Kalau Tidak Sedang Berhayal, Tentu Anda Percaya Kebenaran Al-Qur’an

Al-Qur’an dan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ akan terus eksis di muka bumi, senantiasa menjadi pelita bagi umat manusia, terus abadi hingga dunia berhenti berputar.

Besarnya kekuatan para pembenci Islam, besarnya ambisi mereka untuk melenyapkan Al-Qur’an, menjadi salah satu rintangan dari banyak rintangan yang akan dihadapi para pelopor kebaikan dari kalangan kaum Muslimin, yang berdiri di garda terdepan sebagai pelindung Kitabullah di muka bumi.

Sejarah mencatat, betapa besar usaha yang dikerahkan untuk proyek pemusnahan Al-Qur’an, dan sebaliknya betapa rentan barisan kaum muslimin yang biasanya diisi oleh orang-orang yang lemah.

Bagaimana Al-Qur’an bisa bertahan hingga hari ini, adalah validasi dan bukti nyata bahwa Al-Qur’an adalah benar firman Allah, benar berasal dariNya.

Di dalam banyak ayat, Allah ﷻ menjamin bahwa Al-Qur’an akan terus ada dan terjaga, utuh seperti sediakala ia diturunkan. Allah ﷻ berfirman,

 كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ەۗ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءً ۚوَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ

“Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan”. (QS. Ar-Ra’d: 17)

تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ – وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ِۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun”. (QS. Ibrahim: 24-25)

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Bila kita cermati latar historis ayat-ayat di atas, maka dapat ditelusuri bahwa ia turun ketika periode Mekkah, yakni sebelum Rasulullah ﷺ dan para Sahabat hijrah ke Madinah untuk kemudian menggalang kekuatan.

Kondisi dakwah periode Mekkah seperti yang kita ketahui bersama, penuh dengan tekanan dan penindasan dari para penguasa kala itu.

Berbagai bentuk pemboikotan terhadap Al-Qur’an baik sekedar untuk mendengarkannya ataupun menyebarluaskannya berlaku dimana-mana.

Berbagai ancaman dan tindakan represif yang tidak manusiawi dari para penguasa lalim gencar dilakukan terhadap orang-orang beriman kala itu, yang jumlahnya terbilang sedikit dan lemah dari segi ekonomi, kedudukan, dan aspek sosial lainnya.

Dirasa tidak cukup untuk menghentikan persebaran ajaran Islam, para penguasa di kota Mekkah pun melakukan embargo dan blokade terhadap keluarga dan kabilah yang menyokong dakwah Nabi Muhammad ﷺ.

Tidak berhenti sampai di situ, para pembenci sampai-sampai melakukan konspirasi pembunuhan yang menarget Nabi ﷺ sebagai kutub dari pergerakan dakwah kaum Muslimin. konspirasi dilakukan dengan bermacam cara, baik yang dilakukan secara diam-diam maupun terang-terangan.

Dengan iklim yang begitu mencekam, yang terjadi hampir setiap hari selama sepuluh tahun masa dakwah di masa Mekkah, lantas kita bertanya-tanya.

Apakah tepat dan masuk akal dalam kondisi seperti itu malah memupuk kepercayaan diri bahwa ajaran Islam akan terus eksis, Al-Qur’an akan terus ada dan terjaga? Bahkan diajarkan sebagai bagian dari ayat suci yang diimani kebenarannya?

Sungguh dibutuhkan keyakinan yang tidak sekedar berlandaskan pada kepercayaan diri semata.

Anggaplah bahwa ada kepercayaan diri yang lahir, dengan asumsi selagi mampu dan masih hidup maka Nabi akan berjuang bagaimanapun caranya agar Al-Qur’an dan ajaran Islam terus terjaga, namun siapa yang dapat menjamin bahwa Nabi akan terus hidup di tengah krisis keamanan kala itu? Siapa yang menjamin bahwa selepas wafatnya orang-orang beriman tidak akan berbalik arah sehingga Al-Qur’an akan musnah dan lenyap selamanya?

Bagaimana bisa timbul keyakinan yang begitu kuat, sementara Nabi ﷺ tahu dan sadar resiko apa yang harus ditanggung oleh para pelopor perubahan? Bahkan tidak ada jaminan keberhasilan dari perjuangannya, bukankah ada begitu banyak sayup-sayup kebenaran namun hilang begitu saja karena tersapu gelombang penyimpangan?

Melihat kota Mekkah dan jazirah Arab yang terisolir, tidakkah pernah terpikir ada berapa banyak kota besar yang pernah berdiri, kemudian runtuh dan punah, tidak tersisa kecuali puing-puingnya saja?

Berapa banyak Nabi-Nabi yang berakhir dengan cara terbunuh? Berapa banyak kitab suci yang kemudian berkurang, dirusak, atau menghilang?

