dan tegas dalam syariat, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Sunnah.

Cara untuk mengetahui yang haram dalam Islam adalah dengan melihat larangan-larangan dalam syariat. Segala yang ada larangannya, atau memiliki dampak negatif (berbahaya) adalah haram hukumnya dalam Islam.

Apa Itu Syubhat?

Sedangkan pengertian syubhat dalam Islam adalah segala hal yang syariat tidak menjelaskan secara jelas; apakah hal tersebut boleh atau tidak? Wilayah syubhat ini merupakan wilayah yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya, sehingga banyak yang jatuh di dalamnya.

Pada hakekatnya syubhat dalam Islam adalah bagian dari yang terlarang. Karena dalam hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa “Barang siapa yang terjerumus pada sesuatu yang syubhat, sesungguhnya ia terjerumus pada sesuatu yang haram.”

Sebaliknya ciri orang yang bertakwa adalah orang yang selalu menjauhkan diri dari syubhat. Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang hamba tidak akan mencapa derajat muttaqin, hingga ia mampu untuk meninggalkan sesuatu yang (seolah) tidak ada apa-apanya, karena khawatir ada apa-apanya.” [HR. Tirmizi].

Maksud, pengertian, dan pembatasan halal haram dalam Islam ternyata sangat jelas. Syariat Islam bertujuan mempermudah dan tidak menyulitkan kehidupan manusia. Oleh karena itu semua makanan misalnya, adalah halal kecuali yang ada larangan mengkonsumsinya. Halal luas, haram sempit. (sof1/mukjizat.co)

 

Sumber: https://mukjizat.co/index.php/2021/03/08/halal-haram-dan-syubhat-dalam-islam/

Gerhana Matahari Dan Bulan Dalam Tinjauan Syariat Serta Hukum Dan Cara Shalat Gerhana

Istilah

Secara istilah, gerhana matahari dan bulan disebut dengan istilah kusuf (كسوف)  atau khusuf (خسوف). Kedua kata tersebut merupakan sinonim yang berarti perubahan pada keduanya dan berkurangnya cahaya padanya. Secara sederhana kita mengartikannya dengan istilah: Gerhana.

Ada pula yang mengatakan bahwa istilah kusuf untuk matahari sehingga disebut ‘kusuf asy-syams’ (gerhana matahari) sedangkan khusuf untuk bulan, sehingga dikatakan ‘khusuf al-qamar’ (gerhana bulan).

Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana

Banyak cerita khurafat dan tahayyul beredar di masyarakat seputar terjadinya gerhana. Namun syariat telah menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang terkandung dibalik terjadinya peristiwa tersebut. Di antaranya adalah:

1-    Menunjukkan salah satu keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha mengatur alam ini.

2-    Untuk menimbulkan rasa gentar di hati setiap hamba atas kebesaran Allah Ta’ala dan azab-Nya bagi siapa yang tidak taat kepada-Nya.

Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا  (رواه البخاري)

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian menyaksikannya, maka hendaklah kalian shalat.” (HR. Bukhari)

Dalam redaksi yang lain, Bukhari juga meriwayatkan,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

“Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya  tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya.. Akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hamba-Nya.” (HR. Bukhari)

Disamping hal ini juga mengingatkan seseorang dengan kejadian hari kiamat yang salah satu bentuknya adalah terjadinya gerhana dan menyatunya matahari dengan bulan, seperti Allah nyatakan dalam surat Al-Qiyamah: 8-9.

وَخَسَفَ الْقَمَرُ . وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ (سورة القيامة)

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan Matahari dan bulan dikumpulkan.” (QS. Al-Qiyamah: 8-9)

Shalat Gerhana

Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan shalat apabila mereka menyaksikan peristiwa gerhana, baik matahari maupun bulan, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits di atas, juga sebagaimana riwayat adanya perbuatan Rasulullah saw tentang hal tersebut.

Para ulama menyimpulkan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunnah. Imam Nawawi rahimahullah  menyatakan bahwa sunahnya shalat gerhana merupakan ijma ulama (Lihat: Syarah Muslim, 6/451). Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa shalat gerhana merupakan sunnah  mu’akkadah/sunnah yang sangat ditekankan (Al-Mughni, 3/330, Fathul Bari, 2/527). Sebagian ulama bahkan menyatakan kewajiban shalat gerhana, karena Rasulullah saw melaksanakannya dan memerintahkannya. Ibnu Qayim menyatakan bahwa pendapat ini (wajibnya shalat gerhana) merupakan pendapat yang kuat. (Kitab Ash-Shalah, Ibnu Qayim, hal. 15).

