Bolehkah Mengambil Untung dari Bisnis Kesehatan Saat Pandemi?

Hukum Meraup Untung dari Bisnis Kesehatan di Masa Pandemi

Mahalnya biaya rapid test di tanah air menjadi perbincangan hangat netizen. Bagaimana tidak, faktanya seringkali harga tiket pesawatnya jauh lebih murah ketimbang tarif RT-PCR yang disyaratkan untuk menempuh penerbangan domestik dan internasional. Bahkan pembahasannya bergulir di persidangan DPR RI sehingga memaksa Presiden untuk meninjau kembali kebijakan terkait hal tersebut.

Dari sisi bisnis pula, profesi sebagai dokter atau tenaga medis dan kesehatan pada sektor swasta dan wirausaha, dinilai sebagai salah satu pihak yang diuntungkan. Di saat pandemi covid-19 ini surat keterangan dokter atau pun hasil rapid test diperlukan oleh masyarakat yang berpergian ke luar kota.

Meskipun jasa pemeriksaan rapid test tarifnya sudah diatur oleh kementerian kesehatan, namun bagi sebagian mukmin yang berkecimpung dalam dunia bisnis kesehatan tetap saja menimbulkan pertanyaan terkait dengan hukum meraup keuntungan dari situasi wabah covid-19.

Lalu bagaimana sebenarnya aturan syariat tentang hal tersebut?

Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir sekaligus pakar ekonomi syari’ah dan juga anggota Dewan Syariah Nasional MUI pusat, Dr. Onie Sahroni, MA. memberikan penjelasan sebagai berikut:

Pertama, hukum dasar dari bisnis kesehatan adalah mubah (diperbolehkan), ini dikarenakan fakta bahwa bisnis tersebut jelas-jelas membantu, berkontribusi dan memberikan solusi bagi mereka yang ingin memastikan kondisi kesehatannya bebas dari virus covid-19. Di sisi lain bisnis ini juga bagian dari upaya memitigasi penularan terhadap keluarga dan masyarakat umum.

Dari itu, selama niat dan tujuannya baik sesuai syariat maka sarana yang digunakan juga baik. Sikap husnudzon kita kedepankan bahwa setiap orang yang datang ke faskes untuk rapid test, menggunakan hasilnya itu untuk hal-hal postif. Seperti untuk memastikan dirinya itu terhindar dari virus covid-19 atau untuk memenuhi persyaratan perusahaan atau juga perjalanan domestik dan internasioanal.

Hal ini sebagaimana kaidah ushul:

الْوَسَائِلُ لَهَا أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ

Artinya: “Sarana-sarana itu memiliki hukum yang sama dengan tujuannya”.

Dengan demikian jelas bahwa Jika hasil rapid test digunakan untuk kepentingan yang baik, maka usaha untuk menyediakan fasilitas rapid test juga termasuk dalam kebaikan.

Kedua, Allah ﷻ berfirman:

…وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ…

Artinya “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…”(QS. Al-Maidah: 2).

Sebagaimana diketahui umum, Rapid test merupakan bagian dari usaha untuk tolong menolong dalam kebaikan. Ajaran Islam telah menjelaskan bahwa memastikan kesehatan badan dengan ikhtiar rapid test ialah bagian dari tuntunan syariat. Karena memang Allah ﷻ memerintahkan kita untuk membangun dan merawat imunitas tubuh.

Ketiga, sepanjang tarif yang ditetapkan kepada pasien oleh faskes, dokter atau pihak berwenang lainnya telah sesuai dengan kesepakatan, tarifnya normal, maka transaksi bisnis tersebut hukumnya mubah (diperkenankan) baik dalam kondisi pandemi atau pun normal. Demikian pula transaksi lainnya seperti biaya pendidikan, transportasi di masa pandemi.

Seluruh hal tersebut diperbolehkan ketika tarif yang diberikan bersifat lazim dan sesuai kesepakatan sebagaimana hadits Rasulullah ﷺ:

وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

Dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi)

Wallahu’alam

Abi Kenji

The post Bolehkah Mengambil Untung dari Bisnis Kesehatan Saat Pandemi? appeared first on bersholawat.id.