Mempertimbangkan hal-hal ini, apakah kemudian ada yang ingin mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok yang mabuk dalam angan-angannya sehingga hidup dalam hayalan yang dibuatnya sendiri?

Ketahuilah bahwa sebelum diangkat menjadi Rasul, Beliau tidak sedikitpun berambisi untuk menjadi seorang Nabi ataupun diturunkan wahyu kepadanya.

Allah ﷺ berfirman,

وَمَا كُنْتَ تَرْجُوْٓا اَنْ يُّلْقٰٓى اِلَيْكَ الْكِتٰبُ اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ ظَهِيْرًا لِّلْكٰفِرِيْنَ

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Qashash: 86)

Bahkan beliau terheran-heran dan tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya di Goa Hira, sampai-sampai beliau mendatangi seorang Rahib pembaca kitab (yakni Waraqah bin Naufal).

Lalu muncul pertanyaan, bila keyakinan tentang keterjagaan Al-Qur’an tidak lahir dari hayalan dan angan-angannya, apakah bisa dikatakan bahwa keyakinan ini berangkat dari kepercayaan akan kemampuan diri untuk menjaga Al-Qur’an agar tidak lenyap? Ternyata ini juga tidak tepat.

Lihatlah bagaimana tergesa-gesanya Nabi ﷺ dahulu ketika menghafal Al-Qur’an dari Jibril, karena khawatir ada wahyu yang terlewat.

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖ – اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ

“Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16-17)

Kekhawatiran ini semula muncul karena Nabi mengira dirinyalah yang menjaga Al-Qur’an.

Dipertegas lagi bahwa Beliau tidak bisa menjamin bahwa wahyu akan terus datang kepadanya, Beliau juga tidak bisa menjamin bahwa wahyu yang dihapalnya tidak akan lenyap.

وَلَىِٕنْ شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهٖ عَلَيْنَا وَكِيْلًأ

“Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan engkau tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami,” (QS. Al-Isra: 86)

Maka dapat disimpulkan, pastilah ada pihak lain yang menjamin keabadian Al-Qu’ran. Tentu bukan makhluk, karena bila makhluk yang menjaga tentu akan menemui masalah yang sama dengan yang dihadapi Rasulullah ﷺ. Lalu, siapakah yang mampu menjamin terjaganya wahyu walaupun zaman terus bergulir dengan berbagai macam misteri dan kejutan yang dikandungnya?

Dialah Allah Tuhan Yang Maha Menguasai segala yang terjadi di alam semesta, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala hal, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi,

Kalau bukan karena rahmat Allah dan penjagaan dariNya, tentulah Al-Qur’an tidak mampu bertahan hingga hari ini, bertahan dari berbagai serangan dan upaya-upaya dahsyat yang sangat berambisi untuk memusnahkannya.

Mari sejenak kita berefleksi pada sejarah. Kita patut bertanya!

Berapa sering negeri-negeri Islam berada dalam kondisi terdesak dan tertindas?

Berapa sering orang-orang jahat berkuasa penuh atas orang Islam? bahkan sampai pada taraf mampu melakukan pembantaian terhadapnya?

Berapa sering kaum muslimin dipaksa untuk meninggalkan agamanya?

Berapa banyak perpustakaan dihancurkan, buku-buku dijarah dan dibakar?

Berapa banyak masjid-masjid dihancurkan?

Berbagai macam kekuatan destruktif yang begitu besar ini, tentulah bila diambil secuil saja sanggup dengan mudah untuk memusnahkan seluruh atau sebagian Al-Qur’an dari muka bumi, seperti halnya nasib kitab-kitab suci umat terdahulu.

Kalau bukan karena penjagaan Allah, bukan sesuatu yang sulit untuk melenyapkan Al-Qur’an dari muka bumi.

Kita patut merenungi, berapa banyak biaya yang telah digelontorkan setiap harinya untuk menjalankan proyek penghapusan Al-Qur’an, penyesatan dalam memahaminya, pencorengan, kebohongan, penyelewengan, dan berbagai upaya lain, namun semua gagal dan sia-sia belaka.

Sungguh Maha Benar Allah yang telah berfirman,

 اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗفَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُوْنَ ەۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ يُحْشَرُوْنَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 36)

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 33).

Dengan bertahannya Al-Qur’an sampai detik ini, sungguh telah membuktikan kebenaran Al-Qur’an bahwa ia berasal dari Allah. Suara-suara miring akan terus didengungkan. Narasi-narasi fiktif tentang Al-Qur’an akan terus menjalar ke ruang-ruang publik. Kalau tidak sedang berhayal, tentulah orang-orang akan meyakini kebenaran Al-Qur’an.

Wallahu A’lam

Fahmi Aziz

Islam, Iman, Al-Qur’an, Muslim, Aqidah

The post Kalau Tidak Sedang Berhayal, Tentu Anda Percaya Kebenaran Al-Qur’an appeared first on bersholawat.id.