Panduan Fiqh bagi para Pecinta Kucing

Siapa yang tahan dengan hewan lucu berjuluk anabul ini. Kucing dengan mantra di selembar wajah imutnya telah berhasil menyihir jutaan manusia dari masa ke masa. Walau kelakuannya kadang menyebalkan, kucing tetap banyak dipelihara untuk dijadikan perhiasan di dalam rumah.

Memelihara kucing hukumnya diperbolehkan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Kucing itu tidaklah najis, (karena) sesungguhnya ia hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR. An-Nasa’i)

Bagi para pecinta kucing, selain harus menjaga kesehatan anabul, juga harus memperhatikan hukum dan aturan agama yang terkait dengan kucing.

Lalu apa sajakah hukum-hukum yang berkaitan? berikut adalah beberapa permasalahan fiqh seputar kucing.

Hukum jual beli kucing

Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi berkata:

بَيْعُ الْهِرَّةِ الْأَهْلِيَّةِ جَائِزٌ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا إِلَّا مَا حَكَاهُ الْبَغَوِيُّ فِيْ كِتَابِهِ فِيْ شَرْحِ مُخْتَصَرِ الْمُزَنِي عَنْ ابْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ قَالَ لَا يَجُوْزُ وَهَذَا شَاذٌّ بَاطِلٌ مَرْدُوْدٌ وَالْمَشْهُوْرُ جَوَازُهُ وَبِهِ قَالَ جَمَاهِيْرُ الْعُلَمَاءِ

Artinya, “Jual beli kucing jinak hukumnya boleh, tidak diperselisihkan dalam madzhab kami (Syafi’yah), kecuali yang dihikayatkan oleh Al-Baghawi dalam kitabnya Syarah Mukhtashar Al-Muzani dari Ibnul ‘Ash bahwa hukumnya tidak boleh, namun pendapat ini nyleneh, tidak benar, dan tertolak. Yang masyhur adalah kebolehannya, dan merupakan pendapat mayoritas Ulama.”

Dalam kitab Raudhatut Thalibin, Imam Nawawi berkata:

وَمِنْهَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْهِرَّةِ. قَالَ الْقَفَّالُ: الْمُرَادُ: الْهِرَّةُ الْوَحْشِيَّةُ، إِذْ لَيْسَ فِيهَا مَنْفَعَةُ اسْتِئْنَاسٍ وَلَا غَيْرِهِ

Artinya, “Di antara (transaksi yang dilarang), bahwa Nabi melarang menjual kucing. Al-Qaffal berkata: yang dimaksud (dari hadits ini) adalah kucing buas, karena tidak memberi manfaat persahabatan tidak pula yang lainnya.”

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa menjual atau membeli kucing hukumnya sah dan boleh, selama yang diperdagangkan bukanlah kucing buas. Karena, kucing buas tidak memiliki sifat bersahabat dengan manusia. Padahal sifat bersahabat inilah yang dilihat sebagai nilai kebermanfaatan sebagai syarat sahnya jual beli.

Hukum air bekas jilatan kucing

Dalam kitab Raudhatut Thalibin, Imam Nawawi mengatakan:

سُؤْرُ الْهِرَّةِ طَاهِرٌ، لِطَهَارَةِ عَيْنِهَا، وَلَا يُكْرَهُ، فَلَوْ تَنَجَّسَ فَمُهَا، ثُمَّ وَلَغَتْ فِي مَاءٍ قَلِيلٍ فَثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ. الْأَصَحُّ أَنَّهَا إِنْ غَابَتْ وَاحْتُمِلَ وُلُوغُهَا فِي مَاءٍ يُطَهِّرُ فَمَهَا، ثُمَّ وَلَغَتْ، لَمْ تُنَجِّسْهُ، وَإِلَّا نَجَّسَتْهُ. وَالثَّانِي: تُنَجِّسُهُ مُطْلَقًا. وَالثَّالِثُ: عَكْسُهُ. قُلْتُ: وَغَيْرُ الْمَاءِ مِنَ الْمَائِعَاتِ، كَالْمَاءِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Artinya, “Air bekas jilatan kucing suci karena kucing sendiri dihukumi suci, tidak pula makruh.

Namun, bila di mulutnya terdapat najis lalu menjilat air yang sedikit (kurang dari 216 L), maka terdapat tiga pendapat.

Yang paling kuat (dalam madzhab syafi’i) adalah kalau kucing itu pergi terlebih dahulu sehingga ada kemungkinan ia menjilat air yang dapat mensucikan mulutnya, lalu menjilat (air yang sedikit tadi) maka tidak menjadikannya najis, namun bila tidak (pergi terlebih dahulu sehingga tidak ada kemungkinan membersihkan mulutnya) maka (jilatannya) menjadikannya najis.

Pendapat kedua, (mengatakan) secara absolut menjadikannya najis. Pendapat ketiga, (mengatakan) sebaliknya.