Di sisi lain, karena jarang kaum muslimin yang mengenal dan melaksanakan shalat gerhana, maka dengan melakukannya maka dia akan mendapatkan keutamaan orang yang menghidupan sunnah.

Adab Shalat Gerhana

1.    Menghadirkan rasa takut kepada Allah saat terjadinya gerhana bulan dan matahari. Baik karena peristiwa tersebut mengingatkan kita akan tanda-tanda kejadian hari kiamat, atau karena takut azab Allah diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan.

2.     Mengingat apa yang pernah disaksikan Nabi saw dalam shalat Kusuf. Diriwayatkan bahwa dalam shalat kusuf, Rasulullah saw diperlihatkan oleh Allah surga dan neraka. Bahkan beliau ingin mengambil setangkai dahan dari surga untuk diperlihatkan kepada mereka. Beliau juga diperlihatkan berbagai bentuk azab yang ditimpakan kepada ahli neraka. Karena itu, dalam salah satu khutbahnya selesai shalat gerhana, beliau bersabda,

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا (متفق عليه)

“Wahai umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Muttafaq alaih)

3.    Menyeru dengan panggilan “Asshalaatu Jaami’ah” . Maksunya adalah panggilan untuk melakukan shalat secara berjamaah. Aisyah meriwayatkan bahwa saat terjadi gerhana, Rasulullah saw memerintahkan untuk menyerukan “Ashshalaatu Jaami’ah” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Tidak ada azan dan iqamah bagi shalat gerhana. Karena azan dan iqamah hanya berlaku pada shalat fardhu yang lima.

4.    Disunahkan mengeraskan bacaan surat, baik shalatnya dilakukan pada siang atau malam hari. Hal tersebut dilakukan Rasulullah saw dalam shalat gerhana (Muttafaq alaih).

5.    Shalat gerhana sunah dilakukan di masjid secara berjamaah. Rasulullah saw selalu melaksanakannya di masjid sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat. Akan tetapi boleh juga dilakukan seorang diri. (Lihat: Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/323)

6.    Wanita boleh ikut shalat berjamaah di belakang barisan laki-laki. Diriwayatkan bahwa Aisyah dan Asma ikut shalat gerhana bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari).

7.    Disunahkan memanjangkan bacaan surat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw dalam shalat gerhana memanjangkan bacaannya. (Muttafaq alaih). Namun hendaknya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kondisi jamaah.

8.    Disunahkan menyampaikan khutbah setelah selesai shalat, berdasarkan perbuatan Nabi saw bahwa beliau setelah selesai shalat naik ke mimbar dan menyampaikan khutbah (HR. Nasa’i). Sejumlah ulama menguatkan bahwa khutbah yang disampaikan hanya sekali saja, tidak dua kali seperti shalat Jumat. Sebagian ulama menganggap tidak ada sunah khutbah selesai shalat. Akan tetapi petunjuk hadits lebih menguatkan disunahkannya khutbah setelah shalat gerhana. Wallahua’lam.

9.       Dianjurkan memperbanyak istighfar, berzikir dan berdoa, bertakbir, memedekakan budak, shalat serta berlindung kepada Allah dari azab neraka dan azab kubur.

Tata Cara Shalat Gerhana

Pelaksanaan shalat gerhana agak berbeda dari shalat pada umumnya. Banyak yang tidak mengetahuinya karena jarang dilaksanakan dan tidak memiliki waktu yang tetap.

Shalat diawali seperti biasa dengan bertakbiratul ihram, lalu membaca doa istiftah, kemudian membaca ta’awwuz (a’uzubillahiminsyaitanirrajim), lalu membaca basmalah, kemudian membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu, membaca surat yang panjang dengan mengeraskan suara.

Selesai membaca surat, melakukan ruku dengan panjang dan mengulang-ulang bacaan ruku. Selesai ruku bangkit dengan membaca  Sami’allahu liman hamidah, kemudian membaca ‘Rabbanaa walakal hamdu.

