Empat Level Membaca Al-Quran

 I-Dream RadioQur’an – “Bacalah…”, “Iqra’…” Perintah pertama, wahyu pertama, dan kunci pertama Allah ajarkan untuk Nabi Muhammad SAW dan Umatnya. Apa artinya?

Ada arti yang luar biasa strategis diinginkan dengan agama Nabi Muhammad SAW ini. Untuk bisa lebih memahami pentingnya perintah membaca ini, mari kita bandingkan Umat Muhammad dengan umat-umat sebelumnya.

Untuk meyakinkan membuat Fir’aun dan kaum Nabi Musa, Allah menunjukkan kemukjizatan yang irasional, yaitu tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Nabi Isa, Allah berikan kemampuan menghidupkan orang mati, membuat orang buta bisa melihat, menyembuhkan penyakit lepra yang di kala itu tidak dapat disembuhkan sama sekali. Bagaimana dengan Umat Muhammad SAW? Rasulullah bersabda:

“Tidak seorang nabi pun melainkan diberikan (mukjizat) yang membuat manusia beriman terhadap hal-hal seperti itu. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Dan aku berharap menjadi (nabi) yang paling banyak pengikutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mukjizat Nabi Muhammad SAW bukan hal-hal yang irasional. Nabi Muhammad mengajak umat manusia beriman atas dasar kerja akal dan proses berpikir rasional. Mari renungkan perintah Allah untuk membaca tersebut:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Apa yang diperintahkan untuk dibaca? Tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Karena yang lebih penting adalah bagaimana proses membaca dilakukan. Sangat banyak hal-hal yang harus dibaca. Supaya proses membaca menjadi efektif dan bermanfaat, Allah ajarkan adalah bagaimana kita membaca. Karena itu secara gamblang Allah jelaskan how to-nya: “Bacalah dengan nama Sang Pencipta.” Proses membaca yang bermanfaat yang mendorong pada keimanan kepada Sang Pencipta. Kegiatan membaca yang efektif adalah membaca yang dimulai dengan keberkahan iman kepada Allah. Allah yang menciptakan manusia. Allah merupakan sumber ilmu. Allah yang dengan murah hati memberikan karunia-Nya kepada hamba-Nya.

Bahan bacaan yang paling baik adalah al-Qur’an. Kualitas bahan bacaan selalu ditentukan oleh kualitas sumbernya. Membaca tulisan yang dikarang seorang pakar di bidangnya tentu jauh bermanfaat dibandingkan tulisan yang dikarang oleh orang awam.  Lalu bagaimana dengan bahan bacaan yang berasal dari Sang Pencipta Langit dan Bumi?

Membaca al-Qur’an berarti mengkonsumsi informasi yang paling berkualitas yang ada pada umat manusia. Membaca al-Qur’an berarti menyerap ilmu yang paling tinggi yang mungkin diraih manusia. Membaca al-Qur’an berarti melakukan peningkatan cakrawala dengan sarana terbaik. Membaca al-Qur’an berarti meningkatkan kualitas diri dengan nara sumber yang paling ideal yang tidak terbayangkan ketinggian kualitasnya.

Ada empat level dalam membaca al-Qur’an. Semuanya penuh berkah dan manfaat. Semakin tinggi level membaca seseorang, semakin besar manfaat yang diperoleh.

Level Pertama: Mengucapkan al-Qur’an dengan Benar

Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para ulama sangat memberikan perhatian yang besar terhadap bagaimana mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an secara baik dan benar. Karena bentuk ideal transfer informasi adalah penyampaian redaksi secara tepat. Kesalahan pengucapan berakibat buruk pada proses transformasi informasi. Kalimat-kalimat ilahi dalam al-Qur’an bukan saja memuat informasi dan ajaran kebenaran dan keselamatan, tetapi juga memuat keindahan bahasa, ketinggian kualitas sastra, serta keagungan suasana ilahiyyah. Karena itu dalam membaca al-Qur’an sangat dianjurkan untuk memperhatikan adab-adabnya, seperti harus dalam keadaan suci, berpakaian menutup aurat, membaca dengan khusyu’, memperindah suara semampunya, dan memperhatikan tajwidnya. Rasulullah SAW bersabda:

“Perindahlah al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR Abu Daud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Al-Qur’an adalah kata-kata dari Allah yang Maha Indah, karena itu semaksimal mungkin kita menerjemahkan keindahan tersebut dengan cara kita membaca. Meskipun demikian bukan berarti mereka yang tidak mampu mengucapkan al-Qur’an dengan fasih mereka tidak boleh membaca al-Qur’an. Cukup bagi seorang mukmin untuk berusaha sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda:

“Orang mahir membaca al-Qur’an, bersama dengan malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur’an terbata-bata dan mengalami kesulitan (mengucapkannya) dia mendapatkan dua pahala.” (HR Muslim)

Subhanallah, ini adalah kemurahan Allah SWT. Yang membaca al-Qur’an dengan penuh kesulitan dan terbata-bata Allah justru memberi dua pahala, yaitu pahala mengucapkan al-Qur’an dan pahala menghadapi kesulitan. Meskipun demikian yang mahir tetap mendapatkan kelebihan derajat yaitu kemuliaan bersama dengan para malaikat.

Level Kedua, Membaca dengan Pemahaman

Maksud dari semua perkataan adalah pemahaman terhadap makna dari perkataan tersebut. Demikian juga al-Qur’an. Allah menurunkan al-Qur’an kepada umat manusia bukan sekadar dibunyikan tanpa dipahami. Al-Qur’an bukanlah mantera-mantera yang diucapkan dengan komat-kamit. Al-Qur’an adalah petunjuk. Dan al-Qur’an tidak akan menjadi petunjuk jika maknanya tidak dipahami. Allah mengecam Ahlul Kitab yang merasa memiliki kitab suci tetapi tidak mengetahui isinya, Allah berfirman:

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS.Al-Baqarah: 78). (dakwatuna/win/i-dream)

Sumber:
Mengapa Kau Disebut Pedang Allah? Ini Jawaban Khalid bin Walid

 I-Dream RadioShiroh – Seorang Panglima Romawi bernama Gregory penasaran mengapa Khalid bin Walid disebut pedang Allah (syaifullah). Ia mengira, Khalid bin Walid mendapat sebilah pedang dari langit sehingga selalu menang dalam perang.

Pada pekan keempat Agustus 636 M bertepatan dengan pekan ketiga Rajab 15 H, Gregory mendatangi Khalid bin Walid. Saat itu perang Yarmuk belum berakhir, namun ia ingin mendapatkan kejelasan tentang gelar pedang Allah.

“Wahai Khalid,” kata Gregory, “jawablah dengan jujur dan jangan berdusta karena seorang yang merdeka tidak akan berdusta dan jangan pula engkau menipuku karena seorang yang mulia tidak akan menipu orang yang berharap secara baik-baik. Apakah Allah pernah menurunkan sebuah pedang dari langit kepada Nabi-Nya kemudian diberikannya kepadamu sehingga setiap kali engkau hunuskan pada suatu kaum engkau pasti bisa mengalahkannya?”

“Tidak,” jawab Khalid bin Walid.

“Lantas mengapa engkau disebut pedang Allah?”

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya pada kami lalu ia menyeru kami, tapi kami lari dan menjauh darinya. Kemudian sebagian dari kami memercayai dan mengikutinya dan sebagian lagi menjauh dan mendustakannya. Mulanya aku termasuk yang mendustakan, menjauh, bahkan memeranginya. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala melembutkan hati kami dan memberi kami petunjuk sehingga kami mengikutinya. Kemudian beliau bersabda, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada kaum musyrikin’.”

Gregory kemudian bertanya tentang Islam kepada Khalid bin Walid. Tak disangka, kuliah singkat di sela-sela perang itu membuat Gregory masuk Islam. (tarbiyah/win/i-dream)

Disarikan dari buku Khalid bin Walid karya Agha Ibrahim Akram.