Menurut saya, benda cair selain air (hukumnya) seperti air (dalam kasus jilatan kucing). Wallahu A’lam.”

Dalam Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَقِيلَ إنْ طَالَ الْفَصْلُ كَانَ طَاهِرًا جَعْلًا لِرِيقِهَا مُطَهِّرًا لِفَمِهَا لِأَجْلِ الْحَاجَةِ وَهَذَا قَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَد وَهُوَ أَقْوَى الْأَقْوَالِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Artinya, “Dikatakan, bila jeda waktunya lama (antara bekas najis di mulut kucing dan waktu menjilat air) maka hukumnya suci, karena ludahnya dianggap mensucikan mulutnya dengan alasan hajat. Pendapat ini adalah pendapat segolongan Ulama Madzhab Hanafi dan Hanbali, dan merupakan pendapat paling kuat, Wallahu A’lam.”

Bila kucing menjilat air, seperti air di wadah minum kucing, atau ember berisi air untuk bersuci atau mencuci, apakah hukumnya menjadi najis sehingga harus dibuang karena tidak suci lagi?

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa selama tidak diketahui ada najis di mulut kucing, seperti ketahuan habis berburu tikus, atau menjilat kotorannya, maka air yang dijilat tidaklah najis.

Namun, bila terbukti bahwa ada najis di mulut kucing maka segera bersihkan mulutnya dengan air mengalir, atau bila si kucing terlanjur menjilat air atau pakaian kita, maka perhatikan, apakah kucing itu pergi dari pandangan kita sehingga terbuka kemungkinan ia telah mencuci mulutnya di air banyak? Ataukah waktunya cukup lama sejak najis berada di mulutnya sehingga liurnya membersihkannya? Bila dua kemungkinan ini terjadi maka air tidak menjadi najis. Namun bila tidak, semisal kucing baru saja berburu tikus lalu menjilat air, maka airnya menjadi najis karena pengaruh najis yang ada di mulut si kucing.

Hukum bulu kucing yang rontok

Dalam kitab Busyral Karim disebutkan:

(وَالْجُزْءُ الْمُنْفَصِلُ مِنَ الْحَيِّ كَمَيْتَتِهِ) طَهَارَةً وَنَجَاسَةً، فَمَا انْفَصَلَ مِنْ آدَمِيٍّ أَوْ سَمَكٍ أَوْ جَرَادٍ طَاهِرٌ، أَوْ مِنْ غَيْرِهِ فَنَجِسٌ كَمَيْتَتِهِ

Artinya, “Bagian tubuh yang terpisah dari makhluk hidup (dihukumi) seperti (hukum) bangkainya baik suci ataupun najis, sehingga yang terpisah dari manusia, ikan, atau belalang (hukumnya) suci, sedangkan yang selainnya maka najis seperti (hukum) bangkainya.

Karena mayat manusia, bangkai ikan dan belalang hukumnya suci, oleh sebab itu bagian dari tubuhnya yang terpisah juga dihukumi suci, hal ini berlainan dengan hukum bangkai selain 3 makhluk tadi, yang dihukumi najis, termasuk kucing.

Dalam kitab Hasyiah Bajuri disebutkan:

وَخَرَجَ بِالْمَأْكُوْلِ غَيْرُهُ كَالْحِمَارِ وَالْھِرَّةِ فَشَعْرُهُ نَجِسٌ لَكِنْ يُعْفَى عَنْ قَلِيْلِهِ بَلْ وَعَنْ كَثِيْرِهِ فِىْ حَقِّ مَنْ ابْتٌلِيَ بِهِ كَالْقَصَّاصِيْنَ

Artinya, “Tidak sama hukumnya hewan yang bisa dimakan dengan yang selainnya, seperti keledai dan kucing, sehingga hukum bulunya najis, namun kalau sedikit masih ditolerir, bahkan kalau banyak sekalipun bagi orang yang kesulitan dengannya (juga ditolerir) seperti tukang cukur.

Dapat disimpulkan bahwa bulu kucing selama masih menempel di tubuhnya dihukumi suci. Namun, bila terpisah semisal karena rontok atau dicabut maka dihukumi najis.

Akan tetapi kadar kenajisan bulu kucing masih ditolerir bila jumlahnya terbilang sedikit, maka tidak mengapa bila ada sedikit bulu menempel di pakaian shalat.

Atau malahan dalam kondisi khusus, semisal orang yang memelihara kucing berbulu panjang yang sedang rontok sehingga sulit dihindari, atau tukang cukur bulu hewan walau sudah berusaha dibersihkan namun masih saja ada yang menempel, maka najis ini masih ditolerir selama ada usaha untuk membersihkannya.

Hukum kotoran kucing

Najis di luar najis berat (yaitu anjing dan babi) dan najis ringan (yaitu air seni bayi laki-laki yang masih ASI eksklusif) dikategorikan najis pertengahan, termasuk di dalamnya adalah kotoran kucing, yakni kencing dan poopnya, sehingga cara mensucikan benda yang terkena kotoran kucing adalah dengan mencucinya menggunakan air thahur (air murni yang suci mensucikan).