Setelah itu tidak sujud seperti shalat lainnya, melainkan membaca surat Al-Fatihah lagi, lalu membaca surat lagi yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian ruku kembali dengan lama. Selesai ruku, bangkit kembali dengan membaca Sami’allahu liman hamidahrabbanaa walakal hamdu. Selesai I’tidal, bertakbir untuk sujud. Lalu sujud dengan lama selama rukunya. Lalu dia bertakbir bangun dari sujud dan duduk di antara dua sujud dengan lama selama dia melakukan sujud, kemudian bertakbir lagi untuk sujud dengan lama.

Setelah itu bertakbir untuk bangkit dari sujud dan berdiri untuk rakaat kedua dan melakukan hal yang sama seperti pada rakaat pertama (dua kali membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali ruku serta dua kali sujud).

Setelah itu melakukan tasyahhud dan bersalawat kepada Nabi saw. Kemudian menyudahi shalat dengan salam.

Kesimpulannya, shalat gerhana dalam satu rakaat, ada dua kali berdiri, dua kali membaca Al-Fatihah dan surat, dua kali ruku dan dua kali sujud.

Cara ini dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiallahu anha ketika menjelaskan cara shalat gerhana yang dilakukan Rasulullah saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Muttafaq alaih). Dan cara inilah yang paling kuat dari perbedaan pendapat para ulama tentang hal tersebut. Wallahua’lam.

Waktu Shalat Gerhana

Waktu shalat gerhana berlaku ketika proses gerhana mulai terjadi hingga gerhana selesai. Jika ketika shalat gerhananya selesai, maka lanjutkan shalat dengan mempercepat shalatnya. Jika selesai shalat gerhana, proses gerhana masih berlangsung, tidak perlu melanjutkan shalat lagi, cukup membaca doa dan istigfhar yang banyak. Jika tidak sempat shalat saat terjadi gerhana, maka tidak disunahkan melakukan qodho atasnya.

Wallahu ta’ala A’lam bishshawab…

Pustaka: Shalatul Mu’min, DR. Said bin Ali Al-Qahthani, hafizahullah

(AFS/Manhajuna) http://manhajuna.com

Ini Gharar dan Itu Bukan Gharar

Ini Gharar dan Itu Bukan Gharar

Narasumber: Ustadz Dr. Oni Sahroni, MA

Untuk menonton video kajian – kajian dari I-Dream Radio untuk versi video bisa mengunjungi Channel Youtube : I-Dream TV atau audio di Spotify.com

Dengarkan Program Majelis Iman & islam” di I Dream Radio 1044 AM

atau streaming www.idreamradio.id

Setiap hari Pukul 05:30 WIB dan 13:30 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9888-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page
http://facebook.com/idreamradio1044
Twitter
http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram http://instagram.com/idreamradio
Website
http://idreamradio.id
Aplikasi Android http://idreamradio.id/apk
Telegram t.me/idreamradio
Khitan Bagi Wanita adalah Kemuliaan

Pertanyaan dari pendengar Radio Idream 1044 AM

Pertanyaan:

Saya mempunyai anak perempuan umur 12 tahun belum di khitan, bagaimana di khitan sendiri karena kalau ke dokter biayanya mahal?

Jawab:

Bismilah..
Khitan bagi wanita adalah kemuliaan. Sebagaimana sabda Rosul ”
الختان سنة للرجال مكرمة للنساء
Dengan demikian jika di kerjakan dimuliakan dan jika di tinggalkan tidak berdosa.

Khitan bagi wanita dlm prakteknya tidak boleh mencelakai wanita apalagi menzalimi sehingga kehilangan hak nya saat dewasa kelak sebagai suami istri.
Untuk itulah yang menjadi masalah skrg adalah teknisnya ada yg menciderai bahkan memotong klitoris.

Sehingga pemerintah Indonesia melarang untuk melakukan nya secara menyeluruh, seharusnya dibuat penelitian khitan bagi wanita yang seperti apa yg terbaik…

Jadi, kalo mau melakukan sendiri harus dgn ilmu teknis yg terbaik stlh dicari bukti ilmiah, jika tidak sanggup maka tidak berdosa.

di jawab oleh: Ustadzah Nurhamidah, Lc., M.Ag