 

 

Dengarkan Program Inspirasi Keluarga di iDream Radio 1044 AM

Setiap hari pukul 09:00 WIB dan siaran ulang pukul 20:00 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9789-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page : http://facebook.com/idreamradio1044am
Twitter : http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram: http://instagram.com/idreamradio
Website : http://idreamradio.id
Aplkasi Android: http://idreamradio.id/apk

I-DREAM RADIO
💖💖”SUCCESFULL MOSLEM FAMILY”💖💖

Diprotes di depan Umum, Reaksi Umar bin Khattab Ini Sungguh Menakjubkan

I-Dream RadioShiroh – Tak salah jika Michael H Hart memasukkan Umar bin Khattab sebagai salah satu dari 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Keadilan dan kebijaksanaan Umar sungguh menakjubkan dan membuatnya sangat dicintai rakyat. Salah satunya terekam dalam kisah ini.

Umar bin Khattab menyampaikan ceramah di depan rakyatnya. “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemimpin,” kata Umar pada bagian awal ceramah itu.

“Kami tidak akan mendengar dan mentaatimu!,” tiba-tiba salah seorang warga berdiri sembari membantah Umar.

Meskipun semasa jahiliyah Umar bin Khattab terkenal tempramen. Islam telah mengubahnya. Umar bin Khattab tidak marah. Ia ingin menyimak dulu apa alasannya.

“Mengapa?”

“Sebab,” terang orang itu, “engkau membagikan kepada kami masing-masing satu pakaian, sedangkan engkau mengenakan dua pakaian baru.”

Memang sebelum ceramah itu, Umar bin Khattab membagi-bagikan kain. Masing-masing orang mendapat satu kain baru yang bisa dipakai untuk sarung atau baju. Namun dalam kesempatan itu, Umar bin Khattab tampak memakai dua kain baru; satu untuk sarung dan satu untuk baju.

Umar bin Khattab juga tidak marah mendengar alasan pria itu. Meskipun bisa saja seorang pemimpin langsung memarahi pemrotes karena pemimpin yang telah bekerja keras pantas mendapatkan bagian lebih dibandingkan rakyatnya, tidak demikian dengan Umar bin Khattab. Selama ini ia adil dan saat ini pun ia menjaga keadilan itu hingga pada level yang sulit dicontoh siapapun setelahnya.

Umar mengarahkan pandangannya kepada jamaah yang hadir. Ia mencari-cari sesosok lelaki yang bisa memberikan kesaksian tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak langsung menjawabnya sendiri meskipun itu bisa dilakukannya dan takkan ada orang yang menuduhnya berdusta.

Ketika pandangan Umar mengarah kepada seorang ulama muda yang bersahaja, ia memberikan isyarat. “Bangunlah, wahai Abdullah,” kata Umar.

Pemuda itu pun berdiri. Ia tak lain adalah putranya sendiri, Abdullah bin Umar.

“Bukankah engkau yang memberikan baju yang kupakai ini?” tanya sang Amirul Mukminin.

“Benar,” jawab Ibnu Umar.

Ada perubahan raut muka pada lelaki yang memprotes Umar tadi. Ia dan seluruh jamaah kini mengetahui bahwa kain bagian Abdullah bin Umar telah diberikannya kepada sang ayah. Wajar jika Abdullah bin Umar tidak mengenakan pakaian baru.

“Sekarang kami mendengar dan mentaatimu,” kata lelaki itu kemudian duduk dengan tenang menyimak kelanjutan ceramah Umar bin Khattab. (tarbiyah/win/i-dream)

Dengarkan Program Inspirasi Keluarga di iDream Radio 1044 AM

Setiap hari pukul 09:00 WIB dan siaran ulang pukul 20:00 WIB

Follow sosial media kami:

Whatsapp & Telpon: 0822-9789-1044 , 021-7888-5300
Facebook Page : http://facebook.com/idreamradio1044am
Twitter : http://twitter.com/idreamradio1044
Instagram: http://instagram.com/idreamradio
Website : http://idreamradio.id
Aplkasi Android: http://idreamradio.id/apk

I-DREAM RADIO
💖💖”SUCCESFULL MOSLEM FAMILY”💖💖