Adapun liur, tahi mata, dan kotoran telinganya, selama tidak bercampur dengan darah, nanah, atau najis lainnya maka hukumnya suci.

Sebagaimana keumuman sabda Nabi ﷺ,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Kucing itu tidaklah najis, (karena) sesungguhnya ia hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR. An-Nasa’i)

Hukum memberi makan kucing

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا، إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ

Artinya, “Ada seorang wanita diadzab karena seekor kucing yang dikurung sampai mati, sehingga karenanya ia masuk neraka, ia tidak memberinya makan tidak pula memberinya minum ketika mengurungnya, tidak pula melepasnya untuk makan serangga atau hewan-hewan di tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bila anda sudah berkomitmen ingin memelihara kucing di dalam rumah, maka anda berkewajiban untuk memerhatikan makanan dan minumannya. Karena mengurung kucing dan membiarkannya kelaparan termasuk perbuatan zhalim dan dosa besar, sebagaimana ancaman yang terdapat pada hadits di atas.

Sebaliknya bagi orang yang berbuat baik kepada kucing, atau makhluk hidup lainnya, maka pahala besar telah menanti atas perbuatan ihsan yang dilakukannya.  

Dalam suatu hadits,

” بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي، فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ العَطَشُ، فَنَزَلَ بِئْرًا، فَشَرِبَ مِنْهَا، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ، فَقَالَ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي، فَمَلَأَ خُفَّهُ، ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ، ثُمَّ رَقِيَ، فَسَقَى الكَلْبَ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَائِمِ أَجْرًا؟ قَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Artinya, “Suatu ketika ada seseorang yang tengah berjalan, lalu ia merasa haus sehingga turun ke sumur untuk minum darinya kemudian keluar, tiba-tiba ia mendapati seekor anjing yang tengah menjilat-jilat tanah karena kehausan, ia berkata: anjing ini merasakan apa yang aku rasakan, sehingga ia memenuhi sepatunya dengan air dan membawanya dengan mulutnya, lalu ia beri minum anjing tersebut, Allah bersyukur kepadanya sehingga mengampuni dosa-dosanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami mendapat pahala bila berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab: “Di setiap hati yang basah (makhluk hidup) pahala.” (HR. Bukhari)

(sumber gambar: unsplash)

Hukum makanan kucing yang mengandung babi

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ mengatakan,

وَلَهُ إِطْعَامُ الْعَسَلِ الْمُتَنَجِّسِ لِلنَّحْلِ وَالْمَيْتَةِ لِلْكِلَابِ وَالطُّيُوْرِ الصَّائِدَةِ وَغَيْرِهَا وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ الْمُتَنَجِّسِ لِلدَّوَابِّ هَذَا مَذْهَبُنَا

Artinya, “Boleh memberikan madu yang bercampur najis sebagai pakan lebah, dan bangkai untuk pakan anjing, burung pemburu, dan hewan lainnya, begitu juga memberi makanan bercampur najis untuk hewan-hewan berkaki empat, ini adalah madzhab kami (madzhab syafi’i).”

Dari keterangan ini dapat disimpulkan bolehnya memberi makan kucing peliharaan dengan produk pakan yang mengandung najis, seperti babi atau bangkai hewan yang tidak disembelih dengan cara yang syar’i.

Lalu muncul pertanyaan selanjutnya, bolehkah membeli produk makanan kucing yang mengandung babi?

Bila dzat yang dihukumi najis itu menjadi komponen utama, maka haram dan tidak sah jual belinya. Namun, bila dzat najis itu sedikit maka masih ditolerir.

Dalam kitab Al-Asybah wa An-Nazhair, Imam As-Suyuthi mengatakan suatu kaidah:

يُغْتَفَرُ فِي الشَّيْءِ ضِمْنًا، مَا لَا يُغْتَفَرُ فِيْهِ قَصْدًا

Artinya, “Sesuatu dapat dimaafkan bila jadi bagian dari hal lain, namun tidak dimaafkan bila menjadi tujuan utama.”

يُغْتَفَرُ فِيْ التَّوَابِعِ مَا لَا يُغْتَفَرُ فِي غَيْرِهَا

Artinya, “Sesuatu dapat dimaafkan bila hanya mengikuti, namun tidak dimaafkan bila selainnya.”

Dalam produk makanan kucing yang mengandung sedikit dzat najis maka masih diperbolehkan, mengingat dzat tersebut bukan tujuan utama dari barang yang diperjualbelikan.

Semoga penjabaran yang singkat ini bermanfaat, sehingga anabul kita selain menjadi sahabat juga menjadi investasi pahala untuk bekal di akhirat.

Wallahu A’lam

Fahmi Aziz

The post Panduan Fiqh bagi para Pecinta Kucing appeared first on bersholawat.id.