I-Dream RadioOase — Jangan bergantung kepada atasan, orangtua, guru, gelar, pangkat, pengalaman, dan segala sesuatu selain Allah. Ikhtiar adalah kewajiban lahir dan akal, sedangkan kewajiban hati adalah tauhid.

Saudaraku, Allah yang menciptakan kita. Dia pula yang menciptakan keperluan dan memiliki apa yang kita perlukan. Hanya Allah yang bisa mengizinkan kita bertemu dengan apa yang diperlukan dalam hidup ini. Oleh sebab itu, mulai sekarang kita harus belajar tahapan bertawakal kepada-Nya.

Tahapan pertama adalah belajar tentang asma Allah. Yaitu harus mengenal terlebih dulu siapa Pencipta, Pemilik, dan Pemberi segala sesuatu. Kita harus tahu saja dulu, walau belum sampai ke tingkat yaqin.

Tahapan kedua adalah belajar menyempurnakan ikhtiar. Ini penting. Jangan sampai merasa mengenal Allah, tapi tidak  menyempurnakan ikhtiar. Seperti yang mau ujian di sekolah, tapi tidak mau belajar. “Saya yakin Allah Mahatahu semua soal dan jawaban ujian besok, dan Allah Maha Penolong.” Yang begini perkataannya benar, tapi dia belum mengenal Allah. Dia baru mengetahui asma Allah. Kalau mengenal Allah pasti tahu siapa yang akan ditolong-Nya.

“Maka sembahlah Dia dan bertawakalah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hûd [11]: 123)

Jadi, ada pergerakan. Dari awal kita sudah tahu tentang Allah dengan ilmu makrifat. Namun kita harus tetap maksimal,misalnya belajar, bekerja, dan berobat. Karena ikhtiar adalah ibadah. Kita harus menyempurnakan ikhtiar.

Tahapan ketiga adalah mulai memantapkan di hati untuk bertauhid. Artinya, tidak ada yang menolong saya selain Allah. Jadi, setelah sempurna berikhtiar, lalu copotlah ia dari hati. Bahwa yang menentukan hasilnya bukanlah ikhtiar kita, tapi hanya Allah. Jangan bergantung kepada atasan, orangtua, guru, gelar, pangkat, pengalaman, dan segala sesuatu selain Allah.

Ikhtiar adalah kewajiban lahir dan akal, sedangkan kewajiban hati adalah tauhid.

Seperti berdagang, setelah selesai menyiapkan segala sesuatunya dengan bagus, ikhtiar sudah sempurna, maka yakin bahwa yang menggerakkan orang belanja adalah Allah. Atau ketika ingin melamar, sesudah siap semuanya, maka harus mantap kalau yang menentukan jodoh bukan calon mertua, tetapi Allah.

Tahapan keempat adalah mulai menyandarkan sepenuhnya kepada Allah. Setelah yakin Allah yang menentukan, sekarang harus bersandar kepada-Nya. Ibarat seorang anak yang terus mendekap ke pangkuan ibunya. Jadi, kita sudah tahu dan yakin Allah satu-satunya pemberi rezeki, maka mulai menyandarkan diri kepada-Nya. Hanya Dia yang berkuasa menolong kita.

Dan, tahapan kelima adalah berbaik sangka kepada Allah. Bahwa apa pun yang diberikan Allah untuk kita, pasti baik. Kalau sudah sampai pada derajat atau tahapan ini, kita bakal rida terhadap takdir. Logikanya, mungkinkah Allah berbuat zalim kepada hamba-Nya? Tidak mungkin!

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 216).

Kalau kita sudah berbaik sangka kepada Allah, maka tidak ada kecewa. Apa yang buruk dari Allah bagi kita? Tidak ada! Kalau sudah bisa sampai pada tahapan terakhir ini, maka hidup pun pasti enak. Tidak ada galau, risau, sedih apalagi putus asa terhadap apa yang dijalani karena Allah Mahabaik. Begitulah seharusnya kita bertawakal.

KH. Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid/baiti/i-dream)

Komentar
Load More Related Articles
  • Awali Dakwah dengan Kasih Sayang

    I-Dream Radio — Oase — Terhadap semuanya itu kita harus tetap tenang. Berbaik …
  • Berbaik Sangka kepada Allah

    I-Dream Radio — Oase — Ujian yang Allah berikan tidak lain hanyalah untuk keba…
  • Sukses Itu Sederhana

    I-Dream Radio — Oase — Kalau kita simak hadis-hadis tentang akhlakul kharimah,…
Load More In KH. Abdullah Gymnastiar
Comments are closed.

Check Also

Inspirasi Keluarga “Kesehatan Dan Kebugaran” _ Hidup Berkualitas

Sudahkah berkualitas hidup kita?bagaimana standar hidup yang sehat,bugar,berkualitas dan b…